"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Kehidupan Sekolah Menengah Pertama 14 Kota Batu dengan 149 Siswa dalam 6 Kelas

Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Kota Batu Mulai Berjalan Normal

Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Kota Batu kini telah terisi oleh 149 siswa dari kapasitas maksimal 150 siswa yang terbagi dalam enam kelas. Sekolah ini berada di Panti Perlindungan dan Pelayanan Sosial Petirahan Anak (PPSPA) Bhima Sakti Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu. Awalnya, sekolah ini hanya memiliki 100 peserta didik, namun seiring waktu, jumlah siswa bertambah dengan tambahan dari luar Kota Batu seperti Kabupaten Malang, Kediri, Jombang, serta daerah sekitar Malang Raya.

Kepala Sekolah SRMP 14 Kota Batu, Yulianah, menjelaskan bahwa selama enam bulan terakhir para siswa telah mengikuti kegiatan belajar mengajar serta kehidupan di asrama. Mereka juga telah menerima rapor yang mencakup nilai mata pelajaran serta penilaian selama tinggal di asrama. Selain penilaian akademik, siswa juga dinilai dalam perilaku sehari-hari oleh wali asuh dan wali asrama.

“Alhamdulillah progresnya signifikan. Kami sudah menyelenggarakan ujian tengah semester (UTS) dan ada ujian akhir semester (UAS). Sehingga anak-anak sudah bisa kami terimakan rapor,” kata Yulianah.

Rapor Sekolah Rakyat

Yulianah menjelaskan bahwa rapor pembelajaran berisi tentang capaian, target, nilai-nilai semua mata pelajaran. Sementara itu, rapor keasramaan berisi tentang capaian karakter selama di asrama, mulai dari kebersihan, spiritual, kedisiplinan, ketertiban, dan lain-lain.

“Jadi intinya penyelenggaraan pendidikan di sini senormalnya sekolah reguler. Berjalan normal tanpa suatu masalah maupun kendala yang berarti,” ujarnya.

Terkait hasil rapor para siswa angkatan IA, Yulianah menyebutkan bahwa hasil yang diperoleh siswa terbilang beragam. Hal ini tidak lepas dari beberapa faktor, termasuk kondisi siswa ketika masuk. Ada yang sangat smart, ada yang karakternya imbang dengan akademisnya. Ada yang secara karakter sangat bagus tapi akademisnya agak low. Ada yang akademisnya bagus tapi spiritualnya kurang, ada yang dua-duanya low. Bahkan ada juga yang belum lancar membaca.

“Keragaman-keragaman kemampuan itu ada semua. Saya yakin itu pun juga ada di sekolah reguler. Cuma tantangannya kalau di sekolah rakyat bagaimana cara kami membersamainya,” jelasnya.

Ada Treatment Khusus

Bagi siswa-siswa yang dinilai perlu mendapatkan pendampingan ekstra, maka akan diberikan treatment khusus dengan tambahan belajar di luar proses belajar mengajar agar dapat mengejar ketertinggalan. “Saat pagi hingga siang mereka bersama guru. Sedangkan setelah itu mereka bersama wali asrama dan wali asuhnya. Dari situ akan di update perkembangan masing-masing siswa.”

Untuk menjadi siswa sekolah rakyat, syaratnya adalah nama anak tersebut terdaftar dalam keluarga miskin dan miskin ekstrem yang masuk data siswa prasejahtera Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) kategori desil 1 dan 2. Selain itu siswa tersebut memiliki kemauan dan semangat untuk sekolah, serta sehat jasmani dan rohani.

Fasilitas yang didapat siswa antara lain laptop satu anak satu, smartboard masing-masing kelas, alat tulis untuk kebutuhan pembelajaran. Selain itu juga kebutuhan harian berupa tinggal di asrama, seragam, makan tiga kali sehari, snack dua kali sehari, peralatan mandi, cek kesehatan rutin, pendampingan gizi, dan fasilitas pengembangan diri lainnya.

“Dalam sebulan ada satu kali waktu kunjungan bagi orang tua untuk bertemu dengan siswa,” ucapnya.

Pengalaman Unik sebagai Kepala Sekolah

Terkait hal menarik selama menjadi kepala sekolah di SRMP 14 Kota Batu, Yulianah mengatakan banyak hal menarik yang ia dapatkan. Khususnya harus menjadi orangtua bagi 149 siswa sekolah rakyat, karena memiliki tanggung jawab 24 jam, yang kondisi sangat jauh berbeda dengan guru di sekolah reguler.

“Paling menarik karena 24 jam mengawasi anak-anak. Saya betul-betul tertantang dan sebetulnya kalau berat ya berat, tapi menarik karena dari situlah saya merasa bahwa pendidikan yang sesungguhnya adalah seperti ini. Mengawasi mereka secara holistik. Tidak hanya transfer ilmu pengetahuan saja tapi juga membersamai siswa. Saya betul-betul harus menuntut diri saya, menuntut kru saya untuk ikhlas. Itu yang paling menarik.”



“Termasuk saya harus bekerja dengan guru-guru dan staf yang dari Gen Z, mengobarkan semangat, mengobarkan ilmu, ikhlas ke anak-anak,” pungkasnya.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *