"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Komentar Bos PSIM Yogyakarta Terkait Aksi Brajamusti dan The Maident di Gate 9-10 SSA Bantul

Perubahan Suasana di Stadion Sultan Agung

Suasana laga kandang PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul kini terasa berbeda. Tepatnya di sudut tribun timur laut, Gate 9 dan 10, yang sejak Desember 2025 mulai dipadati suporter dengan warna dan nuansa baru. Sudut tribun yang sebelumnya cenderung sepi, kini hidup sepanjang pertandingan.

Para suporter di Gate 9-10 menghadirkan atmosfer berbeda dengan lantunan lagu-lagu populer seperti Take Me Home, Country Roads, You’ll Never Walk Alone, hingga Satu Hal yang dinyanyikan secara bergantian selama 90 menit. Gerakan ini juga memiliki ciri khas tersendiri, yakni penggunaan perangkat sound yang dibawa langsung ke dalam tribun.

Tradisi tersebut sejatinya sudah mulai diperkenalkan sejak PSIM masih berlaga di Liga 2 dan bermain di Stadion Mandala Krida. Dengan adanya perubahan ini, para suporter memberikan energi positif yang membawa suasana baru di stadion.

Tanggapan Direktur Utama PSIM Yogyakarta

Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, menyambut positif munculnya gerakan suporter di Gate 9-10 tersebut. Menurutnya, nuansa baru ini bisa menjadi penyegar, khususnya bagi generasi muda untuk kembali meramaikan stadion.

“Ketika melihat itu, ada sesuatu yang baru. Saya berharap ini jadi penyegar untuk generasi yang lebih kekinian. Oh iya ya, ke lapangan sekarang seru, ada nyanyian baru, bisa bikin konten, nonton bareng teman-teman, nyanyi untuk PSIM dan bersenang-senang, daripada nonton sendirian di rumah,” ujar Liana, Minggu (18/1/2026).

Ia menegaskan, dari sisi manajemen, keramaian di stadion menjadi hal yang sangat diharapkan. Menurutnya, kontribusi suporter melalui kehadiran langsung di tribun memiliki dampak besar bagi atmosfer tim.

Liana juga menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi antara manajemen PSIM dengan kelompok suporter, khususnya Brajamusti dan The Maident. Ia menilai Yogyakarta sebagai kota dengan potensi kreativitas dan seni yang luar biasa.

“Jogja ini pusat kreativitas dan seni. Banyak seniman-seniman hebat di sini. Itu harus disinergikan. Dari manajemen, kita bisa support apa supaya ini bisa terealisasi. Kalau teman-teman seniman ini diajak ngobrol, pasti mereka lebih terinspirasi untuk berkarya,” katanya.

Menurut Liana, keterlibatan unsur seni dan kreativitas suporter sangat dibutuhkan PSIM ke depan, tidak hanya untuk mendukung tim di dalam lapangan, tetapi juga untuk memperkuat identitas dan budaya sepak bola Yogyakarta.

Terharu dengan Perubahan Sikap Suporter

Sebelumnya, Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, mengaku terharu melihat perubahan sikap suporter Laskar Mataram saat berkompetisi di BRI Super League 2025/2026. Hal tersebut dinilai menjadi cerminan kedewasaan dan kematangan mental pendukung PSIM di musim debut klub di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Liana menuturkan, dirinya menjadi saksi langsung suasana tetap positif di stadion meski PSIM gagal menang. Ia membandingkan atmosfer dukungan saat ini dengan pengalaman sebelumnya ketika PSIM masih berlaga di Liga 2.

“Waktu hasilnya draw 2-2 lawan PSBS, saya lihat sendiri bagaimana teman-teman suporter. Kalau dulu di Liga 2, draw saja bisa sangat reaktif. Tapi kemarin PSIM justru dinyanyiin dan tetap didukung,” ujar Liana, Jumat (16/1/2026).

Padahal, lanjut Liana, PSBS Biak merupakan tim yang secara peringkat berada jauh di bawah PSIM. Namun hal itu tidak membuat suporter bereaksi negatif terhadap hasil pertandingan.

“Di situ saya terharu. Saya melihat ada perubahan perilaku suporter PSIM secara keseluruhan. Ini memang yang saya harapkan,” katanya.

Menurut Liana, perubahan tersebut menunjukkan tumbuhnya rasa syukur dan kesadaran bahwa PSIM adalah klub kebanggaan yang mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), bukan sekadar soal hasil pertandingan semata.

“Ini bukan bicara tentang individu, ini klub sepak bola yang mewakili DIY yang kita cintai bersama. Dengan hasil apa pun harusnya didukung. Apalagi PSIM sudah terlalu lama di Liga 2 dan sekarang bisa ada di kasta tertinggi nasional, itu sesuatu yang membanggakan,” ucapnya.

Perjuangan Panjang

Liana juga mengingatkan agar seluruh elemen PSIM, termasuk manajemen, tidak melupakan perjuangan panjang klub yang sempat 18 tahun tak kunjung promosi.

“Saya harapkan jangan lupa dengan perjuangan ini. Jangan sampai setelah promosi kita lupa untuk bersyukur. Harus tetap belajar bersyukur,” tegasnya.

Ia bahkan mengaku selalu menanamkan nilai tersebut kepada jajaran manajemen. Liana menegaskan dirinya tidak ingin ada energi negatif yang justru ‘mengutuk’ klub sendiri ketika hasil tidak sesuai harapan.

“Saya marah kalau ada yang mengucapkan hal-hal negatif ke PSIM. Misalnya bilang ‘kalahan sial’, itu sama saja memberi kutuk ke klub kita sendiri,” kata Liana.

Liana kemudian mengenang pengalaman pahit di masa lalu saat PSIM masih berjuang promosi. Ia pernah merasakan atmosfer stadion yang penuh umpatan dan lemparan botol, namun tetap memilih berpikir positif terhadap tim.

“Hati saya selalu bilang, saya yakin PSIM bisa, PSIM pasti menang. Dan akhirnya besoknya bisa sapu bersih. Itu yang saya pengin, mindset positif itu,” ujarnya.

Fondasi Penting

Menurut Liana, sikap positif dan dukungan tanpa syarat adalah fondasi penting bagi kemajuan klub. Ia bahkan membandingkan kultur suporter di negara maju, seperti Amerika Serikat, yang tetap memberikan dukungan meski timnya kalah.

“Di sana enggak ada ribut-ribut, enggak ada lempar-lemparan. Kita juga harus step up seperti itu,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, Liana kembali menegaskan bahwa pencapaian PSIM saat ini adalah anugerah yang patut disyukuri.

“Saya malah bersyukur PSIM lama di Liga 2. Dengan begitu kita semua sadar bahwa kondisi sekarang ini harus benar-benar disyukuri. Ini karunia dari Allah Subhanahu wa ta’ala yang tidak mudah didapat. Jadi sudah di kondisi begini, harus disyukuri,” pungkasnya.


Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *