"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Jasad Korban Kebakaran Panti Werdha Damai Masih di RS Bhayangkara Manado, Keluarga Menunggu Proses

Empat Jenazah Korban Kebakaran Panti Werdha Damai Dimasukkan ke Peti Jenazah

Empat jenazah korban kebakaran Panti Werdha Damai telah dimasukkan ke dalam peti jenazah. Keempat jenazah tersebut masih berada di ruang jenazah RS Bhayangkara Manado, Selasa (30/12/2025). Sejumlah keluarga juga tampak hadir di area rumah sakit untuk memastikan identitas dan melihat peti jenazah anggota keluarga mereka.

Peti jenazah yang digunakan terlihat berwarna putih dan masing-masing diberi label identitas. Dari empat peti, satu masih menunjukkan jenazah melalui kaca kecil, sedangkan tiga lainnya telah ditutup dari bagian dalam. Proses identifikasi oleh Polda Sulawesi Utara telah selesai, dan para korban diumumkan dalam konferensi pers yang digelar di RS Bhayangkara Manado.

Daftar nama korban yang meninggal dunia adalah:
* Herry Lombogia (70)
* Jansen Maringka (65)
* Oli Klara Kemur (85)
* Merry Baramuli Dengah (83)

Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Alamsyah P Hasibuan melalui Kabid Dokkes Kombes Pol Tasrif menyatakan bahwa identifikasi dilakukan melalui pencocokan data ante mortem dan post mortem oleh tim forensik. Sebelum diserahkan ke keluarga, jenazah akan melalui prosesi penyerahan resmi oleh pemerintah. Hingga berita ini diturunkan, seluruh jenazah korban masih berada di RS Bhayangkara Manado.

5 Fakta Kebakaran Panti Werdha Damai

1. Dugaan Awal Sumber Api dan Keamanan Panti yang Buruk

Api diduga muncul dari bagian belakang bangunan dan dengan cepat menyebar ke seluruh area, menyebabkan kepanikan dan kesulitan evakuasi. Petugas pemadam kebakaran, relawan, dan warga sekitar bekerja sama untuk memadamkan api dan menyelamatkan para lansia. Di tengah kepanikan, petugas Damkar berjuang keras memadamkan api sekaligus membuka akses evakuasi. Suasana haru dan tangis pecah saat satu per satu penghuni berhasil diselamatkan, meski tak semua dapat tertolong.

Menurut informasi yang dihimpun, Panti Werdha Damai tidak memiliki alat pemadam api ringan. Beberapa warga menyebut sistem keamanan panti buruk, jalur evakuasi hanya satu, dan bagian belakang ditutupi rumah. Pagar kiri kanan tinggi, bagian atasnya ditutupi duri dan ada beling. Bahkan kesaksian sejumlah penghuni, tak ada penjaga malam itu. Yang ada hanyalah dua juru masak.

2. Para Korban Dievakuasi Melalui Pagar dan Dinding Samping Panti

Relawan, warga sekitar, hingga petugas pemadam kebakaran bahu-membahu menyelamatkan para lansia yang terjebak. Sejumlah penghuni yang dalam kondisi lemah dan menggunakan kursi roda harus dibopong keluar. Mereka dievakuasi melalui pagar dan dinding samping panti dengan cara saling mengoper tubuh korban agar bisa segera menjauh dari api. Proses evakuasi berlangsung dramatis, penuh kepanikan dan air mata.

Di tengah api yang terus membesar dan asap pekat yang menyelimuti ruangan, Reki mengaku berhasil mengevakuasi tujuh orang dari dalam panti. “Kami angkat satu per satu, ada yang sudah di kursi roda, kami naikkan ke pagar,” ujar Reki dengan suara bergetar. Namun, perjuangan itu tak selalu berakhir bahagia. Beberapa penghuni yang sempat dikeluarkan akhirnya meninggal dunia akibat terpapar asap terlalu lama.

3. Daftar Nama Korban Selamat dari Kebakaran Panti Werdha Damai Manado

Terbakarnya Panti Werdha Damai Manado ini menewaskan 16 penghuni panti lansia, sementara 16 lainnya berhasil diselamatkan. Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun Manado, 16 korban selamat saat ini mendapatkan perawatan intensif di RSUD Manado. Sementara itu, jenazah 16 korban meninggal dunia dibawa ke RS Bhayangkara untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Identitas 16 korban yang selamat dari peristiwa kebakaran Panti Werdha Damai Ranomuut:
* Ibu Olfa Sumual (76 tahun) Ketua / Pengurus Panti Werda
* Oma Rike Kaligis (73 tahun)
* Oma Meiske Merke (60 tahun)
* Opa Christian Yusuf (52 tahun)
* Opa Petrus Fredy (83 tahun)
* Oma Stien Walelenh (80 tahun)
* Oma Chia Chin Hin (92 tahun)
* Oma Olin Kopalit (61 tahun)
* Opa Joppy Wahani (70 tahun)
* Opa Paulus Kaonang (70 tahun)
* Oma Jetty Kandou (86 tahun)
* Oma Stien Gerungan (70 tahun)
* Oma Yutindam (70 tahun)
* Oma Kean She Poe (68 tahun)
* Oma Rolin Rumeen (64 tahun)
* Oma Lao Kim Hoa (73 tahun)

4. Kesaksian Oma Rolin, Lansia yang Selamat dari Kebakaran Panti Werdha Manado

Mujizat itu nyata, hal ini dengan lantang dikumandangkan oleh Rolin (64). Saat ditemui TribunManado.com di ruang lantai 6 RSUD Manado, Senin (29/12/2025), oma Rolin tengah beristirahat. Ia berbaring di ranjang rumah sakit dengan dijagai keponakannya. “Saya tak apa apa, hanya shock,” kata dia kepada Tribun manado. Selain Oma Rolin, ruangan itu diisi dua penghuni panti lainnya. Keduanya, sebut dia, pikun.

Oma Rolin terlihat sangat peduli dengan keduanya. “Ini ada makanan,” kata dia kepada keduanya saat dibawakan makanan oleh pengantar makanan dari Pemkot Manado. Oma Rolin bercerita, saat kejadian tersebut, ia sedang hendak tidur. Obat baru saja ditelannya. “Kamar saya berada dekat dapur, tiba tiba saja ada api,” katanya. Oma Rolin segera bergegas keluar kamar. Sesungguhnya oma dalam keadaan stroke. Ia berjalan dengan dibantu tongkat. Jalannya sangat lambat. Karena itulah, cerita selamatnya Oma seperti di luar nalar.

5. Ketukan Pintu Selamatkan Nyawa Ci Hoa

Di atas ranjang ruang IGD RSUD Manado, Sulawesi Utara (Sulut) Lao Kiem Hoa (73) terbaring lemah. Lansia yang akrab disapa Ci Hoa itu masih menyimpan trauma usai lolos dari insiden kebakaran Panti Werdha Ranomuut, Kota Manado, Sulawesi Utara pada Minggu (28/12/2025) malam. Peristiwa mencekam itu terjadi saat Ci Hoa sudah berada di dalam kamar dan bersiap untuk tidur di Panti Werdha. Kepada Tribun Manado, ia bercerita. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 20.00 Wita. Ia tak pernah menyangka malam itu akan menjadi salah satu pengalaman paling menegangkan dalam hidupnya. “Saat itu saya sudah di kamar, sudah mau tidur,” ucap Ci Hoa lirih saat ditemui, Senin (29/12/2025) siang. Belum sempat terlelap, ketukan keras tiba-tiba terdengar di pintu kamarnya. Dari luar, terdengar suara panik memanggil namanya. Ternyata penjaga panti, Om Inyo. Dengan nada panik, Inyo berteriak menyuruhnya segera keluar. “Ada yang panggil dari luar, Ci Hoa keluar, keluar,” katanya menirukan suara tersebut. Awalnya Ci Hoa tak terpikir akan terjadi kebakaran. Namun perasaan tak enak membuatnya bergegas membuka pintu. Ia terkejut saat melihat api sudah membesar di bagian luar kamar. Kepanikan pun tak terhindarkan. Dengan kondisi fisik yang sudah renta, Ci Hoa hanya bisa berjalan menggunakan walker. Ia berusaha keluar kamar dengan susah payah, sementara api terus membesar. Di tengah situasi genting itu, pertolongan datang. Seorang penatua panti bernama Jhony langsung menggendongnya keluar dari area berbahaya. “Dia pikul saya keluar dari sana,” ujarnya sambil menirukan dengan tangan. Di kamar tersebut, Ci Hoa tidak sendiri. Ia tidur bersama seorang penghuni lain bernama Oma Rini. Menurut Ci Hoa, Oma Rini menderita sakit dan hanya bisa terbaring di kasur tanpa mampu bergerak. Ci Hoa selamat, namun kerabatnya tak bisa tertolong. Kebakaran itu membuat Ci Hoa kehilangan segalanya. Ia keluar hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Tak satu pun barang pribadi berhasil diselamatkan. Meski demikian, rasa syukur masih terucap dari bibirnya. Ia meyakini keselamatannya adalah anugerah Tuhan. “Yang penting kita bersyukur. Ini hanya anugerah Tuhan,” katanya pelan.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *