Kasus Pembunuhan Ibu oleh Anak di Medan: Faktor Psikologis dan Lingkungan yang Memicu
Kasus pembunuhan ibu kandung oleh seorang anak berusia 12 tahun di Medan, Sumatera Utara, menimbulkan kekhawatiran besar terhadap kondisi psikologis dan lingkungan keluarga. Insiden ini melibatkan AL (12 tahun) yang membunuh ibunya, F (42 tahun), dengan 26 tusukan pada Rabu, 10 Desember 2025. Peristiwa ini menjadi perhatian serius dari para psikolog karena dipicu oleh faktor-faktor kompleks yang saling berkaitan.
Alasan Utama: Ketidakpuasan Terhadap Perlakuan Kakak
Psikolog forensik, Irna Minauli, mengungkapkan bahwa salah satu alasan AL melakukan tindakan tersebut adalah karena tidak tahan melihat kakaknya sering kali dipukuli oleh ibunya. Anak yang terpapar kekerasan di rumah cenderung mengalami trauma yang dalam.
“Orang mungkin bertanya, mengapa AL yang merasa sakit hati? Karena hubungan antara kakak dan adik jauh lebih kuat dibandingkan hubungan antara anak dan orangtua,” ujar Irna Minauli.
Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman traumatis terhadap keluarga dekat dapat memengaruhi emosi dan perilaku anak secara signifikan.
Pengaruh Konten Kekerasan di Media
Selain faktor keluarga, paparan konten kekerasan di media juga menjadi perhatian serius. Kapolrestabes Medan, Kombes Calvin Simanjuntak, menyebutkan bahwa salah satu motif AL adalah kesalahan paham akibat ibunya menghapus game online. Selain itu, AL juga sering memainkan game online yang mengandung elemen kekerasan serta menonton serial anime yang menampilkan pisau.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menjelaskan bahwa paparan konten kekerasan dapat memengaruhi kognisi dan emosi anak. Meski efeknya tidak selalu langsung atau linear, penelitian menunjukkan bahwa paparan intens terhadap kekerasan dapat membuat anak menganggapnya sebagai hal yang wajar.
Menganggap Kekerasan sebagai Hal Normal
Irna Minauli menambahkan bahwa paparan game kekerasan bisa menyebabkan desensitisasi atau ketidakpekaan terhadap kekerasan. Anak-anak yang terbiasa melihat kekerasan dalam permainan cenderung menganggapnya sebagai bagian dari permainan atau bahkan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah.
“Mereka menganggap kekerasan sebagai hal yang normal atau bahkan merupakan bagian dari permainannya,” katanya.
Faktor ini semakin diperparah jika ada kondisi keluarga yang tidak harmonis dan paparan kekerasan sebelumnya.
Puncak Masalah Psikologis dan Lingkungan
Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, menjelaskan bahwa kekerasan ekstrem yang dilakukan anak biasanya bukanlah tindakan spontan, melainkan puncak dari masalah psikologis dan lingkungan yang tidak tertangani sejak dini.
“Pada banyak kasus, kekerasan ekstrem yang dilakukan anak merupakan puncak dari masalah regulasi emosi, paparan kekerasan, relasi yang tidak aman, serta kurangnya dukungan atau penanganan dini,” ujarnya.
Anak cenderung meniru pola penyelesaian konflik yang ia lihat di lingkungan sekitarnya, terutama di dalam keluarga. Jika kekerasan menjadi cara biasa digunakan untuk menyelesaikan masalah, anak bisa menganggap kekerasan sebagai respons yang efektif.
Kondisi Psikologis Saat Ini
Irna Minauli sempat memeriksa kondisi AL kurang dari seminggu pasca kejadian. Hasilnya, ia belum menemukan tanda-tanda trauma. Anak terlihat pendiam, tenang, dan mampu menjawab pertanyaan dengan runtut. Secara keseluruhan, AL terlihat cukup terkendali dan lebih matang dibandingkan anak seusianya.
Meskipun tidak ada tanda-tanda impulsivitas atau ketidakmampuan mengendalikan dorongan, ada kemungkinan AL mengalami delay trauma atau secondary trauma akibat banyaknya pertanyaan yang membangkitkan pengalaman traumatis.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











