Tiga Murid Penghayat Kepercayaan di SMK Alhilaal
Tiga murid penghayat kepercayaan animisme yang sedang menempuh pendidikan formal di SMK Alhilaal, Namlea, Pulau Buru, Maluku. Mereka berasal dari Desa Danau Rana, Pulau Buru, Maluku. Jarak antara Danau Rana dengan kota Namlea sekitar 60 kilometer. Perjalanan menuju sekolah biasanya membutuhkan waktu 1-1,5 jam menggunakan motor.
Kepala SMK Alhilaal, Megaria, mengatakan bahwa para murid ini kini tinggal di asrama dekat sekolah agar lebih mudah dalam menjalani proses belajar mengajar. “Biar mudah ke sekolah,” ujarnya.
SMK Alhilaal telah menerima murid penghayat kepercayaan sejak tahun 2007. Menurut Megaria, konstitusi menjamin setiap warga berhak mendapatkan pendidikan. “Tidak boleh ada diskriminasi. Bahkan saya sangat menyayangi mereka,” kata dia.
Tahun ini, SMK Alhilaal menerima murid dari berbagai latar belakang agama. Total ada sekitar 282 murid. Rinciannya, sebanyak 178 beragama Islam, 42 murid beragama Kristen, 9 orang penghayat Hindu Adat, dan 3 orang penghayat kepercayaan animisme.
Dalam proses pembelajaran, pihak sekolah memberikan kebebasan kepada murid penghayat kepercayaan saat ada pelajaran agama. Karena tidak ada guru yang mengajar penghayat kepercayaan, mereka mengikuti pembelajaran Agama. “Mereka ingin mendengarkan materi yang disampaikan guru agama. Tidak ada pemaksaan,” ujar Megaria.
Meski begitu, para guru tetap menilai kemampuan agama penghayat kepercayaan. Penilaian berdasarkan kehadiran, tanggung jawab, disiplin, dan kolaborasi dengan teman-teman.
Banyak murid penghayat kepercayaan juga mengikuti ekstrakurikuler tari. Ketika pementasan tari, murid penghayat kepercayaan animisme membawakan Tari Cakalele khas Pulau Buru untuk penyambutan tamu. Tarian ini hanya bisa dibawakan oleh mereka sebagai bagian dari adat. “Mereka menggunakan parang dan tombak asli sebagai bagian dari tradisi,” kata dia.
Setelah penampilan Tari Cakalele, biasanya dilanjutkan dengan Tari Sawat Buru yang dibawakan siswa muslim. “Mereka berkolaborasi dengan indah,” ujar dia.
Dari sisi bantuan biaya pendidikan, Megaria mengklaim banyak murid penghayat kepercayaan memperoleh Program Indonesia Pintar (PIP). Bila tidak mendapatkannya, mereka diprioritaskan mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Provinsi Maluku, yaitu Beasiswa Miskin/Bantuan Siswa Miskin dan Kartu Maluku Cerdas.
Namun, Megaria mengatakan banyak murid penghayat kepercayaan yang ingin pindah keyakinan. Dia berdalih pemindahan itu bukan karena alasan kesulitan administrasi kependudukan untuk mempermudah bantuan. “Itu pilihan mereka,” kata dia.
Staf Khusus (Stafsus) Menteri Agama Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan dan Moderasi Beragama, Farid F. Saenong mengatakan pengalaman tersebut sebagai praktik baik yang layak diterapkan di daerah lain di Indonesia. Maluku telah membuktikan kehidupan dalam keragaman bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan yang tumbuh dalam keseharian masyarakat.
“Maluku ini memang contoh baik untuk kehidupan bersama. Kami akan selalu angkat Maluku untuk penghidupan nilai-nilai ini,” ujar dia di Ambon, Maluku.
Terkait regulasi yang mengatur penghayat kepercayaan, dia menjelaskan pada dasarnya aturan tersebut berada dalam kewenangan Kementerian Kebudayaan dan sudah terakomodasi. Namun, dia menilai masih diperlukan ruang yang lebih luas agar para penghayat kepercayaan dapat mengekspresikan keyakinannya.
Megaria merupakan tenaga pendidik yang mengikuti program LKLB yang diinisiasi oleh Institut Leimena. Kamis, 12 Februari 2026 di Ambon, Maluku, Institut Leimena bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku dan beberapa organisasi masyarakat menyelenggarakan Seminar bertemakan “Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)”.
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Program LKLB bertujuan memperkuat kerukunan umat beragama yang majemuk dengan memperlengkapi kompetensi para pendidik untuk membangun relasi dan kolaborasi dengan orang yang berbeda agama dan kepercayaan.
“Dimulai akhir tahun 2021 sebagai program pelatihan untuk guru sekolah dan madrasah, telah diadakan 72 kelas pelatihan dasar LKLB dengan lulusan lebih dari 10.000 pendidik. Program ini juga mulai dikembangkan untuk perguruan tinggi dan lembaga pemerintahan,” kata Matius Ho.
Matius menambahkan Literasi Keagamaan Lintas Budaya telah diakui secara nasional dan internasional sebagai model pendidikan untuk membangun kohesi sosial. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Malaysia tahun 2025, LKLB secara resmi menjadi salah satu strategi ASEAN hingga tahun 2045 untuk menciptakan Komunitas ASEAN yang inklusif dan kohesif.
Pada November kemarin, misalnya, delegasi dari Kementerian Pendidikan Pemerintahan Bangsamoro di Filipina berkunjung ke Ambon, sebagai tamu Institut Leimena, untuk belajar dari pelaksanaan Program LKLB di kota Ambon.
Matius menjelaskan khusus di Ambon, program LKLB dimodifikasi dengan pendekatan yang relevan dengan konteks budaya masyarakat setempat yaitu menggunakan musik sebagai pedagogi untuk membangun perdamaian karena Ambon telah ditetapkan sebagai “UNESCO City of Music”.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











