Kusta, Penyakit yang Masih Aktif di Dunia
Kusta, atau penyakit Hansen, sering dianggap sebagai penyakit kuno yang telah terkendali. Namun, kabar mengejutkan datang dari akhir 2025: penyakit ini masih aktif di berbagai belahan dunia. Di Romania, dua pekerja spa asal Indonesia berusia 21 dan 25 tahun didiagnosis positif kusta di Kota Cluj-Napoca. Ini adalah kasus pertama kusta di Romania setelah 44 tahun.
Kedua wanita itu bekerja sebagai terapis pijat, dan spa tempat mereka bekerja sementara ditutup untuk investigasi. Dua orang lain sedang dites, tapi pihak berwenang menegaskan risiko penularan ke publik rendah karena kusta butuh kontak lama dan dekat. Di Kroasia juga dilaporkan kasus pertama sejak 1993. Pasiennya seorang pekerja migran dari Nepal yang sudah tinggal dua tahun di sana bersama keluarga. Kasus ini dianggap sebagai kasus imported dan tidak menimbulkan risiko wabah bagi masyarakat.
Kedua kasus ini dibawa dari negara endemik seperti Indonesia dan Nepal. Di Indonesia, kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Tahun 2025 saja, ada lebih dari 10.450 kasus baru tersebar di hampir semua provinsi, dengan ratusan di antaranya menimpa anak-anak. Indonesia termasuk negara dengan beban kusta tertinggi di dunia, bersama India dan Brasil. Migran pekerja sering tanpa sadar membawa bakteri karena gejala muncul lambat—bisa bertahun-tahun.
Situasi Kusta di Afrika
Di Afrika, beban kusta juga berat. Ethiopia melaporkan sekitar 2.500-3.000 kasus baru setiap tahun, meski sudah mencapai status eliminasi sebagai masalah kesehatan masyarakat (kurang dari 1 kasus per 10.000 penduduk). Menurut WHO, Ethiopia termasuk negara prioritas dengan ribuan kasus baru pada 2023-2024, bersama Republik Demokratik Kongo, Madagaskar, Mozambique, dan Nigeria.
“Ethiopia sedang meningkatkan upaya untuk mencapai nol kusta pada 2030,” kata otoritas WHO Regional Office for Africa, dengan fokus pada deteksi dini dan pelacakan kontak. Stigma serta akses layanan terbatas masih jadi penghalang utama. Di Chad, situasi lebih sulit karena konflik berkepanjangan dan kemiskinan ekstrem. Meskipun data spesifik terbatas, Chad termasuk negara endemik dengan ratusan kasus baru tahunan, terutama di wilayah pedesaan terpencil. Akses obat dan diagnosis sering terganggu oleh instabilitas politik serta kurangnya infrastruktur kesehatan.
Gejala dan Pengobatan Kusta
Apa sebenarnya kusta? Menurut CDC, kusta adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan Mycobacterium leprae, terutama menyengat kulit, saraf perifer, selaput lendir saluran napas atas, dan mata. Gejala awal berupa bercak kulit pucat atau merah yang mati rasa, diikuti kerusakan saraf hingga cacat permanen jika telat diobati. Banyak orang salah paham: kusta bukan kutukan atau sangat menular seperti flu. Penularan utama lewat droplet dari hidung dan mulut saat kontak dekat lama, terutama di lingkungan padat dan miskin sanitasi.
Kusta sepenuhnya bisa disembuhkan dengan terapi multidrugs (MDT). “Pengobatan dengan terapi multidrugs menyembuhkan pasien dan membuat mereka tidak menular sejak awal pengobatan,” kata otoritas CDC. Obat seperti rifampisin, dapsone, dan clofazimine gratis dari WHO, cukup dikonsumsi 6-12 bulan. Pasien tak menular lagi setelah dosis pertama. Tantangannya: diagnosis telat karena gejala mirip penyakit kulit biasa, plus stigma kuat yang membuat penderita sembunyi dan telat berobat.
Deteksi Dini dan Peran Masyarakat
Secara global, sekitar 200.000 kasus baru tiap tahun, mayoritas di negara tropis. Studi yang dipublikasikan jurnal The Lancet menyoroti mobilitas global yang meningkat bisa memfasilitasi kemunculan kembali penyakit kuno di wilayah yang sudah eliminasi. Kasus imported jadi alarm bagi semua negara, termasuk yang sudah bebas.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi kita semua. Deteksi dini sangat krusial: segera periksa ke dokter jika ada bercak kulit yang tak gatal atau mati rasa. Hindari stigma; penderita butuh dukungan keluarga dan masyarakat, bukan dikucilkan. Bagi pekerja migran, screening kesehatan sebelum berangkat bisa mencegah penyebaran lintas negara.
Kusta bukan monster tak terkalahkan lagi. Dengan obat modern dan kesadaran tinggi, penyakit ini bisa diatasi sepenuhnya. Yang dibutuhkan hanyalah akses pengobatan gratis, edukasi masyarakat, dan komitmen global untuk hilangkan prasangka. Penyakit lama ini masih mengintai jika kita lengah. Mari dukung program eliminasi WHO menuju nol kusta pada 2030, agar generasi mendatang tak lagi mengenal penderitaan ini.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











