"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Mengenal Diet Carnivore: Efektif dan Aman untuk Turunkan Berat Badan?

Tren Diet Karnivora: Apakah Benar-Benar Sehat dan Efektif?

Di tengah berbagai tren diet yang terus bermunculan, salah satu yang sedang viral adalah diet karnivora atau carnivore diet. Diet ini menarik perhatian banyak orang, termasuk para influencer yang mencoba mengikuti pola makan ini. Namun, apakah diet karnivora benar-benar aman dan sehat? Bagaimana pendapat para ahli tentang tren ini?

Apa Itu Diet Karnivora?

Diet karnivora adalah pola makan yang sepenuhnya atau sebagian besar terdiri dari daging, serta produk hewani lain seperti telur dan susu. Dalam beberapa kasus, diet ini bahkan tidak menyertakan tumbuhan atau karbohidrat sama sekali. Beberapa orang memilih untuk hanya mengonsumsi daging, sementara yang lain mungkin mengizinkan sedikit buah atau sayuran.

Salah satu tokoh yang mempopulerkan diet ini adalah Isabella Ma, seorang konten kreator yang pernah menjadi vegan lalu beralih ke diet karnivora. Ia dikenal dengan akun Instagram @steakandbuttergal, di mana ia sering membagikan pengalamannya dalam menjalani diet ini. Menurutnya, diet ini memberinya kulit yang sehat dan perut yang rata, serta klaim bahwa ia tidak pernah kembung lagi dan buang air besar lancar tanpa bau.

Risiko yang Mungkin Terjadi

Meskipun ada yang merasa manfaat dari diet karnivora, para ahli menilai bahwa pola makan ini memiliki risiko yang signifikan. Dr. Eden Barrett, peneliti nutrisi dari George Institute for Global Health, mengatakan bahwa diet ini bisa menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral penting seperti vitamin C dan folat. Selain itu, konsumsi serat sangat rendah, yang merupakan nutrisi penting untuk kesehatan pencernaan dan melindungi tubuh dari penyakit jantung dan kanker.

Selain itu, diet ini juga dapat mengurangi asupan antioksidan dan senyawa bioaktif lainnya yang bermanfaat bagi tubuh. Kandungan lemak jenuh yang tinggi dalam daging juga berpotensi meningkatkan kadar kolesterol jahat, yang bisa berdampak pada risiko penyakit jantung.

Bahaya Tersembunyi

Dr. Emma Beckett dari University of New South Wales menyoroti klaim-klaim yang dianggap tidak wajar oleh para pengikut diet karnivora. Misalnya, klaim bahwa seseorang tidak pernah kembung atau hanya buang air besar sekali seminggu. Menurutnya, hal ini bisa menjadi tanda adanya masalah pada saluran pencernaan.

Profesor Emma Halmos dari Monash University menjelaskan bahwa banyak pasien yang mengikuti diet karnivora mengalami gejala gastrointestinal karena kurangnya serat. Meskipun diet ini bisa membantu menurunkan berat badan, hal itu tidak membuatnya menjadi diet yang sehat.

Halmos juga menjelaskan bahwa tubuh hanya mampu menyerap sekitar 30 gram protein dalam satu kali makan. Sisa protein yang tidak diserap akan dikeluarkan oleh tubuh, yang bisa berdampak negatif pada usus besar jika jumlahnya terlalu besar. Hal ini bisa mengganggu keseimbangan bakteri baik dan buruk di dalam usus.

Rekomendasi Ahli

Ahli kesehatan dari Cleveland Clinic menegaskan bahwa diet karnivora tidak direkomendasikan. Mereka menyarankan untuk tetap mengonsumsi berbagai kelompok makanan, termasuk buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan daging tanpa lemak.

Meski membatasi karbohidrat tertentu seperti gula tambahan bisa bermanfaat, menghilangkan seluruh asupan karbohidrat tidak ideal untuk tubuh. Kunci utamanya adalah moderasi dan menemukan keseimbangan yang tepat sesuai kebutuhan tubuh masing-masing individu.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *