"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Strategi Ridwan Kamil memikat hati mertua sebelum diceraikan Atalia: Pura-pura bantu masak

Awal Cinta yang Tidak Biasa

Ridwan Kamil dan Atalia Praratya memiliki kisah cinta yang unik dan penuh perjuangan. Pertemuan mereka terjadi pada tahun 1994, saat Ridwan Kamil masih seorang pria muda yang jatuh hati pada Atalia. Namun, ia memahami bahwa untuk memenangkan hati seorang perempuan, restu dari ibunya menjadi hal penting.

Di tengah banyaknya pesaing yang datang mengajak Atalia keluar, Ridwan Kamil memilih pendekatan yang berbeda. Ia tidak hanya mendekati sang pujaan hati, tetapi juga berusaha membangun hubungan yang baik dengan calon mertua. Dari dapur, obrolan santai, hingga sikap pantang menyerah, itulah cara Ridwan Kamil membuktikan ketulusannya.

Pertemuan Tak Terduga di Tahun 1994

Beberapa bulan yang lalu, Ridwan Kamil kembali menceritakan pertemuan pertamanya dengan Atalia Praratya. Menurut cerita Kang Emil, mereka bertemu di sebuah pameran di Bandung. Saat itu, perasaan yang muncul tak bisa ia sangkal.

“Saya harus jujur ya, cinta pada pandangan pertama. Jadi dulu ceritanya, saya datang ke sebuah acara, selesai acara saya mau pulang naik taksi, baru mau ngangkat tangan berhentiin taksi, kebelet. Akhirnya saya balik lagi ke toilet, balik dari toilet saya ketemu perempuan, setelah itu minta nomor telepon, singkat cerita jadian.”

Namun, Atalia Praratya meluruskan kisah tersebut. Baginya, nomor telepon bukan sesuatu yang diberikan begitu saja, apalagi pada pertemuan pertama.

“Eh tapi, sayakan nggak mungkin langsung ngasih nomor ke siapapun kan. Jadi strateginya tu dia mau ngasih kerjaan,” terang Atalia.

Urutan ke-42: Saat Cinta Harus Bersabar

Ridwan Kamil mengingat masa muda di era 90-an, ketika Atalia Praratya menjadi primadona yang didekati banyak pria. Rupanya, bukan hanya dirinya yang jatuh hati. Puluhan lelaki mencoba peruntungan. Bahkan, Atalia sampai menuliskan nama-nama mereka dalam sebuah buku harian.

Nama Ridwan Kamil memang tercatat di sana. Namun posisinya jauh dari harapan. “Tiap yang menyatakan ditulis namanya. Nama Ridwan Kamil urutan ke-42,” kenang Ridwan Kamil.

Kebiasaan menulis itu bukan tanpa sebab. Atalia mengaku mewarisinya dari sang ibunda, seorang ibu yang telaten mencatat segala hal. “Jadi ibu tuh punya kebiasaan apa-apa ditulis. Belanjaan dicatat, catatan harian kejadian apa itu tiap hari dicatat.”

Bunga, Pangeran, dan Pantang Mundur

Suatu hari, di momen ulang tahunnya, Atalia masih ingat betul bagaimana Ridwan Kamil datang dengan penampilan rapi dan setangkai bunga di tangan. “Dia datang, eh Kang Emil kasih bunga ya.. oh makasih ya, makasih. Ternyata begitu dia masuk ke dalam, ternyata sudah ada deretan bunga lain.”

Namun titik balik justru terjadi di dapur saat hal sederhana membuka rahasia besar. “(Kang Emil bilang) dah saya aja yang ambil. Ambil pulpen di atas meja, terbuka diary-nya. Terbaca…” kata Atalia.

“Ali katakan no, 42 katakan yes,” timpal Ridwan Kamil, yang akhirnya mengetahui dirinya mendapat lampu hijau.

Malam Minggu, Dapur dan Restu Mama

Setiap malam minggu, rumah Atalia tak pernah sepi. Banyak pria datang untuk mengajaknya keluar. “Jadi kalau malam minggu itu banyakan datang ke rumah untuk mengajak (Atalia) malam mingguan, ada tentara, preman, macam-macam,” kata Ridwan Kamil.

Namun Kang Emil memilih strategi berbeda. “Lakukan lah pencitraan, pura-pura bantuin masak, ajak ngobrol (calon mertua),” ungkapnya.

Pendekatan itu terbukti ampuh. Ridwan Kamil memahami betul bahwa keputusan seorang gadis sering kali bermuara pada nasihat ibu. “Karena saya tahu, kalau seorang gadis bingung pasti tanya ibunya, jadi pas saya nyatakan sudah dapat restu mama,” tutur Ridwan Kamil.

Atalia pun membenarkan hal tersebut. “Jadi benar yang dikatakan Kang Emil, seorang gadis itu pasti tanyakan ke ibunya.”

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *