Pengalaman Menyamar dan Laporan yang Diabaikan
AKBP Arif Fazlurrahman, seorang perwira polisi yang dikenal unik dan inspiratif, membagikan pengalamannya saat menyamar menjadi warga biasa untuk melaporkan kehilangan sepeda di kantor polisi. Namun, apa yang dialaminya justru membuatnya marah besar karena oknum petugas tidak memberikan pelayanan yang layak.
Pengalaman ini terjadi enam tahun lalu. Saat itu, AKBP Arif mendatangi sebuah polsek untuk melaporkan kasus pencurian sepedanya. Ia tidak mengungkapkan identitasnya sebagai seorang polisi. Dari ceritanya, ia menceritakan bahwa petugas piket tidak serius dalam menerima laporan tersebut. Bahkan, oknum petugas tersebut bertanya tentang harga sepeda yang hilang, yang membuat emosinya meledak.
“Emang berapa harganya?” tanyanya menirukan percakapan sang oknum. Perkataan ini membuat hati AKBP Arif hancur. Ia langsung melontarkan makian dan meminta oknum tersebut memanggil Kapolseknya. “Baru saya marah: ‘Woi brengsek kamu. Panggil Kapolsekmu’. Saya bilang. Saya pernah jadi Kapolsek,” katanya.
Setelah mendengar pernyataan tersebut, sikap oknum petugas berubah. “Baru dia bilang: ‘siap…siap ndan’.” Dengan pengalaman ini, AKBP Arif ingin semua aparat polisi memiliki empati kepada masyarakat, terutama yang sedang menghadapi masalah.
Harta Kekayaan yang Tercatat
Berdasarkan dokumen Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), AKBP Arif Fazlurrahman terakhir kali melaporkan harta kekayaannya pada 27 Januari 2026/Periodik – 2025. Total harta kekayaannya tercatat sebesar Rp. 3.583.216.944 atau sekitar Rp 3,5 miliar.
Berikut adalah rincian harta kekayaan AKBP Arif:
A. TANAH DAN BANGUNAN
- Tanah dan Bangunan Seluas 176 m2/150 m2 di KAB / KOTA KOTA TANGERANG SELATAN, HASIL SENDIRI: Rp. 1.016.000.000
- Tanah Seluas 1.856 m2 di KAB / KOTA TULUNGAGUNG, HASIL SENDIRI: Rp. 406.000.000
- Tanah dan Bangunan Seluas 268 m2/170 m2 di KAB / KOTA KOTA TANGERANG SELATAN: Rp. 1.370.000.000
B. ALAT TRANSPORTASI DAN MESIN
- MOBIL, MAZDA MINIBUS Tahun 2020, HASIL SENDIRI: Rp. 300.000.000
C. HARTA BERGERAK LAINNYA
- Rp. 6.000.000
D. SURAT BERHARGA
- Rp. —-
E. KAS DAN SETARA KAS
- Rp. 485.216.944
F. HARTA LAINNYA
- Rp. —-
Sub Total: Rp. 3.583.216.944
III. UTANG: Rp. —-
IV. TOTAL HARTA KEKAYAAN (II-III): Rp. 3.583.216.944
Profil Singkat AKBP Arif Fazlurrahman
AKBP Arif Fazlurrahman lahir di Jakarta pada 9 Juni 1984. Ia menyelesaikan pendidikannya di Akademi Kepolisian (Akpol) pada tahun 2005. Selain memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik, ia juga dikenal dengan latar belakang keagamaannya yang kuat. Ia pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Assalam, Solo, dan menyelesaikan pendidikan MTs dan MA di sana.
Pengalaman nyantri ini membentuk karakter disiplin, empati, dan religius dalam dirinya. Karier di kepolisian dimulai dengan penugasan strategis. Ia pernah menjabat sebagai Kapolsek Kelapa Gading pada 2018 dan menjadi Kasatgas Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) di Ditlantas Polda Metro Jaya pada tahun 2020.
Setelah itu, ia dipercaya menjadi Kabag Binopsnal Ditlantas Polda Jawa Timur dan kemudian Kasatlantas Polrestabes Surabaya. Di Surabaya, ia dikenal sebagai perwira yang gemar berinovasi, terutama dalam edukasi lalu lintas untuk menekan angka kecelakaan.
Pada 14 Januari 2025, AKBP Arif resmi dilantik sebagai Kapolres Blitar. Setelah kurang lebih satu tahun menjabat, ia dimutasi sebagai Kapolres Lamongan. Ia menggantikan AKBP Agus Dwi Suryanto. Serah terima jabatan tersebut dilaksanakan di Mapolda Jatim pada Senin (12/1/2026).
Harapan AKBP Arif Fazlurrahman
AKBP Arif berharap tidak ada lagi oknum-oknum polisi yang mengabaikan laporan dari masyarakat. Baginya, baik itu kerugian sebesar Rp100 ribu atau Rp500, masyarakat berhak dilayani dengan baik. “Jangan meremehkan masalah orang. Jangan dianggap enteng. Ada yang nilainya secara rupiah murah. Tapi barang tersebut sangat penting,” katanya.
Dengan pengalaman pribadinya, AKBP Arif ingin semua aparat polisi memiliki empati kepada masyarakat, khususnya yang sedang ditimpa musibah. Ia berharap tidak ada lagi oknum polisi yang mengabaikan laporan dari masyarakat. “Mestinya sekarang sudah tidak ada,” tandas dia.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











