Silvina Ratri Arumhandini: Perjalanan Panjang Menuju Pekerjaan di Jerman
Silvina Ratri Arumhandini, seorang perawat berusia 29 tahun dari Wonosobo, berhasil lolos dalam program G to G dan akan bekerja sebagai tenaga kesehatan di Jerman. Ia akan menerima gaji sekitar 2.300 euro atau setara Rp40 juta per bulan. Ini adalah hasil dari persiapan yang dilakukannya selama hampir tiga tahun.
Persiapan Berkelanjutan
Sejak tahun 2021, Silvina telah mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN) untuk meningkatkan kemampuan teori, praktik, dan bahasa. Proses seleksi melibatkan pengajuan dokumen, wawancara dengan Bundesagentur Für Arbeit, serta berbagai tes lainnya. Ia juga mengikuti pelatihan bahasa Jerman selama 18 bulan, termasuk les tiga kali seminggu sambil bekerja.
Silvina mengungkapkan bahwa ia pernah mencoba program kerja serupa di Jepang, tetapi gagal karena latar belakang pendidikannya hanya Diploma 3. Namun, ia tidak menyerah dan melanjutkan studinya hingga meraih gelar sarjana. Kali ini, nasib baik berpihak saat ia dinyatakan lulus menjadi salah satu dari 29 peserta Triple Win Government to Government.
Keberhasilan dan Tantangan
Perjalanan Silvina tidak mudah. Ia menghadapi kesulitan dalam penyesuaian kompetensi tenaga kesehatan Indonesia dengan standar Jerman. Selain itu, ia juga sempat mengalami stres dan jenuh akibat ujian yang berulang kali. Meski begitu, tekadnya untuk meraih impian tetap kuat.
Ia menyatakan bahwa bekerja sebagai perawat di Jerman akan dilakukan secara kontrak minimal dua tahun. Setelah itu, ia akan mendapatkan sertifikat B1 dan bisa melanjutkan pelatihan B2 bahasa Jerman. Selain itu, ada pelatihan penyetaraan pendidikan yang harus diikuti.
Kementerian P2MI dan Program G to G
Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) memberangkatkan 29 PMI tenaga kesehatan ke Jerman. Wakil Menteri P2MI, Christina Aryani, menjelaskan bahwa para PMI tersebut tidak dikirim sembarangan. Mereka melewati proses seleksi dan pelatihan yang cukup panjang, termasuk pelatihan bahasa Jerman dan adaptasi kurikulum pendidikan.
Setibanya di Jerman, pekerja migran Indonesia akan ditempatkan di berbagai fasilitas kesehatan seperti Klinikum Wolfsburg, Seniorentzentrum Sonnhalden Neuenburg, Haus Maihalden Pforzheim, dan Seniorenwohnen Neu-Ulm Ludwigsfeld. Mereka berasal dari berbagai latar belakang pendidikan tinggi dan 11 provinsi di Indonesia.
Manfaat dan Harapan
Program G to G Indonesia telah berhasil menyalurkan 423 orang yang bekerja sebagai tenaga kesehatan di Jerman sejak dimulai pada tahun 2023. Para PMI yang berangkat diminta menjaga profesionalisme, mengelola keuangan dengan bijak, serta menjaga nama baik Indonesia selama bekerja di Jerman.
Menurut Christina Aryani, Indonesia memiliki reputasi baik dalam sektor penyaluran tenaga kesehatan. Etos kerja, komitmen, rasa empati, dan kemampuan nakes dalam merawat pasien menjadi nilai tambah. Dengan menjadi perawat profesional, mereka akan mendapatkan lebih banyak benefit seperti membawa anggota keluarga, gaji besar, serta pengalaman kerja yang berharga.
Kesempatan yang Luar Biasa
Program G to G memberikan kesempatan luar biasa bagi pekerja migran Indonesia. Christina Aryani menyatakan bahwa pihaknya terus berkomitmen membuka lebih banyak peluang kerja di negara-negara yang memiliki perlindungan optimal bagi pekerja migran dari Indonesia.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











