"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Dari Kecemasan hingga Hoaks, Remaja Diajak Bijak Gunakan Ponsel

Peran Remaja dalam Menghadapi Dampak Negatif Penggunaan Smartphone

Penggunaan smartphone kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupuan remaja, terutama di kota-kota besar seperti Surabaya. Meskipun memberikan akses cepat terhadap informasi dan hiburan, penggunaannya yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, termasuk kecemasan, kurang tidur, penurunan interaksi langsung, serta paparan hoaks. Oleh karena itu, penting bagi remaja dan orang tua untuk bijak dalam membatasi waktu layar dan menggunakan smartphone secara positif.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Akhsaniyah, menyatakan bahwa generasi muda, khususnya perempuan, kini menjadi kelompok paling rentan terhadap tsunami informasi dan ancaman misinformasi. Menurutnya, media sosial tidak hanya memengaruhi pola konsumsi informasi, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental. Tekanan sosial, standar kecantikan, dan paparan konten negatif menjadikan perempuan sebagai salah satu kelompok yang paling terdampak.

“Smartphone memang membantu kita di banyak pekerjaan, semua bisa dikerjakan dengan cepat, dengan gercep. Tinggal klik semua bisa datang, makanan, jasa pengiriman, artinya smartphone tidak sekadar informasi tapi mencukupi kebutuhan tetapi bagaimana gaya perbedaannya. Semua ada di depan layar, sehingga kita tidak melangkah menggerakan tubuh. Dan itu bisa memunculkan kecemasan dari penetrasi smartphone,” ujar Akhsaniyah.

Ia mendorong para remaja untuk mulai berinteraksi dengan sesama, meluangkan waktu dengan permainan tanpa gawai, sehingga dapat menstimulasi interaksi langsung. “Tidak selalu dengan layar, kita harus mulai berinteraksi dengan sesama. Ada empat akibat smartphone, interaksi secara langsung berkurang, meskipun bersama tapi main gawai sendiri, kurang tidur karena sering scrolling content,” sebutnya.

Hoaks juga menjadi salah satu tantangan utama yang harus dihadapi oleh remaja. “Hoaks dapat memicu kecemasan, memecah belah masyarakat, bahkan menghambat pengambilan keputusan rasional. Karena itu, literasi cek fakta harus menjadi gaya hidup digital,” ujarnya.

Edukasi Literasi Digital untuk Remaja

Sebelumnya, Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Jawa Timur menggelar diskusi interaktif bersama 150 pelajar Surabaya di Aula Sabha Nugraha Dinas Pendidikan Provinsi Jatim. Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Sekretaris Dindik Jatim Suhartono, yang menyoroti pentingnya kebijakan bijak terkait penggunaan gawai dan media sosial dalam proses belajar mengajar.

Menurut Suhartono, penggunaan media digital memang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan saat ini. Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua proses pembelajaran harus bergantung pada handphone atau internet. “Proses pembelajaran itu kadang memang harus memanfaatkan media. Tapi bukan berarti fasilitas itu selalu mempermudah anak tanpa mendorong kreativitas dan inovasinya,” ujar Suhartono.

Ia menegaskan bahwa banyak materi ajar yang tetap dapat dilakukan tanpa gawai, terutama yang menuntut kreativitas dari dalam diri siswa. “Anak harus menulis, harus membuat ide kreatif tanpa melihat dari media atau Google. Ide itu harus muncul dari dirinya, sesuai materi yang diberikan guru,” tegasnya.

Meski begitu, ia menilai penggunaan handphone tetap diperlukan dalam kondisi tertentu, terutama ketika pembelajaran daring diterapkan. Karena itu, yang terpenting adalah bagaimana siswa dan orang tua memahami batasan penggunaannya. Suhartono juga meminta orang tua tidak menganggap larangan membawa gawai ke sekolah sebagai pembatasan ruang gerak anak. “Orang tua harus paham. Larangan membawa handphone bukan untuk membatasi anak, tapi bagian dari proses pembelajaran,” jelasnya.

Membangun Literasi Digital yang Kuat

Diskusi ini menjadi ruang dialog bagi pelajar untuk memahami risiko dan manfaat penggunaan media digital, sekaligus menguatkan literasi digital di kalangan generasi muda Jawa Timur. Dalam kesempatan yang sama, Sekjen FJPI Tri Ambarwatie mengingatkan remaja adalah pengguna internet paling aktif sekaligus target terbesar penyebaran hoaks. Dalam upaya menangkal penyebaran informasi palsu, para peserta dibekali metode lateral reading melalui kanal resmi cek fakta.

FJPI juga membagikan lima langkah anti-hoaks. Di antaranya, jeda sebelum membagikan, cek sumber, uji gambar, verifikasi melalui situs resmi, dan membandingkan dengan media kredibel. Dengan kata lain saring dulu informasi sebelum share. Tri Ambarwatie menegaskan generasi muda memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam membendung arus misinformasi. “Satu klik verifikasi dapat menyelamatkan banyak orang dari kepanikan,” tutupnya.


Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *