Makna “Sayang Gendang” dalam Konteks Sosial
Istilah “sayang gendang” muncul dari obrolan santai, tanpa rencana dan tanpa maksud besar. Namun justru dari percakapan ringan itulah muncul metafora sosial yang jujur dan mengusik, tentang kekerasan yang disamarkan sebagai kasih sayang dalam relasi sehari-hari.
Dalam tradisi Sasak Lombok, gendang bukan sekadar alat musik, melainkan benda yang lekat dengan tubuh manusia. Ia digendong, dipangku, dirawat, dan dielus. Namun maknanya baru hadir ketika ia dipukul, pelan atau keras, sepenuhnya mengikuti kehendak penabuhnya. Di situlah ironi itu bekerja dengan senyap. Gendang tidak pernah dimintai persetujuan. Ia tidak memilih kapan dipukul atau seberapa kuat. Segala keputusan berada di tangan mereka yang merasa memiliki dan tahu apa yang terbaik bagi bunyinya.
“Sayang gendang” lalu dipakai untuk menggambarkan manusia. Mereka yang tampak disayangi, diperhatikan, bahkan dilindungi, tetapi sesungguhnya mengalami kontrol dan kekerasan yang dilegitimasi sebagai bentuk cinta, tanggung jawab, dan kepedulian. Relasi kuasa seperti ini sering tidak dikenali sebagai kekerasan. Bahasa yang digunakan lembut dan penuh alasan moral. Yang memukul mengaku sedang mendidik, membentuk karakter, atau menyelamatkan dari kegagalan yang lebih besar di masa depan.
Dalam keluarga, pola ini kerap muncul sejak dini. Anak dimarahi demi masa depan, dipukul demi disiplin, ditekan demi prestasi. Kekerasan kehilangan namanya, berganti rupa menjadi perhatian yang katanya lahir dari cinta orang tua. Dalam dunia kerja, “sayang gendang” hadir melalui beban berlebih yang dibungkus kepercayaan. Lembur tanpa batas dianggap bukti loyalitas. Tekanan psikologis disebut proses pendewasaan. Keluhan dipatahkan dengan kalimat syukur masih dipercaya.
Dalam organisasi dan ruang kekuasaan, relasi ini menjadi lebih sistemik. Kritik dianggap ancaman. Kepatuhan dipuji sebagai kedewasaan. Mereka yang terluka diminta diam demi stabilitas, demi nama besar, demi kepentingan yang diklaim lebih luas. Bahaya terbesar dari “sayang gendang” adalah normalisasi. Kekerasan tidak lagi tampak sebagai penyimpangan, melainkan bagian wajar dari relasi. Korban perlahan meragukan perasaannya sendiri, bertanya apakah lukanya memang pantas dirasakan.
Bahasa memainkan peran penting dalam proses itu. Kalimat seperti “demi kebaikanmu” atau “karena saya peduli” menjadi tameng ampuh. Kekuasaan bersembunyi di balik diksi yang terdengar mulia, rasional, dan sulit dibantah. Dalam relasi timpang, standar selalu ditentukan pihak berkuasa. Ia memilih kapan memukul dan kapan berhenti. Sementara yang dipukul hanya diminta memahami, menyesuaikan diri, dan bersyukur karena telah “disayang” dengan caranya sendiri.
Seperti gendang, manusia dinilai dari bunyi yang dihasilkan. Selama ia masih bersuara indah, pukulan dianggap berhasil. Ketika ia retak atau kehilangan suara, yang disalahkan adalah ketahanannya, bukan tangan yang terus memukul. Ironisnya, korban sering kali justru membela pelaku. Relasi emosional yang tercipta membuat luka bercampur rasa terima kasih. Kekerasan yang berulang melahirkan ikatan ganjil, di mana cinta dan takut hidup berdampingan tanpa batas jelas.
Dalam konteks sosial yang lebih luas, “sayang gendang” mencerminkan budaya hierarki. Kekuasaan dianggap wajar mengatur tubuh, pikiran, dan pilihan orang lain, selama dibungkus narasi tanggung jawab dan moralitas yang mapan. Padahal cinta tidak memerlukan pukulan agar terdengar. Perhatian tidak menuntut rasa takut sebagai syarat. Kepedulian sejati tidak membutuhkan penghapusan suara pihak lain demi membuktikan niat baiknya sendiri.
Mengurai makna “sayang gendang” berarti belajar membedakan disiplin dan kekerasan, bimbingan dan kontrol, kasih dan dominasi. Garisnya memang tipis, tetapi dampaknya nyata bagi martabat dan kesehatan batin manusia. Banyak orang tidak pernah diberi ruang untuk berkata tidak. Saat menolak, mereka dicap tidak tahu diri. Saat mengeluh, dianggap lemah. Saat pergi, dituduh tidak setia dan melupakan jasa yang pernah diberikan.
Istilah lokal seperti ini penting diangkat ke ruang publik. Ia memberi bahasa bagi pengalaman yang lama terpendam. Ia membantu orang menyadari bahwa tidak semua luka harus diterima hanya karena datang atas nama sayang. Kekerasan tidak selalu berwajah kasar. Ia bisa tampil rapi, penuh senyum, dan berbalut kata-kata manis. Justru dalam bentuk itulah ia paling sulit dikenali dan paling lama dibiarkan tumbuh.
Gendang, pada akhirnya, adalah benda mati. Manusia bukan. Ia memiliki perasaan, batas, dan hak menentukan ritme hidupnya sendiri, tanpa harus dipukul demi memenuhi nada yang diinginkan orang lain. Dari obrolan santai, “sayang gendang” berdiri sebagai kritik sosial. Ia mengingatkan kita untuk lebih jujur menamai kekerasan, bahkan ketika ia datang dengan wajah paling lembut dan bahasa paling menenangkan.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











