JAKARTA,
Di sebelah kiri pintu masuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Ciketing Udik, Kota Bekasi, Jawa Barat, terdapat sebuah gang kecil yang menjadi tempat persembunyian para pahlawan lingkungan. Di dalam gang tersebut, berdiri puluhan rumah semi permanen yang berada di atas lahan seluas sekitar 4.000 hektare. Para pahlawan lingkungan tinggal dan bekerja di sana setiap hari.
Para pahlawan ini adalah pemulung, warga, serta pengepul yang mencari dan memilah limbah plastik yang menumpuk di TPST Bantargebang. Puluhan warga membuka lapak sebagai pengepul limbah plastik di gang tersebut. Salah satunya adalah “Lapak Bos Min” yang berada tepat di ujung gang dan berhadapan langsung dengan gunungan sampah Bantargebang. Lapak ini berdiri di atas lahan seluas sekitar 500 meter persegi dengan atap dari kayu dan pijakan tanah hitam yang bercampur air lindi sampah.
Usaha turun temurun
Pemilik lapak bernama Andi (34) mengungkapkan bahwa usaha pengepulan limbah plastik yang dikelolanya telah berdiri sejak tahun 1996 dan merupakan warisan dari orangtuanya. “Ini usaha turun temurun,” kata Andi saat diwawancarai di lokasi.
Andi mengumpulkan berbagai jenis plastik dengan beragam warna yang menumpuk di Bantargebang. Selain mencari sendiri, ia juga membeli sampah plastik dari para pemulung yang beraktivitas di kawasan TPST Bantargebang. Banyak pemulung mencari sampah plastik hingga ke atas gunungan sampah setinggi sekitar 70 meter karena hasil yang diperoleh lebih banyak.
Andi membeli sampah plastik dari para pemulung dengan harga Rp 450 hingga Rp 700 per kilogram. Biaya angkut dan proses sortir ditanggung oleh para pengepul, sehingga pemulung hanya bertugas mencari sampah.
Limbah plastik dipilah
Setelah dibeli dari pemulung, limbah plastik dibawa ke lapak untuk dicuci dan dipilah berdasarkan jenisnya. Untuk proses pencucian dan pemilahan, Andi mempekerjakan ibu rumah tangga dan pemuda di sekitar lingkungan lapaknya. Saat ini ada tujuh orang yang bekerja, dua di antaranya adalah ibu-ibu, sedangkan sisanya adalah pemuda yang malas mencari kerja di luar.
Karyawan di lapaknya diberi gaji sekitar Rp 85.000 hingga Rp 100.000 per hari. Para ibu rumah tangga bertugas memilah plastik berdasarkan jenisnya. Hal ini penting karena sampah plastik yang akan dijual ke distributor harus dikelompokkan terlebih dahulu.
Beberapa jenis sampah plastik yang dapat dijual antara lain Polypropylene (PP), High-Density Polyethylene (HDPE/HD), Polyethylene (PE), serta plastik sablon berwarna. Setelah disortir, sampah plastik dijajarkan di sepanjang gang untuk dijemur hingga kering atau tidak lagi mengandung air. Selanjutnya, plastik yang telah dikelompokkan dimasukkan ke dalam plastik besar berwarna hitam sebelum dijual ke distributor.
Pendapatan puluhan juta
Setiap jenis plastik memiliki harga jual yang berbeda di tingkat distributor. Plastik jenis PE dihargai sekitar Rp 3.000 hingga Rp 6.000 per kilogram. Sementara itu, plastik sablon berwarna dibanderol sekitar Rp 4.000 per kilogram, PP Rp 2.000 per kilogram, dan HD sekitar Rp 1.300 per kilogram.
Meski harus bergelut dengan sampah setiap hari, usaha pengepul limbah bekas yang dijalani Andi mampu menghasilkan keuntungan puluhan juta rupiah per bulan. “Bulan kemarin bisa mencapai Rp 30 juta per bulan,” ujar dia.
Selain bisa menghidupi karyawannya, pendapatan puluhan juta itu bisa digunakan Andi untuk menghidupi tiga anak, istri, dan orangtuanya. Ia juga memastikan kehidupan keluarganya sudah lebih dari cukup karena hasil usaha pemilahan limbah plastik.
Namun, meski bahan baku tersedia melimpah di TPST Bantargebang, Andi mengaku tetap berpotensi mengalami kerugian saat cuaca buruk terjadi. “Karena kayak sekarang cuaca hujan, berat barang yang kita beli bertambah dengan harga tinggi, sementara kita jual dalam kondisi kering jadi turun beratnya atau persentase tonasenya,” ungkap Andi.
Kurangi beban sampah
Usaha pemilahan limbah plastik yang dijalani Andi tidak hanya memberikan keuntungan secara ekonomi, tetapi juga berkontribusi mengurangi beban sampah yang masuk ke TPST Bantargebang setiap hari, mengingat plastik merupakan material yang sangat sulit terurai. Dalam sehari, Andi mengaku mampu mengurangi berton-ton limbah plastik dari tumpukan sampah Bantargebang. “Kalau semua jenis plastik 3-4 ton bisa saya kumpulin,” tutur dia.
Oleh karena itu, Andi menilai bahwa pahlawan lingkungan sesungguhnya adalah para pemulung, pengepul, dan warga yang turut memilah limbah plastik menjadi bahan bernilai ekonomi.
Sampah diolah dekat sumbernya
Koordinator Kelompok Riset Teknologi Pengelolaan Sampah dan Limbah Padat Industri di Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih dari badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Sri Wahyono, menyebut bahwa pengurangan beban TPST Bantargebang harus dimulai dari sumbernya. “Pengurangan beban sampah ke TPST Bantargebang hanya akan efektif jika dimulai dari hulu, yaitu sebelum sampah masuk ke sistem pengangkutan kota,” tutur Sri.
Secara strategis, pengurangan sampah di hulu perlu dilakukan melalui dua jalur utama, yakni di tingkat sumber sampah dan di tingkat kawasan. Kedua jalur ini harus dibangun dengan prinsip proximity principle, yaitu sampah diolah sedekat mungkin dengan sumbernya, serta pendekatan community based yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama.
Upaya pertama adalah pengurangan sampah langsung di sumber, terutama di tingkat rumah tangga. Strategi paling realistis adalah mewajibkan pemilahan sampah sederhana menjadi tiga kelompok utama, yakni sampah bernilai jual tinggi berupa plastik dan kertas bersih, sampah makanan, serta sampah mudah terbakar (combustible waste).
Menurut Sri, pemilahan memang tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan sampah, tetapi memastikan setiap fraksi memiliki jalur pengolahan yang jelas dan tidak tercampur kembali. Keberhasilan pemilahan di sumber sangat bergantung pada pendekatan sosial pemerintah kepada warga, bukan hanya pendekatan teknis semata.
“Program pemilahan harus dikembangkan sebagai gerakan perubahan perilaku, melalui edukasi berkelanjutan, pendampingan warga, dan penguatan kesadaran bahwa memilah sampah adalah prasyarat pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ucap Sri.
Tanpa perubahan perilaku, pembangunan fasilitas pengolahan di hilir sebesar apa pun tidak akan bekerja optimal dalam mengurangi volume sampah di TPST Bantargebang.
Sri juga mengingatkan agar program bank sampah yang telah berjalan di hampir seluruh RW di Jakarta perlu direorientasi. Program tersebut tidak hanya dipahami sebagai tempat menabung sampah bernilai ekonomi, melainkan sebagai gerakan memilah sampah di tingkat rumah tangga.
Oleh karena itu, pendekatan program perlu diperluas dan diposisikan ulang sebagai gerakan memilah seluruh jenis sampah, bukan hanya yang memiliki nilai jual.
Berdasarkan hal tersebut, pemilahan limbah plastik yang dilakukan warga di sekitar Bantargebang dinilai sebagai gerakan yang tepat dan sangat dibutuhkan untuk mengurangi beban sampah di hilir.
TPS3R
Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) juga bisa dikembangkan untuk mengurangi sampah di tingkat kawasan seperti permukiman warga. Menurut Sri, TPS3R merupakan simpul penting yang menjembatani pemilahan di sumber dengan sistem pengolahan kota yang lebih besar.
“Dengan prinsip proximity, TPS3R memungkinkan sampah diolah di dalam atau dekat kawasan permukiman, sehingga mengurangi kebutuhan pengangkutan jarak jauh ke Bantargebang,” jelas Sri.
Namun, ia menilai kinerja TPS3R yang dibangun di sejumlah wilayah oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta belum optimal dalam mengurangi beban Bantargebang. Banyak TPS3R beroperasi jauh di bawah kapasitas desainnya akibat keterbatasan pasokan sampah terpilah, lemahnya manajemen operasional, serta kurangnya dukungan teknis dan pasar bagi produk olahan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan fisik TPS3R saja tidak cukup tanpa penguatan sistem operasional dan kelembagaan. Sri menyarankan optimalisasi TPS3R dilakukan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, standarisasi SOP, integrasi dengan sistem pemilahan di sumber, serta kejelasan alur residu dan produk.
“TPS3R yang berfungsi dengan baik dapat secara signifikan menahan sampah organik dan anorganik bernilai guna agar tidak masuk ke sistem pengangkutan kota, sehingga beban Bantargebang berkurang secara nyata dari hulu,” kata dia.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











