"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Bencana Longsor Akibat Hidrometeorologi Kembali Korbankan Jiwa

Bencana Hidrometeorologi Mendominasi Kecelakaan di Indonesia Tahun 2025

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 3.233 kejadian bencana yang terjadi sepanjang tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 99 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi. Sementara itu, bencana geologi hanya menyumbang sekitar 0,96 persen dari total kejadian.

Bencana hidrometeorologi merujuk pada peristiwa alam yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim, terutama yang berkaitan dengan air dan atmosfer. Fenomena ini umumnya dipicu oleh dinamika atmosfer yang berdampak pada perubahan iklim. Jenis-jenis bencana hidrometeorologi meliputi banjir, tanah longsor, angin kencang, siklon tropis, hingga banjir pesisir atau rob.

Berdasarkan data BNPB hingga akhir tahun 2025, tercatat 1.623 orang meninggal dunia, 220 orang hilang, 5.713 orang luka-luka, serta 10.092.416 orang terdampak atau mengungsi akibat bencana sepanjang tahun tersebut. Banjir menjadi bencana paling sering terjadi dengan 1.652 kasus, disusul oleh kejadian cuaca ekstrem sebanyak 714 kali, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebanyak 546 kasus. Selain itu, tercatat 233 kejadian tanah longsor di seluruh Indonesia.

Longsoran di Cisarua Menewaskan Delapan Orang

Sebuah longsoran yang terjadi di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu (24/1/2026), menewaskan setidaknya delapan orang dan puluhan warga masih belum ditemukan. Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, menyebut bahwa ada 113 warga dari 34 kepala keluarga yang menjadi korban longsoran tersebut. Sejauh ini, delapan korban meninggal dunia telah ditemukan oleh petugas, sementara sekitar 82 korban lainnya masih dalam pencarian.

Menurut informasi yang diperoleh, penyebab utama longsoran adalah hujan intensitas tinggi yang mengguyur Jawa Barat dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa curah hujan di Kabupaten Bandung Barat masuk kategori ekstrem. Data BMKG menunjukkan bahwa pos hujan Perkebunan Sukawana mencatat curah hujan sebesar 215,5 milimeter, sedangkan pos hujan Perkebunan Pangheotan mencatat 210,5 milimeter dalam satu hari.

Hujan yang berlangsung secara terus-menerus membuat tanah menjadi jenuh air dan kehilangan daya ikat. Hal ini memicu longsoran yang berpotensi besar untuk terjadi kembali, terutama di wilayah bertopografi perbukitan dengan kondisi tanah labil.

Proses Evakuasi Berlangsung Dramatis

Pantauan di lokasi kejadian menunjukkan bahwa proses evakuasi korban berlangsung dramatis. Petugas membutuhkan waktu hampir satu jam untuk mengeluarkan korban dari timbunan tanah. Keterbatasan alat berat dan perlengkapan turut memperlambat proses evakuasi.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang turun langsung ke lokasi beberapa kali meminta petugas membawa linggis. “Linggis mana linggis,” teriak Dedi. Salah satu korban terjepit batu dan pohon sehingga menyulitkan evakuasi. “Ada korban yang sedang tidur, tergulung kasur dan selimut, lalu tertimpa batu dan pohon. Itu yang membuat proses evakuasi menjadi sulit,” ujarnya.

Setelah beberapa kali diminta, Sekretaris Daerah Jabar Herman Suryatman akhirnya membawa linggis yang dibutuhkan. Proses evakuasi juga sempat terhambat karena akses menuju lokasi dipenuhi warga yang ingin melihat Dedi Mulyadi. Petugas berkali-kali meminta warga yang tidak berkepentingan untuk menjauh.

Di tengah proses evakuasi, warga yang melakukan pencarian menemukan dua korban lainnya. Setelah dievakuasi, jenazah kemudian dibawa ke ambulans untuk diidentifikasi. Ketiga korban tersebut belum diketahui identitasnya dan akan dibawa tim DVI untuk proses identifikasi.

Dedi menilai kawasan terdampak merupakan area alih fungsi lahan yang meningkatkan risiko longsor. Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana merelokasi seluruh rumah warga di sekitar lokasi bencana. Kawasan tersebut dinilai tidak lagi layak huni karena berpotensi longsor susulan. Pemerintah juga menyiapkan bantuan bagi keluarga korban. Setiap kepala keluarga yang anggota keluarganya meninggal dunia akan menerima santunan sebesar Rp25 juta.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *