Penemuan Menarik tentang Hubungan Tinggi Badan dan Umur Panjang
Selama berabad-abad, orang dengan tubuh pendek sering dikaitkan dengan kekurangan gizi di 1.000 hari pertama kehidupan mereka. Akibatnya, mereka tidak tumbuh berkembang dengan baik dan rentan terkena penyakit menular. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hal tersebut mungkin tidak sepenuhnya benar. Studi bertajuk “FOXO3 – A Major Gene for Human Longevity” yang diterbitkan di jurnal ilmiah Plus One menunjukkan bahwa orang bertubuh pendek justru memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama.
Gen FOXO3 dan Kaitannya dengan Umur Panjang
Gen yang disebut sebagai gen umur panjang atau FOXO3 ini telah menjadi fokus utama dalam penelitian. FOXO3 adalah satu dari dua gen yang polimorfisme genetiknya menunjukkan hubungan konsisten dengan umur panjang pada berbagai populasi manusia. Sebelumnya, gen ini telah terbukti meningkatkan harapan hidup dalam uji coba pada hewan. Namun, mengapa orang dengan tubuh pendek lebih mungkin memiliki gen ini?
Penelitian ilmiah terbaru yang melibatkan lebih dari 8.000 pria lanjut usia Amerika-Jepang di Hawaii menunjukkan bahwa ada hubungan langsung antara tinggi badan dan umur panjang. Penelitian itu menemukan bahwa FOXO3 menyebabkan ukuran tubuh lebih kecil selama perkembangan awal kehidupan dan berpotensi memberikan umur lebih panjang. Di sisi lain, pria bertubuh pendek juga lebih mungkin memiliki kadar insulin darah yang lebih rendah dan lebih kecil kemungkinan terkena kanker.
Hasil Penelitian yang Menarik
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan membagi subyek uji menjadi dua kelompok, yakni mereka yang tingginya 157 cm dan 162 cm. Hasilnya, ada perbedaan yang jelas dalam hal berapa lama umur masing-masing subyek. Orang-orang yang tingginya 157 cm dan lebih pendek hidup lebih lama dibandingkan mereka yang tingginya 167 cm. Semakin tinggi seseorang, semakin pendek umurnya.
Studi ini dimulai pada 1965 dengan 8.006 pria Amerika keturunan Jepang yang lahir pada 1900-1919. Mereka hidup dengan kondisi kesehatan yang telah dipantau secara ketat selama bertahun-tahun. Hasilnya, sekitar 1.200 pria dari penelitian tersebut hidup hingga umur 90-100 tahunan, dan hanya 250 pria yang masih hidup hingga saat ini.
Faktor Lain yang Mempengaruhi Umur Panjang
Meski demikian, Bradley Willcox, rekan penulis dan profesor Universitas Hawaii, menegaskan bahwa tinggi badan hanyalah sebagian dari profil umur panjang seseorang. Dia mengatakan, studi mereka boleh dianggap sebagai titik batas karena setinggi apa pun seseorang, menjalani gaya hidup sehat tetap menjadi faktor terpenting jika ingin berumur panjang.
Replikasi Sel dan Umur Panjang
Studi sebelumnya yang diterbitkan di Elsevier pada 2003 menemukan bahwa tubuh yang lebih pendek dan kecil memiliki tingkat kematian yang lebih rendah. Mereka juga lebih sedikit mengalami penyakit kronis akibat pola makan, terutama setelah usia paruh baya. Harapan hidup orang yang lebih pendek tampaknya lebih panjang daripada orang yang lebih tinggi.
Penelitian ini melibatkan lebih dari 2.500 atlet ski lintas alam Finlandia yang tubuhnya lebih pendek 15 cm dari rata-rata tinggi pemain basket. Hasilnya, mereka yang bertubuh pendek memiliki umur 7 tahun lebih panjang daripada orang-orang tinggi. Dan ketika dibandingkan dengan tentara di Italia, studi menemukan bahwa tentara yang tingginya kurang dari 170 cm hidup 2 tahun lebih lama dari rekan-rekannya yang lebih tinggi.
Alasan biologisnya adalah karena replikasi sel. Ketika Anda lebih tinggi, Anda membutuhkan lebih banyak replikasi sel untuk mengisi tubuh. Dan ini justru dapat membuat Anda lebih cepat lelah.
Faktor Lingkungan dan Sosial
Meskipun demikian, umur panjang adalah sesuatu yang kompleks. Kondisi ini tidak hanya terjadi karena gen, tetapi juga gaya hidup dan kondisi sosial seseorang. Dr Berry Juliandi, dosen Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB, mengatakan bahwa seseorang yang memiliki pola makan seimbang, aktif bergerak, dan menjalin hubungan sosial yang kuat berpotensi panjang umur. Begitu pun dengan orang yang hidup dalam kondisi sosial yang berpengaruh terhadap kebahagiaan dibandingkan kekayaan atau jabatan.
“Jadi, umur panjang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor genetik (nature), tetapi juga lingkungan (nurture),” tandasnya.











