"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Melepas Anak Liburan, Menikmati Hari Sendirian



Pukul 05.00 pagi, aku melepas anak-anakku untuk liburan ke rumah Mbah Dok (Nenek) di Tuban, Jawa Timur. Anak-anak berangkat bersama ayahnya yang sedang bekerja dari rumah (WFH) karena jadwal liburan semester dan akhir tahun. Sejak kemarin, kami menginap di penginapan dekat Cikini agar bisa tiba di Stasiun Pasar Senen pagi hari. Pukul 04.15, taksi online sudah menunggu di depan penginapan, dan kami berangkat setelah melaksanakan sholat Subuh terlebih dahulu.

Kereta berangkat pukul 05.00 pagi dari Stasiun Pasar Senen. Melepas ketiga anakku pergi selama beberapa waktu terasa berat juga. Aku meminta Kakak Dinda untuk menjaga adik-adiknya, karena perjalanan ini hanya dilakukan oleh satu orang dewasa dan tiga balita. Mengapa aku tidak ikut? Karena cutiku sudah habis, sementara anak-anak sedang dalam masa liburan sekolah.

Setelah melepas anak-anak dan ayahnya masuk kereta, aku menuju pintu keluar. Karena masih jam 05 pagi, aku duduk sebentar di area kursi tunggu. Karena KRL pertama dari Stasiun Gondangdia akan berangkat pukul 05.30, aku memutuskan untuk jalan-jalan santai di sekitar Stasiun Pasar Senen. Saat membuka aplikasi transportasi online, aku melihat ada tempat penjemputan monumen perjuangan. Lalu aku membuka Google dan menemukan Monumen Perjuangan yang tampak menarik untuk dikunjungi.

Berjalan sendirian setelah subuh. Menikmati semilir angin pagi dan langit kemerahan selepas matahari terbit. Aktivitas yang masih lengang di ibu kota pada hari Minggu memberikan kesempatan bagiku untuk meresapi karunia Tuhan yang ada dalam diriku. Nafas yang masih bisa berhembus lega, mata yang masih dapat melihat keindahan sekitar, serta kulit yang masih bisa merasakan kesejukan. Langkah yang ringan tanpa keburu-buruan dan tanpa pandangan siaga seperti saat membawa anak-anak. Dari pencarian Google, Monumen Perjuangan buka 24 jam karena termasuk fasilitas umum.

Sekilas Tentang Monumen Perjuangan di Senen

Meski pintu gerbang area Monumen Perjuangan masih tertutup, aku tetap bisa melihat gagahnya patung monumen perjuangan itu.

Monumen Perjuangan Senen berdiri di jalan Proyek Senen, Jakarta Pusat. Patung beton setinggi dua meter lebih ini menggambarkan perjuangan rakyat di masa revolusi kemerdekaan. Sejarah mencatat bahwa kawasan Senen menjadi saksi sejumlah pertempuran besar di masa perjuangan kemerdekaan. Di antaranya, peristiwa penyerangan ke Jalan Kwitang yang ditujukan ke rumah Mr. Roem. Pertempuran di depan Hotel Taytung depan Stasiun Senen, lalu berlanjut pertempuran di sekitar Bungur dan Tanah Tinggi. Pada tanggal 13 Oktober, terjadi pertempuran besar di Senen yang mengakibatkan banyak pejuang Indonesia tertangkap. Bentukan patung Monumen Perjuangan Senen sangat realis, mencoba menggambarkan posisi setiap unsur rakyat dalam perjuangan di masa itu. Menggambarkan beberapa orang dari berbagai kalangan usia sedang berbaris, dengan tatapan tegas dan penuh keyakinan.

Kisah: Menggambarkan perjuangan rakyat Jakarta dari berbagai kalangan (pemuda, pejuang bersenjata, hingga anak-anak sebagai kurir) melawan penjajah pada masa revolusi.

Makna: Patung-patung yang saling mendukung, mengangkat bambu runcing dan golok, serta gadis kecil menuntun anak, menunjukkan kekuatan gotong royong.

Aku kagum dengan patung yang sangat gagah berani nan ekspresif. Namun sedih juga karena rumput di sekitar taman mulai tinggi. Apakah ada tim yang merawat monumen perjuangan ini? Karena tampak dedaunan banyak yang gugur di sekitar lantai monumen perjuangan. Semoga memang masih tutup ya karena masih terlalu pagi mungkin, karena pukul 05.30 aku datang ke sana.

Ojek online yang ku pesan datang. Dan aku langsung menaiki ojek yang kupesan menuju stasiun Gondangdia. Diperjalanan aku kembali menikmati suasana Jakarta pusat pagi hari. Menatap awan dan burung berkicau dengan senyum tipis. Sambil sesekali mengucap Alhamdulillah tanda kesyukuran. Namun melihat sekeliling, aku juga melihat beberapa orang sepertinya satu keluarga tidur beralaskan kain sarung di pinggir jalan. Mereka tidur semalaman beratapkan langit. Ya.. langit lepas itu menjadi atapnya. Syukur saat itu tak turun hujan. Tak bisa membayangkan jika tiba-tiba hujan deras turun ditengah tidur lelapnya dan mereka kalangkabut mencari tempat berteduh.

Sampai di Stasiun Gondangdia aku langsung tap kartu. Naik eskalator menuju Stasiun Depok. Pelan saja aku berjalan sama sekali tak buru-buru. Lalu duduk manis di atas KRL kosong. Lantai KRL masih wangi sabun pel lantai saat aku memasukinya. Lantainya pun masih basah. Aku duduk tenang sambil menatap gawai. Menengok headline terkini.

Sampai rumah pukul 07.00 aku turun dari ojek online membawa tangan kanan 2 bungkus uduk untuk sarapan aku dan Eka keponakan. Dan tangan kiri ada 1 kilogram telur untuk menu makan kami sehari-hari. Hari ini aku memilih agenda santai saja. Karena hujan juga mulai turun. Menonton film Netflix jadi opsi yang pas, sambil sarapan. Setelah satu film selesai. Aku memutuskan untuk istirahat. Tidur. Sampai siang.

Bangun, lalu mulai mengangkat jemuran. Menyetrika semua baju, sambil nonton netflix lagi, film yang lain. Di rumah sendirian tanpa para toddler lincahku terasa amat sepi. Apa yang menjadi rencana yang ingin aku kerjakan memang terlaksana. Santai tanpa terburu-buru. Ini adalah hari pertama tanpa anak-anak. Sisi lain aku juga terus komunikasi dengan suamiku. Terkait kondisi anak-anak dan sudah sampai mana saat ini. Berangkat jam 05 pagi dan sampai rumah Mbah di Tuban pukul 17.00. Semoga jadi liburan yang seru ya anak-anak! Mama di Depok kerja sambil menulis yaa.

Liburan telah tiba. Anak-anak sekolah bergembira. Namun sebagian orangtua yang tidak memiliki libur panjang harus terima libur beberapa hari saja di tanggal merah. Karena kerja di pelayanan pada masyarakat sesungguhnya tak ada liburnya. Apalagi jika teman-teman perawat di rawat inap.. libur tak menentu, kadang malah skip. Aku lah perawat yang beruntung itu. Bisa kerja di poli rawat jalan, kerja office hour dan bisa libur di tanggal merah nasional. Walau aku tak bisa menemani anak-anak ku libur sekolah di Jawa Timur sana. Namun aku tetap menjadi perawat yang bersyukur. Bersyukur bisa jadi perawat, dan tetap bisa menulis.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *