Kondisi Penghuni Huntara Kapalo Koto Menjelang Lebaran 2026
Lebaran adalah momen yang penuh makna bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi warga Minangkabau yang memiliki tradisi khas dalam merayakannya. Namun, bagi para penyintas banjir bandang di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, tahun 2026 akan menjadi momen yang berbeda. Meskipun air bah yang menghancurkan telah surut, dampak psikologis dan ekonomi masih terasa dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Trauma dan Kebiasaan Berubah
Kehidupan di Hunian Sementara (Huntara) Kapalo Koto tidak lagi sepenuhnya seperti dulu. Biasanya, bulan Ramadhan menjadi waktu untuk mempersiapkan kue-kue tradisional dan memasak rendang yang menjadi simbol kebersamaan. Kini, fokus para warga lebih pada bertahan hidup di tengah kondisi yang sulit.
Murni, salah satu warga terdampak, menjelaskan bahwa persiapan Lebaran kali ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. “Kami tidak lagi fokus ke urusan kue-kue, tapi lebih memikirkan bagaimana ekonomi ke depan,” ujarnya saat ditemui di Huntara Kapalo Koto, Sabtu (14/3/2026).
Kehilangan Sawah dan Rumah
Banjir bandang yang terjadi beberapa bulan lalu tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga menghancurkan sumber penghidupan keluarga Murni. Sawah yang selama ini menjadi penghasilan utama kini terkubur material lumpur dan bebatuan. Rumah yang menjadi tempat tinggal pun lenyap, menyisakan lahan yang tidak bisa dihuni dalam waktu dekat.
“Semua sawah maupun rumah disapu banjir, tidak bisa dipakai lagi. Segalanya harus dimulai dari nol, sementara modal yang tersisa nyaris tidak ada,” kata Murni dengan nada getir.
Kondisi ini diperparah dengan mulai menipisnya bantuan dari berbagai pihak. Ia menyadari bahwa uluran tangan para dermawan dan pemerintah tidak akan berlangsung selamanya. Ketergantungan pada bantuan bukanlah solusi jangka panjang.
Lebaran Tanpa Aroma Rendang
Ija, warga lainnya yang juga menghuni kompleks Huntara, mengaku bahwa tradisi Lebaran yang identik dengan memasak rendang kini menjadi kemewahan yang sulit dijangkau. “Untuk merendang, tahun ini belum tentu. Kami masih terkendala masalah ekonomi dan masih beradaptasi dengan suasana yang sekarang,” katanya.
Rendang, yang biasanya menjadi simbol kegembiraan dan kebersamaan, kini tergeser oleh kebutuhan yang lebih mendesak, seperti biaya pendidikan anak dan kebutuhan pokok harian yang harganya terus merangkak naik.
Ija mengaku bahwa transisi dari kehidupan normal di rumah sendiri menuju kehidupan di bilik Huntara bukanlah perkara mudah. Adaptasi lingkungan dan psikologis masih menjadi tantangan harian bagi para pengungsi.
“Tahun ini kami hanya bisa memperbanyak sabar dan ikhlas. Raya tahun ini tentu akan terasa sangat berbeda dibandingkan sebelumnya,” tambahnya.
Harapan Kepastian Pemulihan Ekonomi
Meski demikian, semangat untuk bertahan hidup tetap menyala di antara dinding-dinding kayu Huntara. Warga mulai mencoba mencari celah usaha baru, meski dengan keterbatasan alat dan ruang gerak yang ada.
Solidaritas antarwarga di Huntara Kapalo Koto juga menjadi kekuatan tersendiri. Di tengah kesulitan, mereka saling menguatkan, berbagi beban cerita, dan mencoba merajut kembali harapan yang sempat hanyut terbawa arus banjir bandang.
Kini, warga hanya berharap adanya kebijakan pemerintah yang lebih konkret terkait pemulihan lahan pertanian mereka atau penyediaan lapangan kerja baru. Bagi mereka, bantuan logistik mungkin mengenyangkan untuk sehari, namun kepastian ekonomi adalah jalan untuk menyambung hidup selamanya.
Lebaran di Kapalo Koto tahun ini mungkin akan sunyi dari aroma rendang dan tawa renyah di ruang tamu. Namun, di sana ada keteguhan hati yang luar biasa dari orang-orang yang memilih untuk bangkit di tengah puing-puing bencana.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.










