"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Daerah  

Camat Bojonggede Ungkap Kondisi Asli Suderajat, Istrinya Jauh Lebih Parah

Fakta Baru tentang Suderajat dan Kondisi Keluarganya

Suderajat (49), seorang pedagang es gabus yang sempat viral setelah bertemu dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kini kembali menjadi perhatian publik. Setelah sebelumnya mendapat banyak simpati dari masyarakat, kini ia dihadapkan pada berbagai tuduhan yang mengatakan bahwa ia tidak jujur dalam menyampaikan informasi. Hal ini terjadi setelah Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, mengungkap fakta baru terkait kondisi kesehatan mental dan kemungkinan disabilitas yang dialami oleh Suderajat dan istrinya.

Indikasi Disabilitas dan Gangguan Mental Pascatrauma

Menurut Tenny Ramdhani, Suderajat dan istrinya memiliki indikasi disabilitas. Kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma akibat fitnah yang dialaminya dari aparat terkait. Hal ini menyebabkan jawaban Suderajat sering berubah-ubah ketika ditanyai, sehingga membuat banyak orang merasa ia berbohong.

Tenny menjelaskan bahwa hasil asesmen lintas instansi menunjukkan adanya keterbelakangan psikologis dan mental pada Suderajat dan istrinya. Kondisi ini diperparah oleh tekanan trauma setelah difitnah dan banyaknya orang yang datang ke rumahnya. Ia juga menyebutkan bahwa Ketua RT dan RW setempat memperkuat dugaan tersebut.

Rumah yang Sedang Direhabilitasi

Suderajat diketahui memiliki rumah sendiri yang sedang direhabilitasi melalui program Rutilahu. Proses rehabilitasi dimulai sejak Desember 2025 dan dilakukan karena rumah tersebut rusak akibat bencana hujan dan angin kencang awal tahun 2026. Sejak saat itu, Suderajat dan keluarganya tinggal sementara di kontrakan.

Tenny menegaskan bahwa Suderajat tidak tinggal di kontrakan karena tidak memiliki rumah, tetapi karena rumahnya sedang dalam proses perbaikan. Ia juga menekankan bahwa Suderajat termasuk warga kategori miskin dan layak menerima bantuan sesuai dengan aturan pemerintah.

Bantuan yang Diterima oleh Suderajat

Selama masa rehab, Suderajat menerima berbagai bantuan dari pemerintah dan masyarakat. Berikut beberapa bantuan yang diterimanya:

  • Bantuan Rutilahu: Sebesar Rp18 juta untuk keperluan renovasi rumah, termasuk bahan bangunan dan honor bagi kuli bangunan senilai Rp2 juta.
  • Bantuan dari Dedi Mulyadi: Rp15 juta untuk biaya kontrakan dan modal usaha, serta tambahan Rp20 juta untuk honor kuli bangunan.
  • Bantuan dari Bidan Seruni: Rp10 juta dan sembako.
  • Bantuan dari Budi Amal TikTok: Rp25 juta.
  • Bantuan dari Owner HOB: Rp10 juta.
  • Bantuan dari Staf Wapres Gibran Rakabuming Raka: Rp10 juta.
  • Hadiah Umrah: Diberikan oleh Aisar Khaled untuk Suderajat dan istrinya.

Selain itu, dua anak Suderajat yang sebelumnya putus sekolah kini bisa melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat. Mereka juga diberi bantuan seragam dan perlengkapan sekolah.

Pernyataan yang Dituduh Berbohong

Dalam pertemuan dengan Dedi Mulyadi, Suderajat memberikan beberapa pernyataan yang tidak sesuai dengan realitas:

  • Ngaku Belum Ada Sumbangan: Padahal, Suderajat sudah menerima bantuan seperti satu unit sepeda motor dan modal usaha dari Kapolres Metro Depok.
  • Ngaku Biaya Sekolah Nunggak Rp 1,5 Juta: Ternyata biaya sekolah hanya Rp200 ribu per bulan dan anak Suderajat tidak sekolah di sekolah negeri, melainkan swasta.
  • Ngaku Ngontrak Rumah Rp 800 Ribu per Bulan: Faktanya, Suderajat memiliki rumah sendiri warisan dari orang tuanya.
  • Ngaku Dapet Warisan Rp 200 Ribu: Nyatanya, Suderajat menerima warisan dalam bentuk tanah dan rumah di Bogor.
  • Ngaku Tak Punya Uang, tapi Banyak Bantuan: Suderajat sebenarnya menerima banyak bantuan, termasuk uang tunai, motor, dan lainnya.

Tanggapan Dedi Mulyadi

Dedi Mulyadi menyesalkan sikap Suderajat yang tidak jujur dalam menyampaikan informasi. Ia meminta agar Suderajat tidak lagi berbohong dalam menceritakan kondisi ekonominya. “Babe nggak boleh lagi ngomong nggak punya duit,” tegas Dedi.




Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *