Kasus Kematian Gita Fitri Ramadani: Dugaan Keterlibatan Oknum Polisi
Kasus kematian Gita Fitri Ramadani (25) yang ditemukan tewas di kebun pepaya Desa Talang Sawah, Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, terus menjadi perhatian publik. Dugaan keterlibatan oknum polisi dalam penanganan kasus ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kejanggalan.
Penyelidikan Awal dan Proses Autopsi
Gita Fitri Ramadani ditemukan tewas pada Rabu (4/2/2026) dini hari. Awalnya, pihak rumah sakit menduga korban meninggal akibat tersengat aliran listrik. Namun, penyidik Polres Kepahiang menetapkan satu orang tersangka berinisial MK, yaitu pemilik kebun tempat korban ditemukan. Tersangka dijerat Pasal 474 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait kelalaian yang mengakibatkan kematian.
Meski hasil visum tidak menemukan tanda kekerasan, pihak kepolisian tetap memutuskan untuk melakukan autopsi sebagai bentuk itikad baik kepada keluarga korban. Proses autopsi dilakukan oleh tim forensik kepolisian di sekitar area pemakaman yang telah dipasangi tenda dan ditutup kain berwarna hijau.
Pembongkaran Makam dan Aksi Warga
Pada Selasa (3/3/2026), Polres Kepahiang membongkar kuburan Gita Fitri Ramadani untuk keperluan autopsi lanjutan. Pembongkaran makam dilakukan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Batu Bandung dan disaksikan langsung oleh pihak keluarga korban. Ratusan warga setempat juga hadir dan menggelar aksi dengan membawa bendera kuning sebagai bentuk tuntutan keadilan atas meninggalnya korban.
Proses pembongkaran jenazah turut dibantu oleh warga setempat sebelum kemudian dilakukan autopsi oleh tim kepolisian. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat peduli dengan proses hukum yang sedang berlangsung.
Kejanggalan dalam Kasus Kematian
Berdasarkan informasi dari Kepala Desa Batu Bandung, Iwan Trabas, ada beberapa kejanggalan dalam kematian Gita Fitri Ramadani. Korban ditemukan di belakang area kebun wilayah Desa Talang Sawah, Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang, pada tengah malam. Saat itu, korban diketahui sedang mengantar neneknya ke Rejang Lebong.
Selain itu, handphone yang biasa digunakan korban tidak ditemukan, sedangkan perhiasan korban masih ada di tubuh korban. Menurut Iwan, bekas hangus di pergelangan tangan kanan dan luka di pergelangan kaki menjadi indikasi adanya dugaan tersengat listrik.
Dugaan Keterlibatan Oknum Polisi
Dugaan keterlibatan oknum polisi dalam penanganan kasus ini muncul setelah kuasa hukum korban, Rustam Efendi, menyampaikan beberapa kejanggalan. Menurutnya, kinerja kepolisian yang melakukan olah TKP satu minggu setelah kejadian dapat menimbulkan hilangnya alat bukti. Ia juga menyayangkan keputusan pihak kepolisian yang telah menetapkan tersangka sebelum ditemukan alat bukti serta dilakukan proses autopsi jasad korban.
Rustam menjelaskan bahwa meteran yang menjadi sumber arus listrik jerat tersebut telah diganti atas perintah oknum kepolisian. “Dan meteran listrik di pondok itu dinormalkan kembali, diganti dan yang memerintahkan itu oknum polisi,” ungkap Rustam.
Selain itu, ia menyebutkan adanya alat bukti yang tidak ditunjukkan, seperti empat botol infus, yang dianggap janggal. Hal ini menimbulkan dugaan adanya pelanggaran kode etik serta penyalahgunaan wewenang dalam proses penanganan perkara kematian Gita Fitri.
Laporan Resmi ke Polda Bengkulu
Oleh sebab itu, Rustam melaporkan secara resmi dua oknum anggota Polres Kepahiang ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Bengkulu. “Setelah kami kaji dan teliti, kita menyampaikan laporan resmi kepada pihak Polda Bengkulu terkait adanya keterlibatan dua oknum polisi dalam peristiwa kematian Gita,” kata Rustam.
Proses Penyelidikan Lanjutan
Saat ini, Satreskrim Polres Kepahiang masih terus mendalami kasus tersebut guna memastikan rangkaian peristiwa secara menyeluruh. Keluarga korban dan masyarakat setempat tetap menantikan hasil penyelidikan yang transparan dan adil.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











