"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Keributan Meriam dan Roket Guncang Laut Bangka, TNI AL Uji Skema Anti Akses dan Anti Amfibi

Latihan Anti Akses dan Anti Amfibi TNI AL di Kepulauan Bangka Belitung

Latihan anti akses dan anti amfibi yang digelar oleh TNI Angkatan Laut (AL) di Kepulauan Bangka Belitung menjadi salah satu momen penting dalam penguatan pertahanan pantai. Dalam latihan ini, sebanyak sembilan kapal perang Republik Indonesia (KRI) dikerahkan untuk menguji kemampuan operasional dalam skenario pertahanan laut yang kompleks.

Peralatan dan Kekuatan yang Dikerahkan

Dalam latihan tersebut, TNI AL mengerahkan berbagai jenis kapal perang seperti KRI Brawijaya-320, KRI Raden Eddy Martadinata-331, KRI John Lie-358, KRI Cut Nyak Dien-375, KRI Tjiptadi-381, KRI Halasan-630, KRI Surik-645, KRI Semarang-594, serta KRI Pulau Fani-731. Selain itu, kekuatan udara juga turut terlibat dengan penggunaan Pesawat Patroli Maritim CN-235 MPA, Pesawat Cassa untuk penerjunan tempur, dua helikopter Panther, hingga Camcopter milik Puspenerbal.

Tidak hanya itu, drone surveillance dan drone kamikaze juga diuji dalam skenario operasi terintegrasi. Teknologi baru seperti mobile command post atau pos komando bergerak juga digunakan untuk memastikan pengendalian operasi lebih fleksibel.

Aksi VBSS dan Hujan Tembakan

Dalam dokumentasi video yang dirilis Dinas Penerangan TNI AL, prajurit dari KRI Brawijaya-320 terlihat melakukan Visit, Board, Search and Seizure (VBSS) terhadap sebuah kapal kayu yang diduga menjadi target simulasi. Dengan senjata laras panjang dan perlengkapan pelindung diri, mereka memanjat tangga dan menguasai geladak kapal secara taktis.

Di sisi lain, meriam 76 mm dari KRI Raden Eddy Martadinata-331 ditembakkan ke arah sasaran laut. Semburan api keluar dari laras meriam, diikuti kepulan asap dan percikan air di titik jatuh proyektil. Sementara itu, Korps Marinir juga mengerahkan sistem roket multi peluncur RM-70 Grad (Vampire) kaliber 122 mm. Puluhan roket meluncur beruntun dalam hitungan detik menuju sasaran di laut lepas.

Pendaratan Amfibi dan Operasi Terpadu

Latihan ini juga menampilkan operasi pendaratan amfibi. Pasukan Marinir diterjunkan dari kapal untuk menguasai titik pendaratan yang telah ditentukan. Manuver kapal pendarat, dukungan tembakan roket, hingga pengintaian udara menjadi satu rangkaian operasi terpadu.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Muhammad Ali memantau langsung jalannya latihan dari pos pengamatan dengan teropong di tangan. Di sampingnya tampak Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani. Ali menyatakan bahwa latihan ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan dengan skenario selengkap ini.

“Kita latihkan baru pertama kali penggunaan MLRS 122 mm untuk sasaran laut. Biasanya untuk darat. Ternyata cukup efektif,” ujarnya. Menurutnya, latihan ini juga melibatkan teknologi baru yang baru diterima TNI AL, seperti drone surveillance, drone kamikaze, serta mobile command post atau pos komando bergerak yang memungkinkan pengendalian operasi lebih fleksibel.

Respons Geopolitik

KSAL menegaskan bahwa latihan ini merupakan respons atas perkembangan situasi geopolitik global dan kawasan. Perairan Indonesia, termasuk di sekitar Bangka Belitung yang berada di jalur strategis Selat Malaka dan Laut Natuna, memiliki arti penting dalam pertahanan nasional.

“Melihat situasi geopolitik saat ini, kita harus selalu siap dalam segala hal. Kita kembangkan dan coba latihan-latihan yang sebelumnya belum pernah kita latihkan,” kata Ali. Latihan anti akses dan anti amfibi dirancang untuk mencegah kekuatan lawan memasuki wilayah perairan strategis Indonesia serta menggagalkan upaya pendaratan musuh di garis pantai.

Dampak bagi Daerah

Bagi Bangka Belitung, latihan skala besar ini menjadi momentum penting. Selain menunjukkan kesiapsiagaan TNI AL, kegiatan tersebut juga berdampak pada peningkatan aktivitas ekonomi lokal, mulai dari sektor logistik hingga akomodasi. Masyarakat setempat yang menyaksikan dari kejauhan mengaku terkesan dengan kekuatan alutsista yang ditampilkan.

Dentuman meriam dan roket yang mengguncang udara menjadi pemandangan langka di wilayah tersebut. Latihan ini sekaligus menegaskan komitmen TNI AL dalam menjaga kedaulatan laut Indonesia. Dengan kombinasi kapal perang modern, dukungan udara, sistem roket, dan teknologi nirawak, pertahanan pantai kini memasuki babak baru yang lebih adaptif dan terintegrasi.

Ke depan, skema latihan serupa akan terus dikembangkan dan disempurnakan. TNI AL menargetkan setiap Komando Daerah Maritim mampu mengimplementasikan konsep anti akses dan anti amfibi sesuai karakteristik wilayahnya. Dentuman yang menggema di Laut Bangka bukan sekadar latihan rutin, melainkan pesan tegas bahwa laut Indonesia dijaga dengan kesiapsiagaan penuh.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *