"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Enzo Maresca Pergi: Kejutan Tahun Baru 2026 yang Mengecewakan

Saya, seperti John Terry, juga merasa terkejut dengan keputusan Chelsea untuk memecat Enzo Maresca. Pelatih asal Italia berusia 45 tahun resmi dipecat sebagai pelatih kepala The Blues per 1 Januari 2026 karena ketidakcocokan visi dengan manajemen klub. Kejutan awal tahun 2026 ini tentu tidak menyenangkan.

Baru beberapa jam sebelumnya, saya baru saja menulis artikel
Kaleidoskop Chelsea 2025
yang menjadi artikel utama …
“Sejujurnya saya benar-benar terkejut, saya tidak melihat ini akan terjadi,” ujar Terry dalam unggahannya di TikTok.
“Memang belakangan hasilnya tidak seperti yang kita harapkan, tetapi tetap saja ini keputusan besar.”

Sepakat dengan John Terry yang biasa bekerja di akademi Chelsea, saya pun merasa ini adalah keputusan yang mengejutkan. Meskipun hasil di bulan Desember lalu memang cukup buruk karena The Blues hanya menang sekali, seri tiga kali, dan kalah dua kali di Premier League. Tapi sebulan sebelumnya, strategi Enzo Maresca sukses mengantarkan timnya sebagai Manager of The Month, lho…

Inkonsistensi ini saya nilai masih dalam tahap wajar. Toh kalau bermimpi jadi selevel dengan Arsenal dan Manchester City di liga juga kelewatan.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi setelah hasil 2-2 melawan Bournemouth (31/12/2025)? Yang terlihat di lapangan, tidak separah yang mungkin terjadi di balik layar.

Dari sisi permainan, babak pertama di Stamford Bridge menunjukkan wajah inkonsisten Chelsea yang terhukum dua lemparan ke dalam Antoine Semenyo. Pemain tidak siap dengan second ball, lalu datanglah gol David Brooks dan Justin Kluivert.

Tetapi di antara dua kebobolan tersebut, lini depan Chelsea yang kali ini lebih banyak di orkestrai Estevao Wilian, mampu membuat skor berimbang lewat penalti Cole Palmer dan sepakan keras Enzo Fernandez.

Lalu di babak kedua, masuknya Reece James dan Pedro Neto jelas membawa ketenangan dalam permainan Chelsea. Hanya sayangnya, lini depan tak mampu mengeksekusi beberapa peluang yang didapatkan hingga akhir laga.

Satu momen yang mencuri perhatian, adalah ketika Cole Palmer ditarik keluar untuk masuknya Joao Pedro di menit 64′. Fans di tribun terdengar tidak puas dengan keputusan Maresca ini, sementara Palmer yang diganti, malah sempat membuat jokes dengan hendak mengambil sepak pojok.

Untuk case ini, Enzo Maresca tentu masih punya dalil bahwa kondisi bintang tim bernomor punggung 10 tersebut belumlah fit benar usai cedera panjang.

Namun kondisi menjadi gelap, justru ketika akhir laga. Enzo Maresca tidak hadir di presscon after match, yang mana ini adalah kewajibannya sebagai seorang manajer atau pelatih kepala. Willy Caballero, eks kiper dan juga asisten pelatih The Blues maju untuk memberikan keterangan.

“Dia merasa kurang sehat dua hari terakhir, dia sedikit demam dua hari lalu, dia tetap mengikuti dua sesi latihan terakhir karena ingin mempersiapkan tim dengan baik untuk pertandingan ini,” ujarnya dikutip dari kompas.com.

Jelas sekali, ada sesuatu yang ditutupi, dan terjadi di luar lapangan.

Apa Penyebab Perpisahan Maresca-Chelsea?

Karena yang disinyalir sebagai penyebab perpisahan Maresca dan Chelsea ini tidak nampak di dalam lapangan, maka ada beberapa rumor dan opini yang berhembus kencang dari balik layar.

Pertama, adanya dua kali pertemuan Enzo Maresca dengan petinggi Manchester City. Kabar ini dihembuskan oleh David Ornstein di The Athletic, bahwa Enzo Maresca berbicara dengan orang yang terafiliasi dengan City (dan memberi tahu Chelsea) dua kali, sekali pada akhir Oktober dan sekali pada pertengahan Desember.

Di sisi Manchester Biru, memang kencang diberitakan bahwa Pep Guardiola yang kontraknya akan berakhir Juni 2027 seperti tidak berniat memperpanjang masa bhaktinya. Mungkin saja, untuk menjaga sustainibilitas taktikal, jajaran City merasa Enzo Maresca yang pernah menjadi asisten Pep adalah salah satu kandidat yang proper.

Untuk hal ini, jika memang benar terjadi, saya lebih banyak membenarkan keputusan manajemen Chelsea. Memposisikan Chelsea tidak lebih baik dari Manchester City (dari tindak-tanduk Maresca), adalah hal yang fatal.

Boleh saja jika yang berbicara itu Real Madrid, Bayern Munchen, atau Barcelona sebagai klub-klub loncatan karir selanjutnya. Tetapi jika membicarakan rencana jangka panjang kepindahan ke City yang notabene adalah pesaing, menunjukkan di mana sebenarnya “hati” Enzo Maresca tertaut. Sky Blue, bukan Royal Blue.

Alasan kedua adalah ketidakcocokan akut dengan Behdad Eghbali. Kali ini TalkSPORT melalui reporternya Alex Crook memberikan kabar bahwa masalah internal di kubu Chelsea adalah perselisihan antara Maresca dengan co-owner Behdad Eghbali. Sang jurnalis bahkan menyebutnya sebagai “Fallout” atau dampak buruk utama.

Apa dan kapan peristiwanya, tentu terkunci rapat-rapat dalam internal The Blues. Tetapi beberapa analis mengaitkan hal ini dengan komentar Enzo Maresca paska menang 2-0 atas Everton (13/12/2025) sebagai “48 jam terburuk dalam hidupnya”.

Well, runtutan peristiwa ini memang masih merupakan teka-teki. Siapa yang “berbuat” lebih dahulu masihlah misteri. Apakah manajemen Chelsea yang sudah memberikan “48 jam terburuk” pada Maresca duluan? Ataukah Maresca yang “menjual diri” ke City (dan kabarnya Juventus juga) duluan?

Opsi Pengganti di Tengah Minimnya Pilihan

Lalu pertanyaan selanjutnya, yang mungkin terjawab tak lama setelah artikel ini tayang, adalah “Siapa Penggantinya?”

Nama Liam Rosenior (41 tahun) yang kini menjadi pelatih kepala Strasbourg, klub afiliasi Chelsea, menempati pole position.

Di posisi kedua, notabene sesama warga London, adalah Olivier Glasner yang berhasil menyulap Crystal Palace menjadi kuda hitam Liga Inggris. Pilihan ini menurut saya adalah yang terbaik, tetapi cukup kecil tingkat keberhasilannya.

Mengapa? Karena Crystal Palace akan segera menuntaskan transfer Brennan Johnson dari Spurs yang tentunya jadi pengikat komitmen kerja Glasner setidaknya hingga akhir musim.

Pelatih 51 tahun asal Austria ini, disinyalir juga hanya mau menukangi tim baru di awal musim, tidak di tengah jalan. Ini berdasarkan momen gagalnya ia diyakinkan untuk menukangi Manchester United di tengah jalan kompetisi.

Minimnya pilihan manajer/pelatih kepala lain yang berkualitas di bursa, juga menjadi risiko dari keputusan pisah jalan dengan Maresca ini. Praktis tersisa Gareth Southgate, Xavi, Zinedine Zidane, dan Stefano Pioli yang punya CV lumayan. Sisanya… sekelas “Big” Sam Allardyce!

Menguliti kemungkinan terbesar, adalah sosok Liam Rosenior. Sisi positifnya, eks fullback Fulham ini merupakan manajer yang menjanjikan juga dengan darah Chelsea (melalui klub Strasbourg) yang lumayan mengental. Plus, ia tentu bisa menggali lagi potensi Andrey Santos yang musim lalu diasuhnya.

Dari pilihan formasi dan taktikal, Rosenior yang gemar memainkan sepak bola menyerang hybrid 1-3-4-2-1 dan 1-4-2-3-1 setipe dengan Enzo Maresca. Jika ia yang mengambil alih tongkat estafet, adaptasi strategi tidak akan terlalu sulit, pun fans juga masih akan melihat Chelsea sebagai tim dengan patron menyerang.

Pengalaman tentu adalah liabilitasnya. Pria yang hanya pernah menukangi Hull City sebelum Strasbourg ini, belum teruji di Premier League dan Champions League. Strasbourg mungkin mampu sesekali mengejutkan PSG di Ligue 1, tetapi ujungnya juga masih menjadi tier 3 di bawah AS Monaco, Marseille, dan Lille.

Berharap akan terjadi, Oliver Glasner-lah yang bisa membawa kestabilan bagi masa depan Chelsea. Pelatih ini mampu bekerja dengan pilihan pemain terbatas, karena ia memiliki tangan midas dalam mengelurakan potensi terbaik pemain.

Lihat saja bagaimana Eberechi Eze dan Michael Olise yang kini menjadi bintang, juga Daichi Kamada dan Jean-Phillipe Mateta yang ia angkat dari performa “antah-berantah”.

Menangani darah muda? Tanyakan saja bagaimana Adam Wharton dan Marc Guehi bisa rutin mendapatkan pemanggilan skuad Timnas Inggris.

Oh iya, jika mendapatkan Glasner, peluang untuk memulangkan Marc Guehi akan jadi lebih besar. Kapten The Eagles ini akan habis masa kontraknya Juni nanti, sehingga ia sudah masuk dalam Bosman Ruling per Januari ini.

Harap-harap Cemas Fans Chelsea

Opini saya pribadi, timing bursa pelatih yang kurang prospek ini menyulitkan manajemen Chelsea sendiri. Namun nasi sudah menjadi bubur, palu juga sudah diketok. Akan lebih mudah meminimalisir risiko dengan transfer internal Liam Rosenior. Toh kalau gagal, bisa balik kucing lagi ke Strasbourg.

DNA Juara Chelsea yang rupanya sejalan dengan DNA gampang gonta-ganti manajer, menjadi satu-satunya alasan fans untuk tetap yakin. Siapa tahu akan seperti Roberto Di Matteo ataupun Thomas Tuchel di masa silam…

Harap-harap cemas ini akan segera menemukan “gong” nya dalam beberapa waktu mendatang, mungkin juga sebelum artikel ini naik.

Sebab di depan mata, The Blues akan melawat ke Etihad Stadium, markas Manchester City, Senin (5/1/2026) dini hari mendatang.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *