Teror yang Mengancam Kehidupuan Tiyo Ardianto dan Keluarganya
Ketua Badan Eksekutiv Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, kini menjadi korban teror yang semakin mengerikan. Awalnya, teror hanya menimpa dirinya sendiri, namun kini menyebar hingga ke 30 pengurus BEM UGM. Bahkan, ibundanya juga tidak luput dari ancaman ini.
Awal Teror yang Menjelma
Teror ini bermula setelah BEM UGM mengeluarkan kritik keras terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Kritik tersebut mencakup penggunaan diksi “Presiden Bodoh” dan sorotan terhadap alokasi anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejak saat itu, Tiyo dan keluarganya serta pengurus BEM UGM mulai menerima serangan berupa pesan singkat, penguntitan, dan ancaman penculikan.
Penyebaran Hoaks dan Fitnah
Serangan awal berbentuk pembunuhan karakter melalui rekayasa digital dan penyebaran hoaks di media sosial. Tiyo difitnah dengan tuduhan asusila hingga korupsi dana kemahasiswaan. Ia juga disebarkan konten “Awas LGBT” dengan foto dirinya. Selain itu, fotonya direkayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membuat narasi yang merusak reputasinya.
Tudingan Korupsi dan Manipulasi KIP Kuliah
Selain isu moral, Tiyo juga dituduh memanipulasi penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Narasi tersebut menyebut bahwa ia memiliki relasi kuasa yang memungkinkan orang-orang tertentu mendapatkan KIP. Namun, Tiyo membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa jika benar ia melakukan penggelapan dana, maka sudah tidak lagi menjadi Ketua BEM UGM.
Eskalasi Teror hingga Ancaman Pembunuhan
Eskalasi teror tidak berhenti di dunia digital. Tiyo mengaku menerima informasi tentang rencana operasi pembunuhan terhadap dirinya. Ada platform gerakan yang dihubungi oleh akun tidak dikenal yang mengaku sebagai dosen Unpad. Orang tersebut menyampaikan bahwa BIN telah menyiapkan operasi pembunuhan untuk Ketua BEM UGM.
Intimidasi ke Ibu di Desa
Bagian paling berat bagi Tiyo adalah ketika ibunya menjadi sasaran teror. Ibu dari perempuan desa ini tidak terbiasa dengan dinamika politik nasional. Pesan-pesan yang masuk ke ibunya sangat menyudutkan. Isi pesan tersebut menyebut bahwa anaknya menilap uang dan orang tua ketua BEM kecewa karena anaknya menilap uang.
Pengurus BEM UGM Juga Diteror
Tidak hanya keluarga, sekitar 20–30 pengurus BEM UGM juga menerima teror serupa. Pesan-pesan yang sama diterima oleh mereka, yaitu bahwa Ketua BEM UGM melakukan penggelapan uang.
Kritik terhadap Program MBG
Dalam forum tersebut, Tiyo menegaskan kembali kritik BEM UGM terhadap program MBG. Ia menilai bahwa solusi yang diberikan oleh pemerintah tidak efektif dan justru menjadi lahan korupsi. Ia juga menyoroti kontras anggaran antara pendidikan dan MBG.
Respons Pemerintah
Tiyo juga menyampaikan kritik terhadap respons pemerintah, khususnya Menteri HAM Natalius Pigai. Ia menegaskan bahwa negara harus hadir dalam menghadapi teror yang dialami oleh masyarakat.
Sikap Tegas dan Komitmen BEM UGM
Meski menghadapi teror, Tiyo menegaskan bahwa BEM UGM akan tetap berjuang tanpa takut atau gentar. Ia menekankan bahwa BEM UGM akan terus mengawal persoalan publik tanpa henti.











