"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Daerah  

Temuan DPRD Sulsel: Jalan Hertasning Hanya Tebal 4 Sentimeter

Kritik terhadap Pekerjaan Pengaspalan Jl Letjen Hertasning

Ketebalan aspal di Jl Letjen Hertasning, Kota Makassar, Sulawesi Selatan hanya sekitar 4 sentimeter. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran dan kritik dari Anggota Komisi D DPRD Sulsel. Menurut mereka, pekerjaan proyek tersebut dinilai tidak profesional dan kurang memenuhi standar teknis yang ditetapkan.

Ketua Komisi D DPRD Sulsel, Kadir Halid, menyampaikan bahwa hasil kunjungan kerja ke lokasi proyek menunjukkan adanya ketidakprofesionalan dalam pelaksanaan pekerjaan. Ia menyoroti bahwa konsultan pengawas atau manajemen konstruksi (MK) tidak memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai MK.

Kadir Halid didampingi oleh beberapa anggota komisi D lainnya seperti Lukman B Kady, Aan Nugraha, Abdul Rahman, dan Muh Sadar. Mereka melakukan peninjauan proyek Jl Hertasning sepanjang 1,8 kilometer. Jalan ini merupakan salah satu ruas jalan arteri utama di Makassar yang menghubungkan kawasan Panakkukang dan Rappocini hingga perbatasan Kabupaten Gowa.

Selain menjadi jalur mobilitas harian masyarakat, ruas jalan ini juga menjadi penopang aktivitas ekonomi, pendidikan, serta akses menuju kawasan permukiman padat di wilayah selatan Kota Makassar. Kadir Halid menjelaskan bahwa saat anggota komisi D menanyakan berbagai aspek teknis pekerjaan, mulai dari komposisi campuran material hingga spesifikasi pelaksanaan, konsultan pengawas tidak mampu memberikan penjelasan yang memadai.

“Anggota tanya-tanya semua, bagaimana campurannya dan sebagainya, mereka tidak tahu. Ini tentu menjadi catatan serius bagi kami,” ujarnya.

Selain itu, Kadir Halid juga mempertanyakan hasil pekerjaan yang disebut telah selesai, tapi hanya memiliki ketebalan aspal sekira 4 sentimeter. Menurutnya, Komisi D DPRD Sulsel akan mengukur ulang untuk memastikan apakah ketebalannya sesuai dengan perencanaan dan spesifikasi teknis proyek.

“Ini dianggap sudah selesai, ketebalan hanya 4 sentimeter. Nanti kami ukur, benar tidak sesuai perencanaannya,” tegas Kadir Halid.

Penentuan Skala Prioritas yang Kurang Tepat

Kadir Halid juga menyoroti penentuan skala prioritas pengerjaan jalan yang dinilai kurang tepat. Menurutnya, beberapa titik jalan yang mengalami kerusakan lebih parah justru belum menjadi prioritas penanganan.

“Harusnya jalan yang betul-betul rusak parah, seperti depan Kampus Patria Arta, itu diprioritaskan. Ini akan menjadi evaluasi kami,” katanya.

Kadir Halid menegaskan bahwa kunjungan lapangan tersebut memang telah dijadwalkan oleh Komisi D DPRD Sulsel sebagai bagian dari fungsi pengawasan. Memastikan komisi D akan meninjau seluruh paket pekerjaan jalan yang menjadi tanggung jawab Pemprov Sulawesi Selatan.

“Kami sudah jadwalkan dan akan mengunjungi semua, tidak hanya di Hertasning,” ujarnya.

Proyek Preservasi Jalan yang Masih Berlangsung

Proyek jalan yang ditinjau merupakan bagian dari pekerjaan preservasi yang saling terhubung sejumlah ruas lainnya. Rangkaian proyek tersebut mencakup ruas Jl Hertasning hingga Jl Aroepala, Jl HM Yasin Limpo, Burung-burung–Bili-bili, hingga tersambung ke kawasan Malino, Sinjai, dan Bulukumba.

Proyek Jl Hertasning sendiri merupakan bagian dari Preservasi Paket I yang mulai dikerjakan sejak 17 Desember 2025. Total nilai kontrak Preservasi Paket I mencapai Rp430,7 miliar, dengan penanganan sepanjang 300,24 kilometer. Proyek tersebut dikerjakan oleh kontraktor preservasi jalan PT Permata Tristar Kharisma KSO.

Perbaikan ruas Jl Hertasning–Aroepala sendiri telah lama dikeluhkan masyarakat. Selama ini penanganan yang dilakukan dinilai hanya bersifat sementara, seperti pemasangan paving block di sejumlah titik jalan yang rusak.

Pemprov Klaim Perbaikan Sesuai Spesifikasi

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memastikan proyek perbaikan jalan, termasuk ruas Hertasning sesuai spesifikasi teknis yang ditetapkan. Pemprov juga menegaskan pekerjaan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi cuaca agar kualitas aspal tetap terjaga.

Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Sulsel, Andi Ihsan, mengatakan pihaknya tidak ingin memaksakan pekerjaan saat curah hujan tinggi. Menurutnya, kondisi cuaca sangat berpengaruh terhadap kualitas pengaspalan.

Ia menjelaskan aspal merupakan material yang sangat sensitif terhadap air. Curah hujan tinggi dapat membuat air meresap ke dalam pori-pori maupun retakan halus pada lapisan aspal. Kondisi tersebut dapat melemahkan ikatan antara aspal dan agregat, serta merusak struktur pondasi jalan.




Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *