"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Ucapan Dosen yang Menyiksa Evia Maria Sebelum Tewas di Kos

Surat Peringatan yang Penuh Trauma dari Mahasiswa

Evia Maria Mangolo, seorang mahasiswa Universitas Negeri Manado (UNIMA), mengungkapkan rasa trauma dan ketakutan yang dialaminya dalam sebuah surat tertanggal 16 Desember 2025. Dalam surat tersebut, ia menceritakan pengalaman buruk yang menimpanya akibat dugaan pelecehan seksual oleh seorang dosen berinisial Mner Danny.

Kronologi Kejadian

Pada hari Jumat tanggal 12 Desember, sekitar pukul satu siang, Mner Danny mengirim pesan ke Evia melalui chat. Ia bertanya apakah Evia bisa melakukan pijat. Evia menjawab bahwa ia tidak tahu cara melakukan pijat. Mner Danny kemudian menyatakan bahwa dirinya sangat lelah. Dalam pikiran Evia, ini bukanlah sesuatu yang harus ia lakukan.

Sebelumnya, ada percakapan di mana Mner Danny berkata, “Jangan bila pa hari kedua kalau mo pijit pa Mner”. Kebetulan, Evia sedang bersama temannya Deisye dan Refina Bawale di food court kampus. Ia memperlihatkan chat tersebut kepada Deisye, yang memberi saran agar ia tidak pergi. Namun, Mner Danny mengalihkan pembicaraan ke topik nilai, yang sebenarnya sudah selesai.

Karena merasa ada yang akan diubah, Evia memutuskan untuk pergi ke Mner Danny di depan parkiran kampus. Sebelum pergi, ia mengaktifkan fitur live location di grup WhatsApp dengan temannya Radina dan Deisye. Saat sampai di tempat parkiran, Mner Danny menyuruhnya naik ke mobilnya. Evia pun naik dan bertanya tujuannya. Mner Danny hanya menjawab bahwa ia sangat lelah.

Pengalaman yang Menyedihkan

Setelah mobil berjalan, Mner Danny memaksa Evia duduk di depan. Ia menolak dan ingin duduk di belakang. Di tengah perjalanan, Mner Danny meminta Evia untuk melakukan pijat. Ia menjawab bahwa ia tidak bisa melakukan pijat. Mner Danny mencoba memberi contoh dengan mengusap punggungnya, lalu tangan beliau bergerak ke paha Evia.

Evia merasa semakin tidak nyaman dan memohon agar beliau berhenti. Mner Danny terus memaksa dan berkata bahwa urut perasa itu akan membuatnya merasa enak. Evia menolak, tetapi Mner Danny tetap memaksa. Ia bahkan mencoba mencium Evia, yang membuat Evia menangis. Namun, Mner Danny tidak merespons air mata Evia.

Rasa Benci dan Trauma

Di situ, Evia mulai merasa benci pada Mner Danny karena perilaku yang tidak pantas untuk seorang dosen. Ia merasa tidak nyaman dan takut setiap kali bertemu dengannya. Selain itu, ia juga merasa malu jika ada mahasiswa lain yang melihatnya naik atau turun dari mobil Mner Danny.

Evia mengungkapkan bahwa dampak dari kejadian tersebut adalah trauma dan ketakutan. Ia merasa tertekan dan tidak tahu bagaimana menghadapi situasi ini. Dalam suratnya, ia memohon agar pihak pimpinan dapat menangani masalah ini dengan serius dan memberikan sanksi kepada Mner Danny.

Kesimpulan

Surat Evia Maria Mangolo menjadi peringatan bagi semua pihak tentang pentingnya menjaga etika dan kesopanan dalam hubungan antara dosen dan mahasiswa. Ia berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi dan mendapatkan perlindungan yang layak sebagai seorang mahasiswa.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *