"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Daerah  

Meski Rumah Hancur, Susiani Selalu Ucap Syukur Keluarga Selamat

Kondisi Memprihatinkan di Kecamatan Tukka Pasca Banjir Bandang

Kondisi memprihatinkan masih terlihat jelas di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut, setelah 19 hari dilanda banjir bandang. Wilayah ini masih jauh dari kata pulih. Air bersih dan listrik masih sangat terbatas bagi warga.

Amatan yang dilakukan menunjukkan bahwa jalanan di kawasan Tukka masih berlumpur. Hal ini disebabkan oleh bekas-bekas lumpur yang sebelumnya menutup badan jalan diletakkan ke bagian sisi kanan dan kiri jalan. Saat hujan, lumpur yang berada di kedua sisi kembali ke jalanan.

Banjir juga masih terlihat di sejumlah badan jalan, tepatnya beberapa ratus meter menuju Kelurahan Hutanabolon. Air masih mengalir deras. Sepeda motor tak bisa melintas. Mobil pun hanya tipe tertentu yang bisa melintas. Di sepanjang jalan, terlihat sejumlah warga mencuci pakaian dengan air keruh berwarna kecokelatan. Selain itu, ada juga warga yang mencuci perkakas makan menggunakan air bercampur lumpur.

Di Kelurahan Hutanabolon, yang termasuk kawasan ujung dari Kecamatan Tukka, listrik masih padam. Kondisi ini kian memprihatinkan karena terlihat hanya ada 2 alat berat yang bekerja. Satu alat berat mengangkut kayu-kayu gelondongan yang menyumbat sungai di jembatan Kampung Martua. Sedangkan alat berat lainnya difungsikan untuk membuka akses jalan dari Lorong 4, Kelurahan Hutanabolon, ke desa di atasnya yang juga dipenuhi kayu gelondongan.

Banjir berpotensi terjadi lagi jika hujan mengguyur kawasan ini. Pasalnya, aliran sungai dari Kelurahan Hutanabolon hingga ke jembatan Kampung Martua masih tertutup lumpur.

Berdasarkan data dari situs infobencana Tapteng, di Kecamatan Tukka terdapat 31 korban meninggal dunia dan 26 orang belum ditemukan atau hilang.

Ucapan Syukur Meski Terasa Getir

Salah satu warga terdampak ialah Susiani, perantau asal Kota Medan yang sudah 15 tahun menetap di Dusun IV, Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka. Dusun IV Kelurahan Hutanabolon termasuk salah satu lokasi dengan kerusakan terparah akibat banjir bandang pada 25 November lalu. Akses ke dusun ini terputus total.

Susiani kehilangan rumah yang sudah belasan tahun ia tempati bersama suami dan anak-anaknya. Rumah miliknya hancur tak tersisa disapu banjir bandang yang membawa kayu gelondongan, lumpur, dan batu gunung berukuran besar.

Meski terasa getir, Susiani berkali-kali mengucap kata syukur ketika mengenang peristiwa tersebut. Ia bersyukur karena dirinya dan seluruh anggota keluarga selamat dari musibah ini. Saat terjadi banjir, Susiani dan keluarganya naik ke daerah yang lebih tinggi.

Meski begitu, penderitaan pascabencana seperti tak berkesudahan bagi Susiani. Ia dihadapi masalah kebutuhan pangan dan kesehatan yang mulai menurun. Untuk mendapatkan bantuan, ia harus berjalan kaki selama 1 jam karena akses menuju lokasinya saat ini masih terputus. Sepanjang perjalanan, ia harus melewati aliran air, kayu gelondongan, dan batu-batu gunung sisa banjir.

“Rumah terbawa arus, gak ada lagi. Kain, semuanya gak ada yang tersisa,” kata Susiani, Sabtu (13/12/2025). “Saya tinggal di rumah keluarga yang gak kena banjir. Tapi mau ke mana-mana pun susah,” sambungnya.

Ketika ditemui, Susiani sedang memikul beras, pembalut dan kebutuhan sehari-hari yang disumbangkan kepada korban bencana. Mengenakan pakaian lusuh, kakinya cepat melangkah melewati batu dan kayu.

Untuk tempat tinggal, Susiani dan keluarganya sempat tinggal di posko pengungsian. Namun, kondisi di posko pengungsian juga memprihatinkan. Air merembes dari bawah tenda pengungsian. Ia beserta suami dan anak-anaknya keluarganya akhirnya memutuskan menumpang ke rumah keluarga, tak jauh dari rumahnya yang hancur.

Akan tetapi, kebutuhan makanan seperti lauk pauk masih sangat terbatas. Sehari-harinya mereka makan mi instan. Sesekali mengonsumsi ikan sarden atau ikan asin hasil pemberian orang lain.

Ia tak bisa membendung air matanya ketika mengingat ucapan anak bungsunya yang ingin makan ikan segar. Pada momen ini, Susiani sebagai orang tua merasa gagal memberi makanan layak kepada anak-anaknya.

“Pernah anakku bilang, ‘Mak, mau makan ikan kami.’ Bagaimana mau beli ikan, terkadang berjalan kaki pun susah,” ucapnya lirih. “Entah bencana apa yang diberikan ke kami. Makan kami kadang ikan asin, sarden, yang diberikan orang,” sambungnya.

Masalah lainnya ialah kondisi kesehatan yang mulai menurun. Pascabencana, kedua anaknya sakit demam, disusul mertuanya. Untuk berobat memang sudah ada posko. Tetapi akses menuju ke lokasi begitu berat.

Susiani berharap musibah ini segera berakhir. Pemerintah bergerak cepat untuk membantu kebutuhan para korban.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *