"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Hanya Ibu yang Tahu? Keluarga Juga Perlu Pahami Tanda Bahaya Kehamilan Berisiko

Kehamilan Risiko Tinggi: Pengenalan dan Peran Keluarga

Kehamilan sering dianggap sebagai proses alami yang berjalan tanpa intervensi. Namun, dalam beberapa kondisi, kehamilan bisa menjadi risiko tinggi dan membahayakan keselamatan ibu serta janin jika tidak dikelola dengan tepat. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Effendi Lukas, Sp.OG, menekankan bahwa kehamilan risiko tinggi bukan hanya tanggung jawab ibu hamil, tetapi juga seluruh anggota keluarga.

Dukungan dan kewaspadaan keluarga sangat penting dalam mendeteksi tanda bahaya sejak dini. “Kehamilan itu bukan penyakit. Tetapi jika tidak dikelola dengan hati-hati, kehamilan bisa membawa bahaya bagi ibu, janin, atau keduanya,” kata dr. Effendi dalam program Talkshow Keluarga Sehat Kementerian Kesehatan.

Apa Itu Kehamilan Risiko Tinggi?

Menurut dr. Effendi, kehamilan risiko tinggi adalah kondisi kehamilan yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Risiko tersebut bisa muncul sebelum kehamilan, selama masa kehamilan, saat persalinan, hingga setelah melahirkan. “Kehamilan risiko tinggi itu adalah kehamilan yang pada kondisi tertentu bisa membahayakan ibu, bayinya, atau kedua-duanya,” ujar dia.

Oleh karena itu, pengenalan risiko tidak cukup hanya dilakukan oleh ibu hamil. Keluarga, terutama suami, perlu memahami kondisi tersebut agar bisa mengambil keputusan cepat saat muncul tanda bahaya.

Penyakit Sebelum Hamil Meningkatkan Risiko

Dr. Effendi menjelaskan bahwa beberapa kondisi kesehatan sebelum hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi. Misalnya, ibu dengan riwayat diabetes, hipertensi, obesitas, penyakit autoimun, gangguan darah, hingga tumor. “Kalau sebelum hamil ibu sudah punya penyakit, maka kehamilan itu harus dianggap sebagai kehamilan berisiko tinggi,” jelasnya.

Ia menambahkan, angka obesitas pada perempuan di Indonesia cukup tinggi. Sekitar satu dari lima perempuan mengalami obesitas, yang dapat meningkatkan risiko diabetes dan hipertensi selama kehamilan.

Faktor Usia Berpengaruh

Usia ibu saat hamil menjadi faktor penting yang sering diabaikan. Kehamilan di usia di atas 35 tahun, terlebih di atas 40 tahun, memiliki risiko lebih tinggi. “Risiko preeklamsia, diabetes kehamilan, hingga kelainan bawaan pada bayi meningkat seiring bertambahnya usia ibu,” kata dr. Effendi.

Sebaliknya, kehamilan di usia terlalu muda, yakni di bawah 20 tahun, juga berisiko. Selain meningkatkan kemungkinan persalinan prematur, kondisi fisik dan emosional ibu yang belum matang bisa berdampak pada kesehatan ibu dan bayi.

Jarak Kehamilan Terlalu Dekat Perlu Diwaspadai

Jarak kehamilan yang terlalu dekat juga termasuk faktor risiko. WHO merekomendasikan jarak minimal 24 bulan antara satu kelahiran dengan kehamilan berikutnya. “Kalau jaraknya terlalu dekat, pemulihan kesehatan ibu belum optimal. Ini bisa memengaruhi nutrisi ibu dan janin, apalagi jika persalinan sebelumnya melalui operasi sesar,” ujar dr. Effendi.

Selain berdampak fisik, jarak kehamilan yang dekat juga dapat memicu tekanan emosional dan ekonomi dalam keluarga.

Tanda Bahaya yang Perlu Dikenali Keluarga

Dr. Effendi menekankan pentingnya keluarga mengenali tanda bahaya kehamilan risiko tinggi. Beberapa di antaranya adalah perdarahan, pembengkakan berlebihan di seluruh tubuh, sesak napas saat istirahat, nyeri perut hebat, muntah berlebihan, hingga demam tinggi yang berlangsung lebih dari dua hari.

“Begitu ada perdarahan, ibu harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu,” tegasnya. Demam juga tidak boleh dianggap sepele karena suhu tubuh yang tinggi dapat membahayakan janin, bahkan meningkatkan risiko kematian janin jika tidak ditangani segera.

Peran Keluarga Sangat Menentukan Keselamatan Ibu

Menurut dr. Effendi, banyak kasus kehamilan risiko tinggi terlambat ditangani karena kurangnya dukungan dan pemahaman keluarga. “Keluarga harus peka. Jangan hanya mengandalkan ibu. Kalau sudah ada tanda bahaya, segera rujuk ke fasilitas kesehatan,” katanya.

Ia menambahkan, pemeriksaan kehamilan yang rutin dan teratur menjadi kunci utama untuk mencegah komplikasi serius, termasuk menurunkan angka kematian ibu yang masih tergolong tinggi di Indonesia. “Dengan pengawasan yang baik, banyak kehamilan risiko tinggi tetap bisa berakhir dengan persalinan yang aman,” ujar dr. Effendi.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *