Pengalaman Unik di Balik Layar Film “Teman Tegar Maira”
Film Teman Tegar Maira kembali memperkenalkan kisah yang menarik dan penuh makna. Dalam gala premiernya, bioskop XXI dipenuhi oleh penonton yang antusias menyambut para pemain film ini. Mereka tidak hanya hadir untuk menonton, tetapi juga untuk menyapa dan berfoto bersama aktor-aktornya. Kehadiran mereka mencerminkan antusiasme terhadap kisah yang diangkat dalam film ini.
Cerita yang Lebih Luas
Melalui Teman Tegar Maira, penonton diajak melangkah lebih jauh dari hiruk-pikuk kota menuju pedalaman Papua. Di sana, kisah Tegar berkembang, bertemu dengan Maira, seorang anak masyarakat adat, dan bersama-sama menyusuri cerita tentang alam, budaya, serta perjuangan menjaga hutan yang menjadi sumber kehidupan. Film ini adalah sekuel dari Tegar (2022), namun tidak mengulang konflik yang sama.
Produser film, Chandra Sembiring, menjelaskan bahwa film ini membawa Tegar ke ruang yang lebih luas. “Ini sekuel, tapi ceritanya berbeda. Bukan lagi soal Tegar mau sekolah atau mau berteman, tapi bagaimana Tegar membawa cerita dari Papua tentang alam, budaya, lingkungan, dan petualangannya di sana,” ujarnya.
Mengangkat Isu Penting
Papua dipilih sebagai latar belakang bukan tanpa alasan. Selain jarang diangkat dalam film keluarga Indonesia, wilayah ini memiliki keterkaitan kuat dengan isu krisis iklim yang ingin disuarakan melalui cerita anak-anak. “Kita ingin bicara soal krisis iklim, dan Papua menjadi tempat yang sangat relevan. Di sisi lain, sudah lama sekali tidak ada film anak dan film keluarga yang benar-benar mengambil latar Papua,” tambah Chandra.
Namun, menghadirkan Papua ke layar lebar bukan perkara mudah. Proses produksi menghadapi tantangan besar, mulai dari medan yang sulit, keterbatasan akses, hingga kerja sama dengan masyarakat adat. “Tantangannya banyak, budget besar, lokasi-lokasi yang remote di hutan, lalu kami riset hampir dua tahun. Kami harus membangun komunikasi dengan masyarakat adat, berkolaborasi dengan seniman dan musisi Papua, serta mengembangkan talenta-talenta lokal,” ujar Chandra.
Peran Anak-Anak Lokal
Mayoritas pemain dalam film ini berasal dari kampung-kampung di Papua dan dilatih selama berbulan-bulan. Bagi Chandra, investasi waktu menjadi kunci. “Anak-anak Papua itu punya darah seni yang kuat, akting, menyanyi, menari, semuanya mengalir alami. Setelah latihan sekitar empat bulan, akhirnya film ini bisa terwujud,” katanya.
Sutradara Anggi Frisca menyebut Papua bukan sekadar latar visual, melainkan ruang belajar penting bagi cerita film ini. Menurutnya, Teman Tegar Maira tidak hanya ingin berbicara tentang penyelamatan hutan, tetapi juga tentang cara hidup masyarakat adat yang selaras dengan alam. “Di film ini, Tegar bertemu dengan Maira, seorang anak dari masyarakat adat Papua. Petualangan mereka bukan hanya tentang persahabatan, tapi juga tentang bagaimana masyarakat adat menjaga hutan dan alamnya,” ujarnya.
Pesan yang Tersembunyi
Anggi menekankan bahwa sudut pandang film ini tidak ingin memposisikan masyarakat adat sebagai objek belas kasihan. “Papua itu besar sekali, indah sekali. Kadang kita melihat masyarakat adat itu kasihan, padahal sebenarnya mereka punya cara hidup yang justru lebih terhubung dengan alam. Kita di kota justru bisa banyak belajar dari mereka,” katanya.
Salah satu kekuatan film ini terletak pada sosok Maira, yang diperankan oleh Elizabeth, gadis muda asal Kampung Lobo, Papua. Bagi Elizabeth, Teman Tegar Maira merupakan pengalaman pertamanya bermain film. “Saya senang sekali, tidak sangka juga bisa jadi pemeran utama. Bersyukur dan berterima kasih kepada sutradara dan produser yang sudah mengajak saya bergabung,” ucap Elizabeth dengan senyum malu-malu.
Pengalaman Baru dan Tantangan
Prosesnya pun jauh dari bayangannya tentang dunia film. Elizabeth mengaku tidak melalui casting formal seperti yang sering ia dengar. “Awalnya kita cuma disuruh nyanyi, ngobrol, main-main saja,” ujarnya. Ia bahkan sempat tidak berharap banyak ketika tim kembali ke Jakarta dan Bandung. “Saya sudah nggak berharap bisa tembus. Tapi tiba-tiba nama saya keluar. Dibilang jadi pemeran utama. Rasanya bangga, tapi juga kaget,” katanya.
Tantangan terberat baginya adalah akting menangis. Sesuatu yang terasa sederhana, namun sulit dilakukan. “Akting nangis itu paling susah. Selama latihan enggak pernah keluar air mata. Tapi pas syuting, tiba-tiba bisa keluar sendiri,” ujarnya.
Lewat film ini, Elizabeth berharap pesan tentang hutan Papua bisa sampai ke penonton. “Hutan itu ibu dan orang tua kita, tempat makan masyarakat Papua, jadi harus dijaga,” katanya.
Kesimpulan
Melalui film ini, Tegar berharap penonton, terutama anak-anak, bisa lebih peduli terhadap lingkungan. “Semoga setelah nonton film ini, kita bisa lebih menjaga hutan. Karena hutan itu penting untuk masa depan kita,” ucapnya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











