Operasi Pencarian dan Penyelamatan di Pegunungan Bulusaraung
Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) terhadap 10 korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 nomor registrasi PK-THT yang jatuh di pegunungan Bulusaraung, perbatasan Pangkep-Maros, Sulsel, memasuki hari kedua. Operasi ini dilakukan oleh tim SAR gabungan yang bekerja keras menghadapi tantangan medan terjal dan cuaca ekstrem.
Pada Minggu (18/1/2026) sore, operasi dihentikan sementara setelah satu mayat korban ditemukan di lereng ketinggian 1.210 mdpl. Tim SAR kemudian melanjutkan operasi pada Senin (19/1/2026) pagi, saat matahari terbit pukul 06.00 Wita.
Dua Misi Utama dalam Operasi SAR
Operasi SAR hari ketiga fokus pada dua misi utama:
- Misi kemanusiaan: mencari dan mengevakuasi 10 korban.
- Misi investigasi dan ilmiah: mencari kotak hitam (black box) pesawat.
Laporan terpisah menyebutkan bahwa SRU 3 berhasil menemukan ELT (Emergency Location Transmitter) pesawat. Awalnya dikira sebagai black box, ternyata itu adalah kotak transmisi lokasi pesawat. Informasi ini disampaikan oleh Komandan Resimen Militer (Korem) 141 Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan, di posko Balusaraung.
Keterlibatan 393 Personel SAR
Operasi melibatkan sebanyak 393 personel SAR gabungan dan warga. Hingga sore hari, telah ditemukan ratusan serpihan pesawat serta barang bagasi dari 10 orang yang ada di dalam pesawat. Termasuk juga potongan dokumen survei dari kementerian kelautan dan perikanan.
Empat Search Rescue Unit (SRU), masing-masing beranggotakan 90-106 orang, mulai beristirahat setelah Magrib. Mereka sebagian besar melemaskan otot dan otak dengan berada di sekitar 60-an rumah warga, masjid, sarana pendidikan, dan kantor pemerintahan level desa.
Tantangan Besar dalam Operasi SAR
Dari laporan dua jurnalis Tribun (Fahrizal Syam dan Muslimin Emba) dari Posko AJU Desa Tompobulu, Balocci (430 mdpl), setidaknya mengidentifikasi empat tantangan besar dalam operasi SAR:
- Cuaca ekstrem
- Medan terjal berbatu
- Keterbatasan logistik dan perlengkapan evakuasi
- Level skill dan pengalaman relawan
Penemuan jenazah utuh, diduga korban, ditemukan oleh warga Balocci, Amran (41). Ia juga menemukan beberapa dokumen yang diduga milik korban, seperti KTP, paspor, ATM, dan HP yang sudah hancur. Penemuan jenazah terjadi setelah pencarian selama enam jam.
Kesulitan dalam Evakuasi Korban
Relawan dari SRU 2 mengungkapkan kesulitan dalam mengangkat korban karena tali sepanjang 200 meter tidak cukup sampai ke bawah. Selain itu, mereka tidak memiliki tambatan pengikat tali. Medan yang terjal dan licin akibat hujan dan halimun tebal menjadi penghalang utama.
Lokasi penemuan jenazah berada di lereng utara gunung karst kawasan Taman Nasional Bantimurung dan Geo Park Maros-Pangkep, di lereng utara puncak ketinggian 1.120 mdpl.
Jalur Menuju Lokasi Operasi
Posko AJU Crisis Center berjarak sekitar 10 km tenggara Balleanging, ibu kota Kecamatan. Jalur menuju lokasi sangat terjal, berkelok tajam, dengan kemiringan 45 derajat hingga 60 derajat. Jalur sempit hanya bisa menampung berpapasan dua mobil jenis SUV kecil dan sedang.
Jika ada truk sedang, mobil lain dan motor harus menepi. Jalur ini ditempuh sekitar 1,5 jam hingga ibu kota kecamatan, dan dua jam ke ibu kota kabupaten terdekat, Pangkajene, sekitar 61 km utara Makassar, ibu kota provinsi.
Kronologis Penemuan Bangkai Pesawat
Penemuan bangkai pesawat di kawasan pegunungan vegeratasi dan batu karst oleh dua pendaki muda, Rezki Ikki Syafaruddin (20) dan Muslimin (28 Tahun), terjadi Sabtu (17/1/2026) pukul 13.00 Wita. Keduanya warga Labakkang, saat insiden ledakan dan tabrakan badan pesawat ke tebing karst, mereka tengah “merayakan” pencapaian di sekitar tugu puncak Gunung tertinggi ke-6 di Sulsel.
Video dan foto penemuan serpihan, emblem Garuda dari kementerian kelautan dan perikanan serta dokumen manual book pesawat ATR 42-500.
Otoritas menara pemandu penerbangan di Bandara Sultan Hasanuddin, AirNav, sekitar pukul 12.30 Wita, sudah mengarahkan pesawat yang dikomandoi Andy Dahananto (Kapten/Pilot) dan Farhan Gunawan (Kopilot) di Runway 21. Namun, karena bersamaan cuaca buruk dan awan tebal, pesawat memutar sekitar 26 km ke tenggara, hingga dilaporkan hilang dari radar di sekitar pegunungan Leang-Leang, Maros.
Fakta awal ini mengkonfirmasi posko operasi SAR awal diarahkan ke kawasan Leang-Leang, Batimuurung, Maros, sekitar 37 km timur Makassar. Karena medan dari Leang-Leang dinilai berat, dan merujuk informasi dari pendaki, operasi SAR direlokasi ke Balocci, Desa Tompobulu, sekitar 27 km tenggara Leang-Leang, Sabtu (17/1/2026) malam.
Minggu (18/1/2026) pagi, SAR Gabungan dari sekitar 67 potensi SAR kampus, lokal, institusi regional, dan nasional, mulai menyebar dan menemukan serpihan bangkai pesawat di ketinggian 1200 – 1300 mdpl, dan puncak gunung.
Awalnya, tim pencari terkendala ELT (Emergency Location Transmitter) pesawat yang tidak menyala. “Jadi, menyulitkan bagi tim SAR gabungan untuk menentukan titik lokasi yang tepat,” kata dia.
Tim TNI AU menyebut, saat pesawat dilaporkan hilang kontak, cuaca dalam kondisi berawan tanpa adanya peringatan dini cuaca ekstrem. Pesawat itu memiliki jumlah person on board (POB) sebanyak 10 orang.
Sebelumnya disebut 11 penumpang. Tiga tim dari Kementerian Kelautan, dan 7 lainnya pilot, kopilot, teknisi dan 2 pramugari.
Pesawat ATR 42-500 PK-THT hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros. Sementara itu, salinan data passenger manifest adalah sebagai berikut:
Kru:
- Andy Dahananto (Kapten/Pilot)
- Farhan Gunawan (Kopilot)
- Hariadi (Flight Operation Officer)
- Restu Adi P (Engineer)
- Dwi Murdiono (Engineer)
- Florencia Lolita (Awak Kabin)
- Esther Aprilita S (Awak Kabin)
Penumpang:
- Deden
- Ferry
- Yoga











