"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Wawancara Eksklusif Tribun Gorontalo dengan Keluarga Korban Kecelakaan Maut di Minsel

Perjalanan Duka Keluarga Korban Kecelakaan di Minsel

Keluarga korban kecelakaan maut yang terjadi di Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, kini sedang berjuang menghadapi rasa duka yang mendalam. Dua kakak beradik, Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki, meninggal dunia dalam insiden tragis tersebut. Sang adik bungsu, Reza Mustaki (32), bersama ibunya, Farida Walangadi (61), menceritakan awal mula mereka mengetahui kabar duka hingga kenangan terakhir bersama kedua kakaknya.

Pengalaman Awal Mengetahui Kabar Duka

Reza dan ibunya sedang berada di Manado pada saat kejadian kecelakaan terjadi. Saat itu, Fanny dan Yessi pergi ke Manado untuk merayakan hari raya bersama keluarga. Karena kondisi kaki Reza yang luka, mereka memutuskan untuk pergi ke Manado agar bisa bersama dengan ibunya yang juga sedang berada di sana.

Awalnya, Reza tidak memiliki firasat apa pun. Biasanya, ketika Fanny dan Yessi berangkat dari Gorontalo, mereka selalu memberi kabar. Namun, kali ini, tidak ada informasi sama sekali. Pada pagi hari, sekitar jam 7, Reza mencoba memeriksa media sosial seperti Facebook, tetapi tidak ada berita kecelakaan yang muncul. Ia kemudian mencoba tidur kembali.

Tidak lama setelah itu, sekitar pukul 09.00, seorang teman memberi kabar tentang kecelakaan. Dari cara temannya menyampaikan informasi sambil menangis, Reza sudah menduga bahwa hal buruk telah terjadi. Meski hatinya hancur, ia berusaha tenang demi sang ibu.

Menghadapi Duka dengan Tenang

Reza mengaku bahwa ia berusaha menjaga ketenangan agar tidak membuat ibunya semakin sedih. Ia langsung mematikan handphone dan meminta ibunya untuk bersabar. Ia percaya bahwa kesabaran adalah cara terbaik untuk menghadapi duka.

Meskipun menangis, ia menghindari meratapi berlebihan atau menyalahkan takdir. Di tengah duka, Reza memilih untuk mengambil peran dalam pengurusan jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi kedua kakaknya.

Penghormatan Terakhir untuk Kedua Kakak

Reza meminta izin kepada keluarga untuk membantu pengurusan jenazah. Ia juga menghubungi teman-temannya untuk membantu persiapan pengurusan. Selain itu, ia memohon izin untuk menjadi imam salat jenazah, sebagai persembahan terakhir bagi kedua kakaknya sebelum dimakamkan.

Menurut Reza, kedua kakaknya dikenal sebagai sosok yang baik dan penuh kepedulian di lingkungan sekitar. Mereka bahkan sering mencatat ulang tahun tetangga di kalender dan berusaha merayakan meski dalam skala sederhana. Jika ada tetangga yang meninggal, mereka selalu membantu dari awal sampai hari ke-40, termasuk dalam pembiayaan.

Tanda-Tanda Sebelum Kecelakaan

Reza juga mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, ada momen yang terasa seperti firasat. Seminggu sebelum kecelakaan, kakak kedua memberi video doa kepada orang tua, sementara kakak pertama memberi caption permohonan maaf kepada ibu. Biasanya, permohonan maaf hanya dilakukan saat Lebaran, namun kali ini terjadi lebih awal.

Kronologi Kecelakaan

Berdasarkan kesaksian penumpang selamat, kecelakaan diduga dipicu oleh aksi kejar-kejaran antar-sopir di jalan. Penumpang sempat menyarankan sopir untuk melaju pelan karena ada yang tidur. Namun, kendaraan lain tidak memberi jalan saat mau mendahului. Akhirnya, sopir banting setir dan menabrak pohon, sehingga kecelakaan terjadi.

Harapan Keluarga

Keluarga berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi para pengemudi agar lebih mengutamakan keselamatan penumpang. Reza berharap ini menjadi efek jera bagi para sopir agar tidak membawa emosi di jalan. Ia percaya bahwa jika ajal sudah datang, di mana pun bisa terjadi. Namun, jangan sampai karena emosi dan gengsi di jalan, nyawa penumpang terkorbankan.

Kenangan Terakhir dari Sang Ibu

Farida Walangadi hanya bisa mengenang kebaikan anak-anaknya semasa hidup. Ia mengatakan bahwa setiap saat, apa yang ia butuhkan pasti ada. Bahkan, ia tidak pernah meminta apa-apa. Ia juga mengungkapkan kenangan terakhir yang kini terasa sangat mengiris hati. Masih ada barang-barang mereka dalam plastik yang biasanya akan diberikan ke orang lain. Ada daster sekitar delapan dan blus-blus juga. Mungkin, mereka sudah niatkan untuk diberikan ke seseorang.

Di balik duka mendalam, keluarga mengenang kedua korban sebagai pribadi yang penuh kebaikan dan kepedulian. Mereka berharap tragedi ini menjadi peringatan agar keselamatan di jalan tidak lagi diabaikan.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *