"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Daerah  

Di Balik Gedung Tinggi, Kampung Kebon Melati Pertahankan Ruang Hijau

Jakarta yang Berbeda: Kampung Kebon Melati yang Tetap Hijau

Di tengah kota Jakarta yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit, ada satu kampung kecil yang masih mempertahankan suasana alami dan hijau. Kampung Kebon Melati, berada di Kelurahan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, menjadi contoh nyata bahwa ruang hijau bisa tetap eksis meskipun berada di jantung kota.

Lingkungan yang Terjaga

Kampung ini terletak tepat di belakang kawasan elite Thamrin. Dari Jalan KH Mas Mansyur menuju Dukuh Pinggir V, suasana berubah secara drastis. Jalan raya yang padat kendaraan berganti dengan gang sempit yang hanya cukup untuk satu mobil. Di sepanjang gang, rumah-rumah warga berdiri rapat, dengan teras kecil, jemuran pakaian, dan pot tanaman yang menghiasi depan rumah.

Meskipun berada di pusat kota, nuansa hijau masih terasa kuat. Pot tanaman hias, tanaman obat, dan bahkan pohon pisang tumbuh subur di pekarangan warga. Pepohonan yang rindang membuat udara lebih sejuk dibandingkan area sekitarnya. Di beberapa titik, sinar matahari terhalang dedaunan, menciptakan lorong sejuk di tengah cuaca yang terik.

Ruang Publik yang Dirawat Warga

Di salah satu sisi kampung, aliran air dari Waduk Melati terlihat mengalir tenang. Jalur setapak berpaving di sepanjang waduk dimanfaatkan warga sebagai ruang bersama. Bangku sederhana, taman kecil bertuliskan “Taman Dugar RW 06”, serta pagar warna-warni menjadi penanda upaya warga merawat ruang publik di lingkungan mereka.

Kampung Kebon Melati berada di lokasi strategis. Selain berdampingan langsung dengan Waduk Melati, kampung ini hanya berjarak sekitar satu kilometer dari Bundaran HI, dekat Stasiun Karet, serta tidak jauh dari jalur MRT. Namun, di balik kedekatannya dengan pusat aktivitas ekonomi Jakarta, kampung ini masih mempertahankan wajah permukiman lama dengan ikatan sosial yang kuat.

Perubahan di Sekitar Kampung

Menurut Andi, Ketua RT 008 RW 06, perubahan besar di sekitar kampung mulai terasa sejak awal 2000-an. “Kalau ditanya sejak kapan kawasan ini mulai berubah, pembangunan besar-besaran di sekitar sini mulai sekitar tahun 2004,” ujar dia. Sejak saat itu, gedung-gedung tinggi mulai berdiri, sementara kampung tetap bertahan di ruang yang semakin terhimpit.

Ada warga yang tidak mau pindah karena harga tanah tidak cocok atau memang sudah nyaman tinggal di sini. Keberadaan ruang hijau di RW 06 bukan hasil proyek besar atau program korporasi. Menurut Andi, semuanya berawal dari program lingkungan yang diikuti RW beberapa tahun lalu, lalu berkembang menjadi kesadaran kolektif warga.

Pengelolaan Sampah yang Mandiri

Pengelolaan lingkungan menjadi perhatian utama warga RW 06. Di sejumlah sudut kampung terlihat tempat penampungan botol plastik yang dikunci sebagai bagian dari pemilahan sampah. Spanduk larangan membakar dan membuang sampah sembarangan terpasang di dinding kampung, lengkap dengan rujukan Perda DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2013.

RW 06 mengelola sampah secara mandiri. Sampah plastik masuk ke bank sampah, sementara sampah organik rumah tangga diolah menggunakan maggot. Setiap hari bisa mengolah sekitar 40 kilogram sampah organik. Maggot yang dihasilkan dijual ke pemancing atau dimanfaatkan untuk pakan ikan dan ayam. Selain itu, warga juga mengenal kebiasaan “sedekah sampah”.

Gerakan Lingkungan yang Dimulai dari Sederhana

Ketua RW 06, Yudha Praja, menyebut gerakan lingkungan di wilayahnya berawal dari persoalan sederhana: sampah. “Tahun 2015 kami cuma ingin memperbaiki lingkungan, terutama soal sampah,” ujar dia. Ia memilih memberi contoh langsung. Setiap pagi, Yudha menyapu lingkungan. Ia meminta warga minimal menyapu halaman rumah masing-masing.

Dari situlah ruang-ruang kosong berubah menjadi taman, tempat duduk, dan ruang kegiatan warga. Kampung ini juga berkembang sebagai Kampung Sinema. Awalnya, warga membuat film dokumenter untuk keperluan ProKlim. Namun, film tersebut dikemas lebih cair dan diikutsertakan dalam festival.

Minimnya Peran Pemerintah

Di balik berbagai inovasi warga, Yudha menilai dukungan pemerintah masih minim. Ia juga mengkritik sistem pengelolaan sampah Jakarta yang dinilai belum serius. Menurut Yudha, pengelolaan seharusnya dilakukan di tingkat kecamatan agar tidak semua sampah dibebankan ke Bantargebang.

Bertahan dengan Hijau

Bagi Ria (32), ibu rumah tangga yang telah puluhan tahun tinggal di Kebon Melati, keberadaan ruang hijau menjadi alasan utama bertahan. “Walaupun ini pusat kota, rasanya beda. Tidak seperti Jakarta yang panas banget. Di sini masih adem karena banyak pohon,” kata Ria saat ditemui di depan rumahnya.

Ria berharap ruang hijau di Kebon Melati bisa terus dijaga. “Pusat kota boleh maju, tapi ruang hijau tetap harus ada,” kata Ria.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *