Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis Andrie Yunus
Pada malam hari tanggal 12 Maret 2026, seorang aktivis yang dikenal sebagai Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, mengalami penyiraman air keras oleh dua orang tak dikenal. Peristiwa ini terjadi di kawasan Jakarta Pusat dan menimbulkan luka serius pada tubuh korban.
Menurut informasi yang diperoleh dari Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, penyiraman itu terjadi setelah Andrie Yunus menghadiri sebuah siniar berjudul “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sekitar pukul 23.00 WIB. Setelah kejadian tersebut, Andrie langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan darurat. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa korban mengalami luka bakar sebesar 24 persen, terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata.
Dimas menyatakan bahwa kasus penyiraman ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat, khususnya para pembela hak asasi manusia (HAM). Ia menegaskan bahwa peristiwa ini harus segera mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk lembaga penegak hukum dan masyarakat sipil. Aparat kepolisian juga telah melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan tersebut. Menurut Dimas, upaya penyiraman air keras terhadap korban dapat mengakibatkan luka fatal yang serius hingga meninggal dunia.
Ciri-ciri Pelaku
KontraS memberikan informasi tentang ciri-ciri kedua pelaku penyiraman terhadap Andrie Yunus:
- Pelaku pertama (pengendara)
- Laki-laki
- Mengenakan kaus berwarna kombinasi putih-biru
- Celana gelap yang diduga jins
-
Helm berwarna hitam
-
Pelaku kedua (penumpang)
- Laki-laki
- Menggunakan penutup wajah/masker/bluff berwarna hitam yang menutupi setengah wajah
- Kaus berwarna biru tua
- Celana panjang berwarna biru yang dilipat menjadi pendek dan diduga berbahan jins
Kronologi Kejadian
Menurut konfirmasi dari KontraS, penyiraman itu terjadi menjelang tengah malam. Pukul 23.37, Andrie Yunus sedang mengendarai kendaraan roda dua miliknya di Jalan Salemba I, Talang. Dua orang pelaku kemudian menghampiri dengan melawan arah Jalan Talang (Jembatan Talang) menggunakan kendaraan roda dua, yakni diduga motor matik Honda Beat keluaran tahun 2016 sampai dengan 2021.
Salah satu pelaku lalu menyiramkan air keras ke Andrie hingga mengenai tubuh bagian kanan korban. Andrie langsung berteriak kesakitan dan menjatuhkan motornya. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat di Jakarta dan mendapat penanganan darurat. Matanya terkena air keras. Menurut pemeriksaan, tidak ada barang milik Andrie yang dirampas saat peristiwa terjadi.
Kecaman dari Tokoh Akademis
Guru besar ilmu hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar, mengecam aksi penyiraman air keras terhadap Andrie. Ia menyampaikan kecamannya dengan tegas, “Baru mendengar berita teror buruk yang terjadi buat teman aktivis. Terkutuklah kalian, pengecut!” Zainal juga membagikan ulang siaran pers dari KontraS mengenai kasus Andrie.
Profil Andrie Yunus
Andrie Yunus adalah alumnus Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera. Ia menempuh pendidikan di sana dari tahun 2016-2020. Skripsi yang ditulis oleh Andrie berjudul Peran Paralegal dalam Mewujudkan Persamaan di Hadapan Hukum: Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor: 292/PID.SUS/2018/PN.PST.
Berdasarkan informasi di akun LinkedIn-nya, sebelum bergabung dengan KontraS, Andrie telah memiliki sejumlah pengalaman lain. Di antaranya Legal Intern di LBH APIK Jakarta dan Legal Intern di LBH Jakarta. Selanjutnya, Andrie bekerja di LBH Jakarta sebagai advokasi hukum publik dari tahun 2020-2022. Setelah itu, dia pindah ke KontraS. Saat ini Andrie Yunus menjabat sebagai Wakil Koordinator KontraS.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











