"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Daerah  

Kapolres Depok Beri Motor, Pedagang Es Gabus Minta Mobil untuk Keluarga

Pernyataan Mengejutkan Suderajat di Acara Pagi-Pagi Ambyar

Dalam acara Pagi-Pagi Ambyar pada 29 Januari 2026, Suderajat membuat pernyataan yang mengejutkan. Ia menyampaikan bahwa sebenarnya ia berharap mendapatkan bantuan berupa mobil, bukan sepeda motor yang diberikan oleh Kapolres Metro Depok, Kombes Pol Abdul Waras.

Suderajat menjelaskan bahwa mobil tersebut ingin digunakan untuk keperluan jalan-jalan bersama keluarga dengan bantuan anaknya sebagai pengemudi. Namun, pernyataan ini memicu keheranan para host karena diketahui bahwa Suderajat tidak bisa mengemudi. Dewi Perssik, salah satu host, bertanya kepada Suderajat tentang siapa yang akan mengemudikan mobil tersebut.

“Saya gak bisa nyetir,” jawab Suderajat. “Tapi sama anak saya,” tambahnya.

Sebelumnya, Suderajat menjadi viral setelah dituduh menggunakan spons dalam dagangan es gabusnya. Hal ini membuat banyak pihak memberikan bantuan kepadanya, termasuk Kapolres Metro Depok yang memberikan sepeda motor sebagai bentuk permintaan maaf atas insiden penganiayaan yang dialaminya.

Fakta Tentang Kondisi Rumah dan Keluarga Suderajat

Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, memberikan penjelasan terkait kondisi rumah dan keluarga Suderajat. Menurutnya, Suderajat tidak tinggal di kontrakan karena tidak memiliki rumah, melainkan karena rumahnya sedang direhabilitasi melalui program Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni).

“Rumah Pak Suderajat rusak dan sedang diperbaiki. Sehingga dia tinggal sementara di kontrakan,” ujar Tenny.

Selain itu, hasil asesmen lintas instansi menunjukkan indikasi disabilitas pada Suderajat dan istrinya. Kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma akibat difitnah oleh aparat. Komunikasi verbal keduanya terbatas, dan kondisi istrinya lebih parah.

Kebohongan yang Diungkap oleh Gubernur Jawa Barat

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkap tiga pernyataan yang dinilai tidak sesuai dengan fakta dari Suderajat. Pertama, Suderajat menyebut anaknya bersekolah di SD negeri, padahal ternyata sekolah swasta. Kedua, Suderajat mengaku mengontrak rumah selama bertahun-tahun, padahal sebenarnya memiliki rumah sendiri yang dibeli tahun 2007. Ketiga, Suderajat menyebut hanya mendapatkan warisan sebesar Rp 200 ribu dari orang tuanya, padahal sebenarnya diberi rumah.

Dedi menegaskan bahwa Suderajat perlu bersikap jujur agar hidupnya lebih baik. Ia juga menambahkan dana renovasi rumah bagi Suderajat yang kini mendapatkan program Rutilahu dari pemerintah daerah.

Penganiayaan yang Dialami Suderajat

Suderajat mengaku mendapat penganiayaan dari oknum aparat di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat. Kejadian ini terjadi usai dirinya dituduh menggunakan bahan spons dalam produk dagangannya. Menurut Suderajat, ia dipukul, ditendang, dan disabet tubuhnya menggunakan selang daj. Akibatnya, ia mengalami luka di area wajah, bahu, dan kaki kanannya.

Meski begitu, Suderajat hanya bisa pasrah dan berharap kejadian ini mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Ia juga menyebut bahwa polisi dan TNI belum menyampaikan permintaan maaf kepadanya.

Video Viral dan Permintaan Maaf dari Aparat

Aiptu Ikhwan dan Heri sempat viral di media sosial karena memberikan keterangan soal es gabus yang dijual Suderajat tanpa melakukan verifikasi. Video mereka menunjukkan interogasi terhadap Suderajat, serta permintaan maaf dari oknum aparat.

Setelah kejadian tersebut, Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Serda Heri Purnomo secara langsung menemui Suderajat di mushala, Bojonggede, Bogor, dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan.

Bantuan yang Diberikan oleh TNI dan Pemerintah

TNI melalui Kodim 0501/Jakarta Pusat memberikan bantuan berupa satu unit kulkas, satu dispenser, dan satu kasur springbed untuk mendukung usaha Suderajat dan kenyamanan keluarganya. Aparat juga menyatakan akan melakukan evaluasi internal dan memberikan sanksi disiplin kepada anggota yang terlibat.

Penutup

Setelah pertemuan tersebut, Suderajat mengaku telah memaafkan oknum yang terlibat dan menganggap peristiwa yang dialaminya sebagai musibah. Ia tidak memiliki keinginan agar para oknum yang terlibat diproses secara hukum atau dijatuhi sanksi lebih tegas. Ia percaya bahwa semua yang terjadi adalah ujian hidup yang harus diterima dengan lapang dada.






Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *