MATARAM,
Gempa bumi berkekuatan 7,0 yang mengguncang Pulau Lombok pada tahun 2018 menjadi momen penting bagi Romy Hidayat (42) untuk turut serta dalam upaya membantu para lansia. Saat itu, banyak dari mereka menjadi korban gempa, kehilangan rumah, keluarga, dan hidup di tenda pengungsian.
Romy, yang merupakan lulusan S2 dari Universitas Adelaide, Australia ini, memulai perjalanan kemanusiaannya melalui kegiatan amal. Pada saat itu, banyak lansia menjadi korban, dan setelah munculnya pandemi Covid-19, jumlah lansia yang rentan semakin meningkat.
Berawal dari kepeduliannya terhadap para lansia tersebut, Romy mendirikan ‘Rumah Senja’, sebuah yayasan yang fokus pada pemberdayaan dan peningkatan kualitas hidup para lansia di Lombok. Pusat kegiatan Rumah Senja berada di Desa Jenggik, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Berbagai Kegiatan di Rumah Senja
Rumah Senja menawarkan berbagai layanan untuk para lansia, seperti:
Pengobatan dan pemeriksaan kesehatan rutin setiap bulan.
Bantuan operasi katarak ke rumah sakit, termasuk antar-jemput hingga selesai pengobatan.
Edukasi ramah lansia, termasuk pelatihan dan informasi kesehatan.
Pemberdayaan ekonomi dengan pekerjaan yang ramah lansia, seperti menggoreng kopi, beternak, dan bertani.
“Kita menyediakan pekerjaan ramah lansia. Untuk ibu-ibu ada yang menggoreng kopi, sedangkan untuk bapak-bapak ada yang beternak sapi. Jika mereka lelah, mereka bisa berhenti. Prinsip pemberdayaan ekonomi bukan untuk mencari untung, tapi lebih pada memberi manfaat,” ujar Romy.
Rumah Senja juga bekerja sama dengan Puskesmas setempat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan langsung ke rumah lansia yang hanya bisa berbaring di tempat tidur.
Kumpul dan Bersosialisasi
Saat ini, Rumah Senja memiliki 120 lansia, 10 relawan, dan 5 orang pengurus. Di sini, para lansia bisa berkumpul dan bersosialisasi. Setiap minggu sekali, mereka mengikuti senam fisioterapi.
“Para lansia sangat bahagia. Mereka yang sebelumnya tidak punya pekerjaan kini memiliki pekerjaan, yang sebelumnya tidak punya penghasilan kini punya penghasilan. Yang paling penting adalah mereka bisa berkumpul,” kata Romy.
Menurutnya, bagi para lansia, hari berkumpul adalah hal yang ditunggu-tunggu. Secara teori, hal ini dapat menumbuhkan harapan dan memperpanjang usia.
Perluasan Layanan
Selain di Lombok Timur, pada awal Januari 2026, Rumah Senja juga hadir di Dusun Medas, Kabupaten Lombok Barat. Di sana, terdapat 40 lansia dan 4 pendamping.
Sejak didirikan pada tahun 2020, Rumah Senja tidak berjalan sendiri. Yayasan ini berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan BKKBN.
“Kini, kita tidak hanya memberikan layanan kesehatan, tetapi juga sosial ekonomi. Kami membawa sabun mandi, pampers, selimut, kursi roda, dan apa saja yang dibutuhkan lansia,” ujar Romy yang juga seorang PNS di Dinas Kesehatan Provinsi NTB.
Mimpi Besar
Romy memiliki mimpi besar untuk membangun “senior living” Rumah Senja dengan fasilitas lengkap untuk tempat tinggal para lansia.
“Tujuannya adalah agar lansia benar-benar merasa nyaman, bukan hanya dititipkan oleh anak-anak mereka. Mereka datang ke sini untuk mendapatkan hari-hari yang menyenangkan,” jelas Romy.
Namun, pembangunan “senior living” membutuhkan biaya besar. Fasilitas yang diperlukan antara lain klinik, pusat fisioterapi, dan pusat wellness.
“Kami ingin lansia datang ke sini karena mereka memilih, bukan karena terpaksa. Itu adalah mimpi kami. Mudah-mudahan segera dapat dukungan besar untuk mewujudkannya,” tutup Romy.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











