Empat Kisah Para Korban Kebakaran Gedung Terra Drone
Empat kisah para korban kebakaran gedung Terra Drone mulai terungkap satu per satu. Dari pengalaman yang mereka alami hingga akhirnya meninggal dunia, kisah-kisah ini menggambarkan betapa mengerikannya kejadian tersebut.
1. Ervina Sempat Kirim Video dan Voice Note
Ervina (25) menjadi salah satu dari 22 korban tewas akibat kebakaran di Gedung Terra Drone, Selasa, (9/12/2025). Sebelum tewas, Ervina rupanya sempat mengirimkan video dan pesan suara kepada keluarga. Hal ini diungkap langsung oleh Anggraini, kakak Ervina. Menurut Anggraini, Ervina memberitahu bahwa kantornya sedang terbakar. Pesan suara yang dikirimkan Ervina menunjukkan bahwa dia tidak bisa melakukan upaya penyelamatan diri. “Gua gak tau lagi ya, sumpah ini gua udah benar-benar ga bisa ngapa-ngapain ya guys, maap banget. Gua gak tau lagi nih,” ujar Anggraini menirukan pesan adiknya. Rekaman video dan pesan suara tersebut kemudian dikirim ulang ke grup keluarga besar. Keluarga yang mendengarnya turut panik. Saat ini pihak keluarga masih menunggu kedatangan jenazah Ervina dari RS Polri. Semua berkas sudah dikirim dan dimasukkan ke RS Polri, masih menunggu aja nih kasihan kalau tidak cepat-cepat dimakamkan. Rencananya jenazah datang langsung dimakamkan.
2. Ayah Asifa Menangis Kabarkan Kematian Anaknya
Suasana duka juga tak lepas dari keluarga Asifa, wanita kelahiran tahun 2000 yang turut menjadi korban kebakaran Gedung Terra Drone. Ayah Asifa tak sanggup menahan rasa sedih tatkala memberitahu keluarganya bahwa sang anak meninggal dunia. Hal ini disampaikan oleh Suhendi, paman Asifa. Awalnya Suhendi menduga ayah Asifa memberi kabar duka karena kecelakaan. Namun setelah mengetahui bahwa kebakaran terjadi, Suhendi bergegas mencari informasi valid di media sosial. Setelah memverifikasi, Suhendi langsung ke RS Polri untuk melakukan pemeriksaan terhadap jenazah korban. Asifa, menurut Suhendi, baru bekerja di perusahaan tersebut selama satu tahun. Ia dulu kuliah bantu di perusahaan milik Suhendi, bantu admin lah. Sampai dia lulus setahun, setahun yang lalu saya kerja, kalau mau kerja lagi tempat lain, silakan enggak apa-apa sambil kan saya kan batu loncatan. Ini ngelamar lah tempat ini. Menurut Suhendi, semasa hidup keponakannya sangat menguasai ilmu administrasi dan sering mengurus pajak di perusahaan miliknya. Bahkan, Suhendi menjadikan Asifa sebagai andalan untuk mengurus administrasi tempat usahanya dan berkat keahliannya, keponakan tersebut bisa diterima di Gedung Terra Drone.
3. Ibu Hamil Ada di Lantai 5
N (25), diperkirakan akan melahirkan anak pertamanya pada Januari 2026. N turut menjadi korban kebakaran di Gedung Terra Drone. Saat itu, N berada di lantai 5. Kobaran api yang kian membara menjebak N di gedung tersebut. Dari lantai 5, dia mau turun ke lantai 1, tapi karena api sudah besar dan berasap, dia balik lagi ke lantai 5 dan terjebak di situ. Prasetyo, sepupu N, mengungkap bahwa jasad N ditemukan utuh. N diduga meninggal karena kehabisan oksigen. Prasetyo mendapatkan kabar bahwa tempat bekerja sepupunya itu menyimpan banyak baterai drone. Rencananya, jenazah korban N akan dibawa dan dimakamkan di kampung halamannya di Lampung. Seorang kurir bernama Albert mengaku sempat mengantarkan paket yang diterima oleh ibu hamil berinisial N. Dalam unggahan Instagramnya, Albert mempertanyakan nasib wanita hamil yang menerima paket darinya. “Tadi siang banget gue drop paket sameday di sana sekitar jam setengah 12 yang terima ibu-ibu hamil, terus kondisi ibu hamil itu yang terima paket gimana kondisinya,” tulis Albert Irawan di Instagram. Seorang netizen kemudian menjawab bahwa salah satu korban meninggal adalah wanita hamil. Mendengar hal tersebut kurir itu memberikan emoji menangis.
4. SA Korban Selamat dari Lantai 3
SA menjadi satu-satunya karyawan yang selamat saat berada di lantai 3 gedung tersebut. SA (20), staf Human Resources Development (HRD). Dea Anjani, ibunda SA, menceritakan detik-detik anaknya terjebak dalam bangunan yang terbakar tersebut. Dea menceritakan jika anaknya memberikan kabar lewat sambungan telepon tentang kebakaran tersebut. “Anak saya bilang, ‘Kantor aku meledak, bos aku mati’, gitu katanya. Saya ya lemes dong,” ujar Dea, dikutip dari Kompas.com. Setelah telfon tersebut, Dea tak bisa lagi menghubungi anaknya. Dirinya pun langsung menuju ke lokasi kebakaran. Sampai lokasi, Dea lega anaknya berhasil selamat. “Anak saya nangis pas ketemu saya. Dia bilang ‘aku selamat ibu, aku selamat’,” tutur Dea menirukan perkataan SA. Dari keterangan SA, insiden kebakaran itu terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu para karyawan PT Terra Drone ada di lantai 3 baru saja selesai makan siang. Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari lantai bawah. “Iya, tiba-tiba meledak saja. Pas bunyi ‘bum’ gitu, anak saya langsung sigap dia ke bawah. Alhamdulillah bisa selamat,” tutur Dea. Kejadian ini membuat SA syok karena mengetahui teman-temannya meninggal. Padahal, SA masih mengobrol dengan atasannya pagi sebelum kejadian. “Anak saya cerita, tadi pagi masih ngobrol sama bosnya, masih sama temen-temennya pas makan siang. Lalu tiba-tiba mereka sudah meninggal,” tutur Dea. “Dia syok sekali. Terus temannya tadi nelepon pas dia udah di bawah, temannya masih di atas. Kata temennya, ‘Gue udah enggak kuat, tolongin gue, tolong gue,’ gitu kata anak saya,” lanjutnya.
22 Orang Tewas
Akibat kebakaran ini, 22 orang dinyatakan meninggal dunia. Korban terdiri dari 7 laki-laki dan 15 perempuan. Data resmi dari BPBD DKI Jakarta mencatat total 76 orang berada di gedung saat kejadian. “Total pegawai/korban sebanyak 76 orang dengan rincian, 54 selamat, 22 meninggal dunia,” ucap Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji. Jenazah para korban dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sumber api mengarah pada baterai yang sedang diisi daya di lantai satu. Dugaan ini pertama kali disampaikan saksi mata Wandi yang mengetahui bahwa baterai meledak seketika sebelum api menyebar. “Mulanya katanya dari baterai drone, dia ngecas baterai meledak.” kata Wandi. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro, juga memberi penjelasan serupa: “Sekitar pukul 12.30 memang ada baterai di lantai 1, itu yang terbakar. Kemudian sempat dipadamkan oleh karyawan, kemudian ternyata baterai bakar ini menyebar karena di lantai 1 ini adalah salah satu tempat gudangnya.”
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











