Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan, merasa senang dengan persaingan yang terjadi di sektor tunggal putra setelah tidak ada dominasi mutlak dari satu pemain.
Pada turnamen Malaysia Open 2026, Kunlavut Vitidsarn (Thailand) menjadi juara. Di India Open 2026 dan All England Open 2026, Lin Chun Yi (Taiwan) berhasil menjuarai pertandingan. Sementara itu, Alwi Farhan sukses meraih gelar juara pada Indonesia Masters 2026, diikuti oleh Moh Zaki Ubaidillah yang memenangkan Thailand Masters 2026.
Christo Popov menjadi kampiun German Open 2026, sementara Yushi Tanaka (Jepang) dan Alex Lanier (Prancis) masing-masing meraih gelar juara pada Swiss Open dan Orleans Masters 2026.
Alwi menyampaikan bahwa persaingan yang semakin ketat ini membuat pertandingan lebih seru. Ia mengatakan:
“Seru, siapa yang menyangka Li Chun Yi bisa menjadi juara All England, tidak menutup kemungkinan semua pemain,” ujarnya kepada media.
Ia juga menekankan bahwa usia, peringkat, atau pengalaman bukanlah penentu utama dalam pertandingan. “Mau umur dan ranking berapa, mau pengalamannya seperti apa, siapa yang berani memutuskan di lapangan, saya rasa itulah yang paling layak untuk menjadi seorang juara.”
Alwi mengakui bahwa setiap kesempatan bermain adalah peluang untuk belajar dan berkembang. “Perjalanan masih sangat panjang. Saya tidak akan pernah tahu kapan lagi mendapat kesempatan juara.”
Ia juga berkomitmen untuk memberikan yang terbaik setiap kali bermain. “Setiap kali saya mendapat kesempatan bermain, saya akan habis-habisan untuk bisa menjadi seorang juara. Semoga lain waktu dan lain kesempatan, bisa tampil lagi lebih maksimal dan mengeluarkan lagi kemampuan terbaik sehingga menjadi juara.”
Dari pengalamannya melawan pemain-pemain kuat seperti Kunlavut Vitidsarn dan Li Shi Feng, Alwi merasa bahwa setiap pertandingan memiliki alur yang tidak dapat diprediksi. “Kita ambil contoh Kunlavut, setiap kali saya sudah hampir menang, tetapi tidak jauh lagi poinnya. Alurnya tidak akan bisa ditebak.”
Ia juga menyebutkan bahwa Li Shi Feng, meskipun baru pulih dari cedera, memiliki kemampuan yang luar biasa. “Dia punya gelar Asian Games dan All England. Tetapi, disitu saya bisa menantang diri saya sejauh mana kemampuan saya. Alhamdulillah saya bisa melewatinya.”
Namun, ia juga mengakui bahwa tidak selalu mudah. “Tetapi, saat final (Swiss Open) ketika secara ranking di atas kertas lebih di atas Yushi tapi tak ada yang tahu saya bisa kalah meski triple kill tunggal putra Indonesia di luar prediksi.”
Alwi juga menyampaikan bahwa persaingan di Eropa semakin ketat. “Kejuaraan Asia memang teritoralnya Asia. Kalau secara ranking yang digaris bawahi pada pemain Eropa ada 3-4 orang. Eropa kalau bermain pada 32 besar, saya bisa bilang Christo (Popov), Alex (Lanier), (Anders) Antonsen, Toma (Junior Popov) dan (Rasmus) Gemke.”
Ia menjelaskan bahwa sisi yang harus diperbaiki dalam performanya adalah konsistensi. “Dari konsistensi, performa yang bagus kunci pemikiran yang bagus. Tanpa pemikiran yang bagus, saya tidak akan bisa perform.”
Alwi juga menyampaikan bahwa mimpi adalah hal penting dalam berlatih. “Ambil contoh dari orang-orang hebat, dia selalu berpikir positif, berpikir apa yang bisa menjadi kenyataan karena kalau kita punya mimpi pasti bergairah untuk mengikuti mimpi.”
Menurutnya, mimpi bisa dikejar. “Tidak ada yang salah dengan mimpi. Mimpi bisa dikejar karena semua orang dari tidak punya apa-apa bisa menjadi apa-apa.”
Target Alwi untuk Kejuaraan Asia 2026 adalah meraih medali. “Saya ingin dan semoga AllaH bantu ingin medali. Tidak terlalu muluk, tetapi juga realistis, bisa dikejar, bisa diusahakan, pasti berat. Nanti kita lihat akan seperti apa. Semoga saya bisa mendapatkan itu (medali).”
Alwi juga mengungkapkan bahwa persaingan di pelatnas PBSI sangat membantu perkembangannya. “Persaingan kami bagus. Setiap hari kami selalu ada sparring meski saya sama Ubed. Ya saya bisa berdiri disini sekarang karena persaingan di dalam (pelatnas) cukup ketat.”
Ia menyebutkan bahwa tidak pernah ada yang merasa nyaman di pelatnas. “Tidak pernah semuanya merasa nyaman karena disini saling tarik-tarikan.”
Ibarat Lin Dan, Alwi menyebut bahwa tanpa adanya Lee Chong Wei, mungkin Lin Dan tidak bisa semaksimal itu. “Itu sudah menjadi alur yang bagus untuk tunggal putra karena selalu ada tolok ukur, ada acuan untuk bisa menjadi lebih baik lagi ke depan.”
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











