Persiapan Timnas U-17 Indonesia untuk Piala AFF 2026
Pelatih Timnas Indonesia U-17, Kurniawan Dwi Yulianto, sedang berupaya memperkuat kerangka tim menjelang Piala AFF U-17 2026. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan memanggil tiga pemain diaspora dari Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Namun, upaya ini menghadapi tantangan yang tak terduga akibat situasi geopolitik di wilayah Timur Tengah.
Tantangan Logistik dan Keamanan Penerbangan
Salah satu pemain dari Inggris kini menghadapi kendala dalam mendapatkan tiket penerbangan ke Jakarta. Rute penerbangan yang biasanya digunakan harus melalui zona konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, yang membuat maskapai mencari alternatif lain. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam menemukan tiket aman.
“Satu pemain dari Inggris masih mencari solusi terkait tiket karena rute penerbangan harus melalui kawasan Timur Tengah yang sedang dilanda perang,” ujar Kurniawan di SCTV Tower, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Meski nama-nama mereka masih dirahasiakan, Kurniawan memastikan ketiganya telah dipantau secara mendalam melalui rekaman video dan komunikasi intensif dengan pihak keluarga. Bagi Si Kurus—julukan Kurniawan—siapa pun yang memegang paspor Indonesia memiliki hak yang sama untuk membela panji Garuda, asalkan memiliki kualitas yang sesuai dengan strategi tim.
Mencari ‘Game Plan’ di Tengah Ketidakpastian
Pemanggilan tiga diaspora ini merupakan bagian dari persiapan serius menuju Piala AFF U-17 yang akan digelar pada 11–23 April mendatang. Kurniawan ingin melihat kemampuan mereka secara langsung di lapangan, bukan sekadar lewat layar kaca.
“Kami tidak bisa memantau mereka berkompetisi secara penuh di sana. Jadi, mengundang mereka datang adalah langkah paling adil untuk menilai performa sesuai ekspektasi kami,” jelas legenda sepak bola Indonesia tersebut.
Namun, kendala izin klub juga menjadi hambatan. Karena mereka terikat kontrak profesional di luar negeri, Timnas Indonesia harus bernegosiasi dengan hati-hati. Kurniawan menyebut akan ada skala prioritas jika izin dari klub induk sulit didapatkan, serupa dengan situasi yang pernah dialami Matthew Bakker sebelumnya.
Grup Neraka dan Strategi Mentalitas
Berdasarkan hasil undian (drawing) yang digelar di SCTV Tower, Jakarta, Jumat (6/3/2026), Timnas Indonesia U-17 dipastikan masuk ke dalam “Grup Neraka” yang menjanjikan tensi tinggi sejak laga perdana. Garuda Muda tergabung di Grup A bersama rival abadi Malaysia, kekuatan regional Vietnam, serta Timor Leste.
Menanggapi hasil tersebut, pelatih kepala Kurniawan Dwi Yulianto tidak gentar. Alih-alih mengeluhkan hasil undian, legenda sepak bola Indonesia ini justru memilih fokus membangun benteng mental para pemain mudanya.
Bagi Kurniawan, menghadapi tim seperti Vietnam atau Malaysia di level usia tumbuh kembang memerlukan lebih dari sekadar strategi di atas kertas. Ia menekankan pentingnya menanamkan Winning Mentality (Mental Juara) agar para pemain tidak silau dengan nama besar lawan.
“Di usia seperti ini, kami ingin mendorong mereka agar selalu memiliki winning mentality. Jadi apapun pertandingannya, baik uji coba maupun turnamen resmi, semuanya sama pentingnya. Kami tidak ingin mereka memilih-milih lawan,” tegas Kurniawan dengan nada lugas.
Jembatan Menuju Piala Asia
Ajang Piala AFF U-17 yang akan berlangsung pada 11–23 April 2026 ini bukan sekadar mengejar trofi regional. Kurniawan memproyeksikan turnamen ini sebagai kawah candradimuka sebelum Indonesia berlaga di panggung yang lebih besar, yakni Piala Asia U-17 pada Mei mendatang.
“Turnamen ini menjadi persiapan awal yang sangat krusial. Kami akan memberikan 100 persen di setiap laga. Kami menghormati semua lawan, namun kami datang untuk menang,” tambahnya.
Dukungan publik dipastikan akan membakar semangat skuad Garuda Muda, mengingat turnamen ini akan digelar di rumah sendiri. Dua stadion ikonik di Jawa Timur, yakni Stadion Gelora Delta Sidoarjo dan Stadion Gelora Joko Samudro Gresik, telah ditunjuk sebagai saksi bisu perjuangan anak asuh Kurniawan Dwi Yulianto.
Dengan rivalitas panas melawan Malaysia dan Vietnam yang sudah menanti di depan mata, mampukah mental juara yang ditanamkan Kurniawan membawa Indonesia terbang tinggi di hadapan pendukung sendiri?











