Sejarah Singkat Guru Djason Saragih, Bapak Pendidikan Simalungun
Guru Djason Saragih atau dikenal juga sebagai Guru Jason Saragih adalah sosok penting dalam sejarah pendidikan di Simalungun. Ia dijuluki sebagai pelopor pendidikan di Tanah Habonaron do Bona pada masa ketiadaan guru pribumi pada awal abad ke-19. Kiprahnya telah dianggap layak untuk diajukan sebagai Pahlawan Nasional oleh masyarakat.
Sarmedi Purba, Ketua Partuha Maujana Simalungun (PMS), menjelaskan bahwa Guru Jason Saragih adalah sosok revolusioner dalam bidang pendidikan. Ia memiliki peran besar dalam memajukan pendidikan dan budaya masyarakat Simalungun. Menurut Sarmedi, literatur tentang sosok ini sudah banyak tersedia, termasuk kisahnya yang pernah sekolah ke Depok, Jawa Barat, dan menjadi tokoh penting dalam dunia pendidikan masyarakat Simalungun.
Latar Belakang Kelahiran dan Awal Kehidupan
Berdasarkan catatan sejarah, Jason Saragih lahir dengan nama asli Anggaharim Saragih pada tahun 1883 di Naga Kesiangan, yang saat ini menjadi bagian dari Kabupaten Serdangbedagai. Ia dilahirkan dari ayah bernama Balim Saragih dan ibu Urow br Purba. Anggaharim tumbuh dalam lingkungan tradisional Simalungun, belajar aksara Simalungun serta ilmu supranatural.
Di masa kecilnya, Anggaharim sempat belajar di Tebingtinggi saat kolonial Belanda memerintah wilayah tersebut. Saat itu, Simalungun sedang berperang melawan Belanda. Setelah kembali ke Naga Kesiangan, ia memimpin padepokan silat Simalungun (dihar).
Pada tahun 1902, Anggaharim bergabung dalam rombongan Kontroleur Westenberg, pejabat pemerintah Hindia Belanda, dari Bangun Purba menuju Seribudolok dan Pematang Raya. Di sini, ia bertemu dengan sepupunya Djarap Saragih. Dari pertemuan ini, Anggaharim mulai mengajar keponakan dan anak-anak di daerah tersebut tentang baca tulis huruf latin dan silat selama 3,5 tahun.
Perjalanan Karier dan Kontribusi dalam Pendidikan
Pada tahun 1909, Anggaharim melamar pekerjaan di proyek pembangunan jalan di Simalungun. Ia menjadi mandor dengan gaji 17,5 gulden. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai mengenal agama Kristen saat guru-guru zending dari Tapanuli berkunjung ke Simalungun sejak tahun 1903.
Pada tahun 1911, Anggaharim bertemu dengan August Theis, seorang misionaris Jerman yang diutus oleh RMG ke Tanah Batak. August Theis adalah penginjil Eropa pertama yang diutus ke Simalungun. Dari pertemuan ini, Anggaharim mendapatkan rekomendasi untuk kembali sekolah guru ke Depok. Meskipun gaji sebagai mandor cukup besar, ia rela meninggalkannya demi menempuh pendidikan sebagai guru.
Anggaharim kemudian dibaptis dengan nama Djason Saragih dengan kerelaan penuh. Ia dikabarkan dibaptis bersama 9 anak-anak dari Simalungun. Dengan nama baru Djason Saragih, ia menjadi guru di Depok selama empat tahun (1911–1915). Selama masa ini, ia bergabung dengan banyak pelajar dari seluruh nusantara, sehingga wawasan dan nasionalismenya berkembang.
Peran Penting dalam Pendidikan Simalungun
Pada tahun 1915, Jason Saragih menjadi guru bantu di Sekolah Rakyat milik Zending RMG di Pematang Raya. Sebagai orang Simalungun asli, ia memberikan pemahaman pelajaran lewat bahasa Simalungun, yang mana saat itu Bahasa Toba lebih umum digunakan. Guru Jason menjadi penyampai informasi yang disukai oleh anak-anak di Raya saat itu. Banyak orangtua yang semula menolak sekolah justru berbalik mendukung kehadiran sekolah.
Puncaknya, Guru Djason diangkat menjadi Kepala Sekolah Zending Vervolg School di Pematang Raya pada tahun 1929. Di sini, ia berhasil menumpas keterbelakangan akademis orang-orang Simalungun masa itu.
Kontribusi dalam Budaya dan Agama
Guru Jason juga berperan penting dalam kemajuan budaya Simalungun. Bersama Pendeta J Wismar Saragih (Pendiri Gereja GKPS), mereka sempat mendirikan lembaga kebudayaan. Jason juga berperan dalam mengalihbahasakan Alkitab versi Terjemahan Toba menjadi Alkitab versi Simalungun. Hasilnya, banyak warga Simalungun dapat memahami Alkitab dengan mudah, sehingga agama Kristen pun mulai diterima di Simalungun.
Dengan 43 tahun menjadi guru, ketokohan Jason Saragih semakin menggema. Ia mendapatkan banyak penghormatan baik dari warga lokal Simalungun maupun murid-muridnya yang sukses di perantauan.
Kematian dan Penghargaan
Jason Saragih wafat di Medan pada 30 Maret 1963 dalam usia 80 tahun. Ia dimakamkan di Pematang Raya dengan penuh penghormatan dari pemerintah daerah dan pemimpin militer.
Pada tahun 1963, Bupati Simalungun Radjamin Purba mengesahkan Guru Jason Saragih sebagai Pelopor Bapak Pendidik Simalungun lewat SK Bupati/KDH Simalungun – Pematangsiantar No.305/1963-Uod.











