"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Jelasnya iuran sekolah di Ngada hingga Rp 1,2 juta, Dinas PKO izinkan pungutan

Penjelasan Dinas PKO Kabupaten Ngada Mengenai Iuran Sekolah

Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Ngada, NTT, memberikan penjelasan terkait polemik kebijakan iuran sekolah yang dikenakan kepada para siswa. Hal ini menjadi perhatian masyarakat setelah kasus meninggalnya seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10), yang menimbulkan banyak pertanyaan dan perdebatan.

Iuran sekolah di wilayah Kabupaten Ngada, NTT, yang diminta sekolah kepada wali murid sebesar Rp 1,2 juta. Biaya tersebut dibebankan kepada setiap siswa termasuk YBS, siswa SD yang belakangan sedang jadi sorotan di Kabupaten Ngada, NTT. Beban biaya besar untuk para siswa dan orang tua siswa tersebut ternyata diakui pihak sekolah, dan belum ada tindakan untuk menghapuskan kebijakan tersebut.

Sekretaris Dinas (Sekdis) PKO Kabupaten Ngada, Jack Mite menjelaskan bahwa pungutan tersebut diperbolehkan karena diatur dalam Permendikbud Nomor 75 tahun 2016. “Memang kalau di komite itu ada Peraturan Kementerian Nomor 75 tahun 2016. Jadi komite itu memberi sumbangan sukarela,” ujar Jack di Bajawa, Selasa (10/2/2026).

Menurut Jack, pungutan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap satuan pendidikan. Sumbangan komite sekolah digunakan untuk berbagai kegiatan seperti gaji guru, kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan pramuka. “Intinya itu di sekolah juga ada pegangan berupa berita acara dan daftar hadir,” katanya.

Jack berujar, pihaknya tidak memiliki wewenang untuk mencampuri urusan sumbangan di sekolah. Namun, mereka akan terus memantau dan memberikan arahan agar tidak ada pungutan yang memberatkan orangtua siswa. “Memang secara aturan itu semestinya kita tidak boleh pungut lagi ya, karena yang bersifat sumbangan,” tandasnya.

Harapan Terhadap Program Indonesia Pintar (PIP)

Jack juga berharap agar penyerapan dana Program Indonesia Pintar (PIP) dapat berjalan lebih baik, sehingga siswa penerima manfaat dapat menerima haknya. Dengan adanya dana PIP, diharapkan bisa membantu meringankan beban ekonomi keluarga siswa.

Tanggapan Bupati Ngada

Bupati Ngada, Raymundus Bena, angkat bicara soal kasus siswa kelas IV sekolah dasar berinsial YBS (10), yang tak bisa beli buku dan alat tulis. Raymundus mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang ia dapat, YBS dikenal sebagai anak yang periang, rajin, dan suka membantu. Bocah itu juga salah satu siswa yang sangat aktif.

Oleh sebab itu, ia menilai penyebab kematian YBS sangat kompleks. “Kesimpulan bahwa (YBS) meninggal karena tidak punya ballpoint dan tidak punya buku, saya agak lain menilainya. Saya menilai ini sangat kompleks,” ujar Raymundus dalam acara Kompas.com, Kamis (5/2/2026). “Pertanyaan kita, referensi sampai dia b* d, apakah referensi karena buku?, karena itu kah?. Karena itu terlalu dini menilai seperti itu,” tambahnya.

Menurut Raymundus, bisa jadi ada faktor lain yang menyebabkan korban melakukan aksi tersebut. Apalagi di tengah era keterbukaan informasi seperti sekarang. “Ini sekarang tuh sangat terbuka, bisa jadi mungkin karena nonton TV, nonton video atau seperti apa, ya, itu,” katanya.

Kejadian Sebelum Kematian YBS

Sebelum kejadian, siswa yang baru duduk di bangku kelas IV tersebut sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pulpen, sebagaimana dilaporkan Kompas.id pada Senin (2/2/2026). Tapi, permintaan itu tak bisa dikabulkan karena keterbatasan ekonomi keluarga. Belakangan baru diketahui YBS sudah meninggal dunia. Korban juga meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya.

Kasus ini menyedot perhatian publik secara meluas, bahkan ada anggota DPR yang mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk usut tuntas. Penyidik kepolisian terus mendalami penyebab pasti kematian korban.

Penyelidikan Polisi

Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino, menyampaikan bahwa penyidik masih melakukan penyelidikan termasuk meminta keterangan guru tempat korban sekolah. Hal tersebut dilakukan untuk menjawab dugaan perundungan atau bullying terhadap siswa kelas IV SD itu. “Penyidik juga memeriksa pihak sekolah, termasuk guru korban. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah korban juga jadi korban bullying atau tidak. Ini yang masih diselidiki,” ujar Valentino, saat dihubungi, Rabu (4/2/2026).

Valentino menjelaskan bahwa penyidik bekerja profesional dalam proses penyelidikan kasus ini. Karena, berdasarkan hasil visum, tidak ditemukan tanda-tanda adanya kekerasan. “Motif sementara karena putus asa. Ini murni niatan anak,” katanya. Dia menambahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap ibu korban, MGT (47), malam sebelum korban ditemukan tewas, korban sempat tidur bersama ibunya di rumah. Saat bersama ibunya, korban sempat dinasehati karena tidak masuk sekolah beberapa hari terakhir. “Korban tidak sekolah dengan alasan sakit karena mandi hujan. Ibunya lalu menasehati supaya harus ke sekolah dan jangan mandi hujan,” ungkapnya.

Kontak Bantuan

Kondisi nekat bisa terjadi disaat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri. Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:

https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *