"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Pengakuan Dirut Inhutani V: Dari Uang Stik Golf hingga Rubicon Merah



JAKARTA,

Aliran Dana dan Duit Suap di Kasus Korupsi Pengelolaan Kawasan Hutan

Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, terungkap aliran dana dan duit suap dalam kasus korupsi kerja sama pengelolaan kawasan hutan di PT Inhutani V. PT Inhutani V adalah anak usaha Perhutani, sebuah BUMN yang bergerak di bidang kehutanan. Kasus ini berkaitan dengan pengelolaan wilayah Inhutani V di daerah Lampung.

Direktur Utama PT Inhutani V, Dicky Yuana Rady, yang sebelumnya tertangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK, hadir dalam sidang untuk mengaku dosa atas peristiwa yang terjadi sekitar tahun 2024-2025. Di hadapan majelis hakim, Dicky mengakui menerima beberapa pemberian dari Direktur PT Paramitra Mulia Langgeng (PT PML), Djunaidi Nur.

Uang Dolar Amerika Serikat dan Dolar Singapura

Salah satu pemberian yang disebutkan oleh Dicky adalah uang dolar Amerika Serikat dan dolar Singapura. Selain itu, ia juga menerima bantuan dalam pembelian mobil Rubicon baru. Dalam sidang, Dicky menyebutkan bahwa Djunaidi memberikan uang sebesar 10.000 USD untuk membeli stik golf.

Kedekatan antara Dicky dan Djunaidi terlihat dari hubungan mereka yang sering bermain golf bersama. Dalam salah satu pertemuan di lapangan golf di Bogor pada Agustus 2024, Dicky memuji cara Djunaidi memukul bola. Setelah bermain golf, Djunaidi menyerahkan bingkisan kepada Dicky. Dicky mengaku tidak langsung membuka bingkisan tersebut, tetapi mengetahui isi bingkisan itu dari penjelasan Djunaidi bahwa uang tersebut diberikan sebagai ganti stik golf.

Mobil Rubicon Merah dan Uang 189.000 SGD

Sebelum membeli mobil Rubicon, Dicky lebih dahulu menyampaikan keinginannya untuk membeli mobil baru kepada Djunaidi. Awalnya, Dicky meminta Djunaidi membeli mobil Pajero miliknya. Namun, Djunaidi kemudian mengarahkan Dicky untuk berkoordinasi dengan Aditya Simaputra, asisten pribadi Djunaidi sekaligus staf perizinan di PT Sungai Budi Group.

Setelah beberapa rekomendasi mobil dari Adit, Dicky akhirnya memilih mobil Rubicon. Ia menghubungi dealer dan membayar DP senilai Rp 50 juta. Setelah membayar DP, Dicky menginformasikan kepada Adit bahwa ia tidak perlu dibantu lagi.

Namun, Djunaidi menghubungi Dicky dan menawarkan bantuan pembayaran mobil. Dalam percakapan yang diputar JPU di ruang sidang, Djunaidi mengatakan bahwa dirinya akan menyiapkan uang untuk membayar mobil Rubicon. Beberapa waktu kemudian, Adit mendatangi kantor Dicky dan menyerahkan bingkisan dari Djunaidi. Dicky mengaku menerima uang sebesar 189.000 dolar Singapura.

Penolakan Penggunaan Uang dari PT PML

Dicky membantah menggunakan uang dari Djunaidi untuk membayar mobil Rubicon. Meski demikian, ia sempat ingin menggunakan uang tersebut, namun pihak dealer menolak transaksi dengan mata uang asing. Akhirnya, Dicky melunasi harga mobil tersebut dengan uang pribadinya.

Dicky mengklaim bahwa uang 189.000 dolar Singapura masih disimpan di rumah hingga ditangkap KPK. Ia juga mengaku takut menggunakan ponsel karena curiga sudah disadap penyidik. Meski merasa curiga, Dicky tidak langsung bertanya kepada Djunaidi tentang maksud pemberian uang tersebut.

Konstruksi Kasus

Dicky kini telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap ini. Berdasarkan pengakuan Dicky, ia ditangkap pada Rabu, 13 Agustus 2025. Sementara, berdasarkan pemberitaan, Dicky resmi ditetapkan sebagai salah satu tersangka pada Kamis, 14 Agustus 2025.

Jaksa penuntut umum dari KPK, Tonny Pangaribuan, menyatakan bahwa dua pengusaha tersebut memberikan suap kepada Dicky dengan maksud agar PT PML tetap dapat bekerja sama dengan PT Inhutani V dalam memanfaatkan kawasan hutan di wilayah Provinsi Lampung.

Adapun Djunaidi Nur merupakan salah satu direktur di PT PML, sedangkan Aditya Simaputra merupakan asisten pribadi Djunaidi serta staf perizinan di PT Sungai Budi Group.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *