"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Analisis Psikologi Dosen Unja: Balik Kaburnya Tersangka Sabu 58 Kg dari Polda Jambi

Analisis Psikologis Terkait Kaburnya Tersangka Penyelundup Sabu-Sabu

Ketua Jurusan Psikologi FKIK Unja yang juga Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jambi, Dessy Pramudiani, MPsi, memberikan analisis psikologis mengenai tindakan tersangka penyelundup sabu-sabu seberat 58 kg yang kabur saat pemeriksaan di Polda Jambi. Dari sudut pandang psikologi, perilaku tersebut dapat dijelaskan melalui beberapa konsep penting.

Respons Fight-or-Flight

Salah satu konsep yang relevan adalah fight-or-flight response, yang pertama kali diperkenalkan oleh Walter Cannon. Konsep ini menjelaskan bagaimana tubuh manusia merespons ancaman serius. Dalam kasus ini, ancaman hukuman berat menjadi pemicu respons alami tubuh untuk melawan atau melarikan diri. Pilihan untuk kabur menunjukkan dominasi respons flight, yang sering muncul secara impulsif ketika seseorang menghadapi tekanan emosional tinggi.

Teori Prospect dan Risiko

Selain itu, perilaku pelaku juga dapat dipahami melalui Prospect Theory yang dikembangkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Teori ini menjelaskan bahwa individu cenderung lebih berani mengambil risiko ketika berada dalam situasi kerugian. Dalam konteks ini, ancaman kehilangan kebebasan, masa depan, bahkan kemungkinan hukuman mati mendorong pelaku untuk mengambil keputusan berisiko tinggi. Secara subjektif, pelaku mungkin merasa bahwa ini adalah satu-satunya peluang untuk ‘selamat’.

Tekanan Ekstrem dan Pengambilan Keputusan

Tekanan ekstrem juga memengaruhi proses pengambilan keputusan. Menurut Dual-Process Theory, individu dalam situasi stres cenderung mengandalkan sistem berpikir cepat, intuitif, dan emosional (System 1) dibandingkan dengan sistem berpikir rasional dan analitis (System 2). Akibatnya, pertimbangan terhadap konsekuensi jangka panjang melemah, dan fokus utama beralih pada penyelamatan diri secara instan.

Optimistis Bias dan Kecenderungan Berpikir

Faktor lain yang turut berperan adalah optimism bias, yaitu kecenderungan individu untuk meyakini bahwa dirinya memiliki peluang lebih besar untuk berhasil dibandingkan realitas objektif. Bias kognitif ini membuat pelaku tetap melihat kemungkinan keberhasilan dalam upaya kabur, meskipun secara rasional peluang tersebut sangat kecil.

Perspektif Psikologi Kriminal

Dari perspektif psikologi kriminal, teori Routine Activity Theory yang dikemukakan oleh Lawrence Cohen dan Marcus Felson menjelaskan bahwa kejahatan terjadi ketika tiga unsur bertemu: pelaku termotivasi, target yang tersedia, dan ketiadaan pengawasan yang memadai. Dalam kasus ini, tekanan psikologis tinggi menjadi motivasi, sedangkan kelengahan pengawasan menciptakan peluang yang dimanfaatkan pelaku.

Perspektif Psikologi Organisasi

Sementara itu, dari perspektif psikologi organisasi, kelalaian aparat dapat dipahami sebagai bentuk human error. Hal ini muncul akibat rutinitas dan penurunan kewaspadaan (habituation). Dalam situasi yang dianggap terkendali, individu cenderung mengalami overconfidence dan mengurangi tingkat kewaspadaan. Selain itu, fenomena diffusion of responsibility dalam kerja tim dapat menyebabkan tanggung jawab pengawasan menjadi tidak optimal, karena setiap individu merasa bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab penuh.

Kesimpulan

Perilaku kabur bukan semata-mata tindakan nekat tanpa dasar. Melainkan, hasil dari interaksi kompleks antara tekanan psikologis ekstrem, bias kognitif, serta celah dalam sistem pengawasan. Peristiwa ini menegaskan bahwa pencegahan kasus serupa tidak cukup hanya mengandalkan penguatan sistem keamanan secara fisik. Sehingga, diperlukan integrasi pendekatan psikologi dalam prosedur operasional, khususnya dalam memahami perilaku tersangka yang berada dalam tekanan ekstrem.

Tanpa pendekatan psikologis, celah kecil dalam sistem dapat terus dimanfaatkan oleh individu yang berada dalam kondisi ‘tidak lagi merasa punya pilihan’. Oleh karena itu, penanganan kasus serupa ke depan tidak hanya memerlukan penguatan aspek keamanan, tetapi juga pemahaman yang lebih mendalam terhadap dinamika psikologis pelaku dalam situasi berisiko tinggi.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *