"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Daerah  

Misi Kemanusiaan Tagana Pangandaran di Sumut, Evakuasi Korban dan Bangun 11 Kamp Darurat

Misi Kemanusiaan Tagana Pangandaran di Lokasi Bencana Sumatera Utara

Tagana Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Pangandaran telah menjalani misi kemanusiaannya selama dua pekan di lokasi bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara. Sebelumnya, mereka juga telah membantu para korban bencana longsor di Majenang dan Banjarnegara, Jawa Tengah.

Nana Suryana, Ketua Tagana Pangandaran, mengungkapkan bahwa sejumlah anggota, termasuk dirinya, diberangkatkan untuk membantu penanganan para korban banjir dan longsor di beberapa daerah di Sumatera Utara. “Ada tujuh anggota Tagana dari Pangandaran, termasuk saya, yang diberangkatkan untuk melakukan penanganan para korban banjir dan longsor di Sumatera Utara,” ujar Nana saat diwawancarai melalui telepon.

Medan Sulit dan Akses Terisolir di Sibolga-Tapanuli Tengah

Daerah pertama yang disinggahi adalah Kabupaten Langkat. Nana dan rekan-rekannya bergabung dengan relawan lainnya untuk membantu evakuasi para korban banjir bandang ke tempat yang aman. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan ke Sibolga dengan menempuh perjalanan sekitar 24 jam melintasi daerah Aceh. Kondisi medan yang sulit dan dipenuhi material longsor serta kayu gelondongan yang terbawa banjir memaksa mereka membuka akses jalan untuk menjangkau para korban yang masih terisolir.

Sibolga, yang berada di pesisir pantai sebagai daerah penghasil ikan, juga terdampak banjir dan longsor. “Kita harus membuka akses jalan yang sudah tertimbun material longsor dan tumpukan kayu golondongan untuk menjangkau para korban yang masih terisolir. Kami membuka dapur umum,” ujar Nana.

Tidak hanya di Langkat dan Sibolga saja, Nana bersama teman-temannya juga harus menempuh perjalanan ke lokasi bencana di Tapanuli Tengah. Menurut Nana, daerah ini merupakan lokasi banjir dan longsor yang terparah. Bahkan, untuk mengisi BBM pun harus mengantri selama 24 jam.

Pengalaman yang Mengiris Hati

Sesampainya di lokasi, Nana dihadapkan dengan pemandangan kayu gelondongan yang bertumpuk menutup aliran sungai sehingga air membanjiri ruas jalan. “Karena sungainya sudah tertutup tumpukan kayu gelondongan, sehingga air yang di sungai mengalir ke jalan,” ujar Nana.

Pengalaman yang tidak bisa dilupakan menurut Nana adalah ketika sampai di daerah perbukitan, ia melihat ada seorang anak kecil karena ditinggal ibunya yang menjadi korban meninggal akibat banjir dan longsor, sementara bapaknya jauh entah dimana. “Saya langsung menangis melihat anak itu dan memberinya uang seratus ribu satu-satunya yang tersisa di saku celana,” ucapnya lirih.

Membangun Camp dan Dapur Umum

Di Tapanuli Tengah, Nana dan rekan-rekannya ditugaskan untuk membuat camp pengungsian. Sekarang sudah ada 11 camp pengungsian yang didirikan. Satu camp bisa menampung 30 orang. “Sekarang sudah ada 300 warga korban banjir dan longsor di camp pengungsian yang harus dilayani untuk menyiapkan makanan dan minuman melalui dapur umum,” ujar Nana.

Bahkan, saat ini sedang memasang lampu penerangan tenaga surya karena aliran listrik masih padam serta memasang Starlink untuk memudahkan komunikasi. “Kami masih menunggu pengiriman peralatannya dari Kementerian Sosial,” ujar Nana.

Kebutuhan Logistik yang Masih Kurang

Menurut Nana, bantuan logistik masih kurang. “Untuk membeli bahan makanannya saja seperti telur harganya bisa mencapai satu juta yang biasanya empat ratus ribu untuk sepuluh papan. Bahan makanan masih mahal,” kata Nana.

Melihat dari pengalamannya di lokasi bencana, Nana mengajak masyarakat, khususnya di Kabupaten Pangandaran, untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan. “Karena fungsi hutan sangat penting untuk menjaga lingkungan dari bahaya bencana banjir dan longsor,” ucapnya.

Ucapan Terima Kasih dan Harapan

Nana juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemprov Sumut yang telah bersinergi dengan para relawan, termasuk anggota Tagana Pangandaran, dalam upaya penanganan para korban banjir dan longsor di daerahnya hingga kondisi saat ini mulai berangsur pulih. “Alhamdulillah sekarang kondisinya sudah mulai membaik. Mudah-mudahan Nataru besok bisa pulang ke Pangandaran untuk berkumpul dengan keluarga,” harapnya.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *