Kehidupan Spiritual dan Pentingnya Keberagamaan yang Sejati
Dalam sejarah dunia Islam, terdapat berbagai skandal spiritual yang menyebabkan jatuhnya makhluk dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan. Malaikat jatuh karena mereka membangkang (aba) dan takbur (istikbar). Sementara itu, manusia jatuh ke bumi karena tidak mampu mengendalikan nafsu.
Dalam sebuah hadis yang disampaikan dalam kitab Ihya Ulum al-Din karya Imam Al-Gazali, diceritakan tentang seorang alim dan ahli ibadah yang sepenuhnya menyalurkan waktu dan pikirannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia memilih mengasingkan diri dari keramaian demi menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi dosa dari orang-orang awam.
Pada suatu hari, seorang pelacur datang mencari ulama tersebut untuk curhat dan meminta nasihat bagaimana meninggalkan dunia hitam yang selama ini ia geluti. Ia juga bertanya apakah masih ada harapan Tuhan untuk memaafkan dan menerima tobatnya setelah hidupnya yang penuh dengan kesalahan.
Mendengar permintaan itu, sang ahli ibadah menolak dengan berkata bahwa ia tidak ingin menodai dirinya dengan berkomunikasi dengan orang kotor seperti itu. Setelah mendengarkan cerita tersebut, Nabi bersabda bahwa sang ahli ibadah adalah penghuni neraka, sedangkan perempuan yang ingin bertaubat adalah penghuni surga. Subhanallah.
Riwayat ini mengingatkan kita bahwa kriteria kualitas keberagamaan seseorang tidak diukur dari banyaknya ibadah mahdhah yang dilakukan, tetapi dari ibadah sosial seperti memperhatikan nasib fakir miskin dan anak yatim piatu. Bahkan, celakalah bagi orang salat yang tidak membawa dampak sosial kemasyarakatan. Aktivitas ibadah dan spiritual yang dilakukan tanpa memperdulikan lingkungan masyarakat di mana ia berada justru bisa membuatnya terjebak dalam ego spiritual atau kesombongan spiritual.
Ego spiritual merujuk pada orang-orang yang terlalu mengedepankan hubungan vertikalnya dengan Tuhan tanpa peduli pada lingkungan masyarakat sekitarnya. Mereka cenderung menghindar karena merasa sudah tidak selevel dengan orang lain. Mereka mengklaim dirinya sebagai orang-orang kelas atas dalam dunia spiritual. Mereka memilih-pilih sahabat dan menghindari orang-orang yang justru membutuhkan perhatian dan kasih sayang serta bimbingan.
Jika orang-orang ini dijauhi, maka mereka semakin jauh dari Tuhan, sementara kita dengan asyiknya beribadah sendirian tanpa kehadiran mereka yang boleh jadi menyita waktu, tenaga, pikiran, dan materi. Dalam hal ini, kita termasuk kategori ego spiritual (inniyyah).
Keangkuhan dan kesombongan spiritual tidak berbeda dengan kesombongan duniawi yang lebih menekankan kebanggaan individu. Orang-orang seperti ini disebut dalam Alquran tidak memiliki bekas-bekas sujud (atsar alsujud). Bekas sujud dalam Alquran bukan sekadar menghitamkan dahi di atas kening seperti yang dilakukan oleh beberapa orang yang memahami secara tekstual ayat tadi. Atsar sujud sebenarnya merujuk pada komitmen sosial yang tinggi dimiliki seseorang sebagai bagian dari penghayatan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya.
Termasuk dalam kesombongan spiritual adalah menikmati pujian orang-orang yang mengaguminya lantaran banyaknya ibadah yang dilakukan. Mungkin ia melaksanakan puasa Senin-Kamis, salat-salat rawatib tidak ada yang ditinggalkan, dan zikirnya jalan terus, lalu dengan enteng memandang rendah orang lain yang tidak seperti dengannya. Amal-amal kebajikannya lebih banyak digunakan untuk mengaktualisasikan diri sehingga orang takjub dan menikmati pujian-pujian mereka.
Padahal, mungkin yang bersangkutan pada saat yang bersamaan ia meninggalkan aib-aib dan dosa-dosa langganan yang terus-menerus dilakukan. Hanya karena keterampilannya menggunakan topeng-topeng kepalsuan maka ia tidak dipermalukan orang lain.
Kesombongan spiritual tetap akan menjadi tantangan umat masa depan. Bahkan mungkin akan semakin meningkat seiring dengan makin berkembangnya alat komunikasi canggih yang dapat digunakan untuk memuji atau menerima pujian. Ada fenomena, jika tidak ada yang memuji, misalnya dengan mencium tangan atau berbagai macam bentuk kultus lainnya, maka sehari itu kehilangan semangat. Semakin banyak yang memujinya semakin mabuk dengan pujian itu lantas rekayasa dilakukan sedemikian rupa agar orang lain memujinya. Subhanallah.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











