"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Dua Alasan Penyebab Kematian Syafiq Ali di Gunung Slamet, Temuan Mayat Menimbulkan Pertanyaan

Perjalanan dan Kehilangan Syafiq Ali di Gunung Slamet

Kisah duka yang terjadi di Gunung Slamet menggugah perhatian masyarakat. Syafiq Ali, seorang remaja berusia 18 tahun, awalnya berniat mendaki Gunung Sumbing. Namun, rencana itu berubah ketika ia memutuskan untuk beralih ke Gunung Slamet. Keputusan ini akhirnya menjadi titik balik dalam kisah tragis yang terjadi.

Pada Sabtu, 27 Desember 2025, Syafiq Ali bersama rekannya, Himawan Haidar Bahran, memulai pendakian dari Basecamp Dipajaya. Mereka berencana melakukan pendakian tektok atau tanpa bermalam. Awalnya, mereka berjalan dengan lancar hingga mencapai Pos 2 pada pukul 04.00 WIB, lalu melanjutkan perjalanan hingga mencapai Pos 5 pada pukul 09.00 WIB. Setelah itu, mereka terus melanjutkan perjalanan hingga mencapai puncak Gunung Slamet pada pukul 14.00 WIB.

Menurut aturan keselamatan yang berlaku, pendaki sebaiknya turun sebelum pukul 10.00 WIB dari puncak Gunung Slamet. Namun, Syafiq dan Himawan tetap melanjutkan pendakian hingga mencapai puncak. Hal ini menjadi pelanggaran aturan yang sangat berisiko. Cuaca di puncak Gunung Slamet bisa berubah secara tiba-tiba, sehingga risiko keselamatan meningkat drastis.

Setelah mencapai puncak, keduanya mulai turun pada pukul 15.00 WIB. Namun, karena langkah pendaki lain yang terlalu cepat, mereka tertinggal dan akhirnya tersesat. Pada saat itu, Himawan mengalami cedera kaki dan kesulitan melanjutkan perjalanan. Melihat kondisi rekannya, Syafiq memutuskan untuk turun sendirian guna mencari bantuan. Sayangnya, ia tidak pernah kembali.

Operasi Pencarian yang Berlangsung Lama

Pada Minggu malam, 28 Desember 2025, tim relawan gabungan mulai melakukan pencarian terhadap kedua pendaki tersebut. Himawan akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat meski lemas di sekitar Pos 9 pada Selasa, 30 Desember 2025. Ia kemudian dievakuasi ke basecamp oleh tim SAR gabungan. Sementara itu, Syafiq Ali masih dinyatakan hilang.

Operasi pencarian melibatkan ratusan personel dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, relawan, serta komunitas pendaki. Penyisiran dilakukan di jalur resmi pendakian, sumber air, lereng curam, hingga jurang di kawasan Gunung Slamet. Medan ekstrem dan cuaca buruk menjadi kendala utama selama proses pencarian. Setelah 13 hari, operasi SAR sempat dihentikan dan dialihkan ke tahap pemantauan. Namun, upaya pencarian terus dilakukan oleh relawan.

Pada Rabu, 14 Januari 2026, pencarian akhirnya membuahkan hasil. Syafiq Ali ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Jenazahnya ditemukan di Gunung Malang, area Watu Langgar, pada hari ke-17 pencarian. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin, mengonfirmasi penemuan tersebut.

Jenazah Syafiq Ali ditemukan sekitar 5 km dari Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet. Jenazahnya dievakuasi dari titik penemuan menuju basecamp Dipajaya di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Setelah tiba di basecamp, jenazah Syafiq Ali akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah dr M Ashari Pemalang untuk dimandikan.

Proses Pengembalian Jenazah dan Upacara Kematian

Jenazah Syafiq Ali kemudian dibawa pulang dan tiba di Perumahan Depkes, Kota Magelang, Jawa Tengah, pada Kamis, 15 Januari 2026. Dhani Rusman, ayah Syafiq Ali, bersama rombongan tiba pada pukul 20.27 WIB. Tangis para sanak saudara pecah begitu melihat kotak putih panjang berisi remaja 18 tahun yang kabarnya dinanti-nanti.

Jenazah lantas disholatkan di masjid setempat dan dikebumikan di tempat pemakaman di Sidotopo. Sebelum tiba di kompleks Perumahan Depkes, jenazah Syafiq Ali dibawa ke RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga untuk menjalani visum. Kisah tragis ini menjadi pengingat pentingnya kesadaran akan aturan keselamatan dalam pendakian.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *