"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Janji Suci Lina, Istri Pilot ATR, Batal Tercapai: Ke Mana Mas?

Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 yang Mengguncang Keluarga dan Masyarakat

Kabut tebal dan medan terjal Gunung Bulusaraung menjadi saksi bisu dari sebuah tragedi penerbangan yang mengguncang banyak hati. Pada Sabtu, 17 Januari 2026, sebuah pesawat ATR 42-500 milik PT Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat menjalani penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Peristiwa ini memicu kecemasan besar bagi keluarga kru dan penumpang yang menanti kabar di darat.

Pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Adisutjipto setelah dinyatakan memenuhi seluruh standar keamanan dan operasional. Di dalam kabin, terdapat tujuh kru dan tiga penumpang, masing-masing menjalankan tugas dan perjalanan seperti hari-hari biasa. Namun, di tengah perjalanan, pesawat itu tiba-tiba hilang dari radar. Sejak saat itu, kecemasan menyelimuti keluarga korban, sementara harapan terus digenggam erat seiring ditemukannya badan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung.

Daftar Kru dan Penumpang di Dalam Pesawat

Berikut adalah daftar kru dan penumpang yang berada di dalam pesawat:

  • Kru Pesawat:
  • Andy Dahananto – Kapten/Pilot
  • Farhan Gunawan – Kopilot
  • Hariadi – Flight Operation Officer
  • Restu Adi P – Engineer
  • Dwi Murdiono – Engineer
  • Florencia Lolita – Awak Kabin
  • Esther Aprilita S – Awak Kabin

  • Penumpang:

  • Deden
  • Ferry
  • Yoga

Kini, keluarga mereka hanya bisa menanti, menggantungkan harapan kepada tim SAR gabungan agar seluruh korban segera ditemukan apa pun jawabannya.

Curahan Hati Seorang Istri: Menunggu di Tengah Ketidakpastian

Di balik medan terjal dan kabut Gunung Bulusaraung, duka mendalam dirasakan oleh keluarga korban. Salah satunya datang dari Widyarlina, istri dari sang pilot, Capt. Andy Dahananto. Kabar hilangnya pesawat yang dipiloti sang suami menghantamnya tanpa ampun. Perasaan itu ia tuangkan melalui akun Facebook miliknya, Mangkok-Ku Stand.

“Maaaaaassss saayaaaangkuuuu….Maaas dimana sayang????”

Tak hanya itu, Lina juga menuliskan curahan hati yang menggambarkan penantian paling sunyi dalam hidupnya:

“Aku menunggu bukan karena kuat, tapi karena cinta, Suamiku mengalami kecelakaan pesawat dan hingga hari ini belum ditemukan. Setiap detik adalah doa, setiap air mata adalah harapan yang kupeluk erat. Aku tak tahu apakah yang kutunggu adalah kepulangan atau kabar duka. Namun selama belum ada jawaban, aku akan tetap menunggu karena cinta sejati tak pernah menyerah, bahkan di tengah ketidakpastian.”

Tulisan itu menjadi cermin ribuan doa yang kini mengalir tanpa henti.

Kabar Duka yang Datang Lewat Telepon

Bagi keluarga, Andy Dahananto bukan sekadar pilot senior, ia adalah sosok ayah yang penuh perhatian. Zalsabilla Zahra Nadya Maharani, anak tiri Andy, mengisahkan bagaimana kabar itu pertama kali sampai ke sang ibu. Saat itu, ibunya tengah bekerja di Sorowako, Luwu Timur.

“Teman papa di Bandara Hasanuddin menelepon ke mama, memberi kabar kalau pesawat papa hilang dari radar. Mama langsung klarifikasi ke atasan papa, dan jawabannya memang benar,” ujar Zalsabilla, Minggu malam, 18 Januari 2026.

Telepon singkat itu menjadi awal dari penantian panjang yang dipenuhi kecemasan dan doa.

Janji Pulang yang Kini Menjadi Kenangan

Zalsabilla masih mengingat jelas pertemuan terakhir dengan Andy, sekitar sepekan sebelum insiden. Saat itu, sang ayah berjanji akan pulang pada 4 Februari mendatang. Ada kebiasaan kecil yang selalu mereka nantikan: berburu kuliner bersama.

“Papa suka sekali kulineran. Kalau pulang pasti mengajak makan di luar. Makanan favorit papa itu sop buntut,” kenangnya. Kenangan itu kini terasa begitu dekat, sekaligus menyayat. Terlebih, Andy dikenal selalu hadir untuk keluarga—bahkan saat bertugas.

Saat Zalsabilla melahirkan, Andy tetap menyempatkan diri melakukan panggilan video, membuktikan kasih sayang yang tak pernah terputus oleh jarak.

Pilot Senior yang Dipercaya Negara

Capt. Andy Dahananto (52) adalah sosok yang dikenal luas di dunia penerbangan nasional. Pria asal Surabaya ini merupakan lulusan Juanda Flying School tahun 1987 dan sejak Juni 2019 menjabat sebagai Direktur Operasi Indonesia Air Transport. Karier panjang dan reputasinya membuat Andy dipercaya menerbangkan tokoh-tokoh penting negara.

“Papa jarang pulang karena harus standby di Bandara Halim. Karena kalau Menteri Kelautan (Sakti Wahyu Trenggono) yang mau terbang, harus papa yang nyetir,” ungkap Zalsabilla. Andy tercatat menerbangkan pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT sejak 2016. Sebulan sebelum tragedi, pada 17 Desember 2025, ia bahkan sempat mengunggah foto mengenakan seragam Patroli Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan di dalam kabin pesawat tersebut. Sebuah foto yang kini menjadi saksi bisu, dari mimpi sederhana seorang pilot yang hingga kini masih ditunggu kepulangannya.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *