Perubahan Durasi Hari Bumi Mulai Diperhatikan
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, anggapan bahwa satu hari di Bumi selalu berdurasi 24 jam mulai dipertanyakan. Para peneliti telah menemukan bahwa rotasi Bumi perlahan mengalami perlambatan. Proses ini membuat durasi satu hari semakin bertambah dari waktu ke waktu.
Meski ada beberapa informasi yang disalahpahami di media sosial, para ilmuwan menegaskan bahwa fenomena ini berlangsung sangat lambat dan nyaris tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari. Perlambatan ini dipicu oleh gesekan pasang surut akibat tarikan gravitasi Bulan, yang memengaruhi rotasi Bumi. Sebagai hasilnya, panjang hari hanya bertambah sekitar 1,7 milidetik setiap abad.
Dengan laju seperti itu, diperkirakan akan membutuhkan ratusan juta tahun agar satu hari berdurasi 25 jam. Hal ini tidak akan langsung memengaruhi sistem waktu, kalender, atau aktivitas manusia saat ini.
Dampak pada Sistem Biologis
Jika durasi satu hari berubah menjadi 25 jam, maka sistem penanggalan dan ritme biologis manusia bisa terganggu. Hampir semua makhluk hidup bergantung pada ritme sirkadian 24 jam yang mengatur tidur, hormon, dan fungsi tubuh lainnya. Perubahan panjang hari dapat memicu ketidaksinkronan biologis.
Studi menunjukkan bahwa gangguan jam internal seperti akibat kerja shift atau jet lag berkaitan dengan meningkatnya risiko masalah metabolisme, suasana hati, hingga kesehatan jantung. Meskipun makhluk hidup diperkirakan mampu beradaptasi secara evolusioner, proses penyesuaian tersebut akan berlangsung sangat lambat dan penuh tantangan.
Pandangan BRIN tentang Rotasi Bumi
Rotasi Bumi memang melambat, namun efeknya nyaris tidak terasa. Fenomena ini bukan sekadar klaim, melainkan telah lama menjadi perhatian para ilmuwan. Menurut Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, perlambatan ini terjadi akibat efek pasang-surut yang dipicu oleh gaya gravitasi Bulan.
“Secara umum efek pasang-surut dari Bulan mengerem rotasi Bumi sehingga hari makin panjang,” ujar Thomas. Ia juga menegaskan bahwa pada momen tertentu, panjang hari justru bisa sedikit memendek, misalnya akibat pergeseran lempeng bumi saat gempa besar seperti gempa Aceh tahun 2004.
Perubahan panjang hari tersebut diukur dengan teknologi presisi tinggi. Saat ini, ilmuwan memanfaatkan jaringan teleskop radio yang mengamati galaksi-galaksi sangat jauh, dikombinasikan dengan pengukuran satelit GPS. Namun, perubahan itu sangat kecil. “Perubahannya hanya berorde detik per tahun, sehingga tidak terasa dalam hitungan waktu harian bagi masyarakat awam,” jelas Thomas.
Mengungkap Panjang Hari Bumi Jutaan Tahun Lalu
Untuk mengetahui bagaimana panjang hari di Bumi pada masa purba, para peneliti mengandalkan jejak alam yang terekam dalam struktur geologi. Thomas menjelaskan bahwa pemodelan dilakukan berdasarkan endapan batuan yang menyimpan rekaman frekuensi pasang-surut air laut serta lapisan hasil aktivitas fotosintesis mikroorganisme purba.
“Panjang hari masa lalu diukur dari pemodelan endapan geologi dan lapisan sisa aktivitas fotosintesis mikroorganisme,” katanya. Berdasarkan salah satu publikasi ilmiah, sekitar 600 juta tahun lalu panjang hari di Bumi diperkirakan hanya sekitar 21 jam, lebih pendek dibandingkan 24 jam seperti saat ini.
Meski terdengar signifikan, perubahan tersebut tidak berdampak langsung pada kehidupan modern. Thomas menegaskan bahwa proses ini berlangsung dalam skala waktu yang sangat panjang. “Tidak berdampak pada iklim dan kehidupan, karena perubahan itu terjadi dalam orde jutaan tahun,” ujarnya.
Akurasi Pengukuran Masa Lalu
Terkait akurasi, ia menyebut analisis mikro-lapisan batuan purba sebagai metode paling andal sejauh ini. “Metode analisis lapisan mikro pada batuan purba merupakan cara paling akurat saat ini untuk memperkirakan panjang hari di masa lalu,” kata Thomas.
Dengan demikian, meski Bumi memang perlahan melambat, prosesnya berlangsung amat lambat dan tidak memengaruhi aktivitas manusia sehari-hari.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











