Sampah sebagai Peluang Energi Bersih di Surabaya
Sampah menjadi masalah yang sering dihadapi oleh kota-kota besar. Aktivitas warga dari rumah tangga, pasar, hingga pusat perbelanjaan menghasilkan ribuan ton sampah setiap hari. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah bukan hanya menjadi masalah estetika, tetapi juga ancaman lingkungan dan kesehatan masyarakat. Namun, Kota Surabaya memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengelola sampah ini.
Di wilayah yang dikenal sebagai Kota Pahlawan ini, sampah tidak lagi dianggap sebagai beban, melainkan peluang. Melalui pengolahan terintegrasi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, sampah diubah menjadi sumber energi listrik yang menopang kebutuhan masyarakat.
PLTSa Benowo: Bukti Nyata Energi Bersih dari Sampah Perkotaan
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sering dipromosikan sebagai solusi masa depan pengelolaan sampah perkotaan. Namun, di lapangan, gagasan ini masih menghadapi tantangan operasional dan keberlanjutan. Di Surabaya, PLTSa Benowo menjadi contoh nyata bahwa teknologi ini bisa berjalan efisien dan memberikan kontribusi signifikan.
Beroperasi selama lebih dari sembilan tahun, PLTSa Benowo telah menyumbang energi bersih sebesar 166,1 Gigawatt hour (GWh). General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Timur Ahmad Mustaqir menjelaskan bahwa PLTSa Benowo adalah hasil kolaborasi antara PLN dan Pemkot Surabaya dalam mendukung energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.
Setiap tahunnya, PLTSa Benowo memasok energi bersih sekitar 5,5 GWh dan 30 GWh untuk masing-masing pembangkit. Pembangkit tersebut memiliki kapasitas 1,65 MW dan 9 MW. PLN berkomitmen untuk terus menambah bauran energi terbarukan sebagai bagian dari percepatan pembangunan instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.
Mengubah 1.600 Ton Sampah Menjadi Listrik 12 MW Per Hari
Sejak adanya PLTSa pada 2015, pengelolaan sampah tidak lagi menjadi masalah klasik. Dengan teknologi tersebut, Surabaya mampu mengolah ribuan ton sampah menjadi listrik. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Dedik Irianto mengungkapkan bahwa setiap harinya, ada sebanyak 1.600 ton sampah yang diubah menjadi energi listrik di PLTSa Benowo.
Teknologi pertama yang digunakan adalah landfill gas power plan, yang mengolah sampah organik dengan metode menyedot gas metan pada tumpukan sampah. Teknologi ini menghasilkan listrik sebesar 2 MW per hari. Sementara itu, sampah non organik diolah menggunakan teknologi termokimia atau gasifikasi power plan, yang menghasilkan listrik sebesar 9 MW per hari.
Pengelolaan Sampah di PLTSa Benowo Tuai Pujian Pemerintah Pusat
Inovasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik di Surabaya menjadi percontohan nasional. Banyak pejabat pusat datang untuk melihat bagaimana teknologi di PLTSa Benowo bekerja. Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, melakukan kunjungan kerja ke PLTSa Benowo dan melihat langsung bagaimana sampah diubah menjadi energi terbarukan.
Menurut Eddy, pengolahan sampah di PLTSa Benowo sangat bermanfaat dalam mengurangi volume sampah secara drastis tanpa menghasilkan limbah tambahan. Ia menilai terobosan ini patut diacungi jempol karena bisa menjadi model pengelolaan sampah di kota-kota besar lainnya.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol, juga memuji kolaborasi Pemkot Surabaya dan PLN dalam pengelolaan sampah yang selangkah lebih maju dari daerah-daerah lain di Indonesia. Ia menyatakan akan mengadopsi dan mereplikasi model ini untuk sungai-sungai di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
Virtual Journey to Green Power: Akses Publik tentang Energi Terbarukan
PLTSa Benowo kini menjadi etalase transisi energi masa depan. Dari lokasi ini, publik dapat melihat bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai persoalan, tetapi justru bisa menjadi bagian dari solusi energi bersih. Untuk memperluas pemahaman publik terhadap energi baru terbarukan, PLN UID Jawa Timur menghadirkan program Virtual Journey to Green Power.
Melalui teknologi virtual reality, proses pengolahan sampah menjadi energi listrik dapat disaksikan secara nyata. General Manager PLN UID Jawa Timur Ahmad Mustaqir menjelaskan bahwa program ini adalah bagian dari komitmen PLN mendorong pengembangan energi baru terbarukan (EBT) yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Transformasi digital juga diterapkan dalam pengawasan dan pengoperasian sistem kelistrikan. PLN UID Jawa Timur memiliki unit pengatur distribusi yang mampu memonitor seluruh gardu induk di Jawa Timur secara terintegrasi. Dari ruangan pengendali, aktivitas pemeliharaan dan pengoperasian dapat dipantau, termasuk peralatan di jaringan tegangan menengah 20 kilovolt.
Saat ini, total daya mampu pembangkit listrik di Jawa Timur mencapai 10.586 megawatt (MW). Dari jumlah tersebut, kontribusi energi baru terbarukan masih sekitar 293 MW atau sekitar 3,5 persen. Dengan program Virtual Journey to Green Power, proses pengolahan sampah menjadi energi listrik tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh dari jangkauan publik.
PLTSa Benowo sering menjadi benchmark dari provinsi-provinsi lain. Sejak awal beroperasi hingga sekarang, pembangkit ini masih berjalan dengan normal dan relatif optimal dibandingkan beberapa PLTSa di daerah lain. Dengan teknologi digital, operasional PLTSa Benowo yang mengubah sampah menjadi energi terbarukan dapat disaksikan, dipahami, serta diharapkan mampu menginspirasi kota-kota lain untuk mengelola sampah secara lebih berkelanjutan.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











