"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Agak Lain: Api Jiwa Saya! Saat Tertawa dan Menangis Bersamaan

Pemecahan Rekor Film Indonesia Terlaris

ALHAMDULILLAH, PUJI TUHAN. Pilem Agak Laen: Menyala Pantiku! telah resmi memecahkan rekor dan menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa, pasukaann!

Saya ada di situ, di daftar pasukan tidak bermarga yang berkontribusi kepada tambahan angka penonton hingga 10 juta lebih. Angka yang menjadikannya sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa.

Hari itu, bertepatan 2 Januari, di dalam bioskop XXI dengan setengah penonton yang riuh, saya tahu film ini telah memelihara cita rasa yang khas, mungkin juga menghadirkan sebuah batas dari drama komedi. Batas yang tak sepenuhnya saya pahami sebagai apa.

Kita mungkin bisa mengenali “batas yang belum sepenuhnya dipahami” ini dengan mengurai dahulu dua komponen besar dari Agak Laen; Menyala Pantiku! yang menjadi basis dari kesuksesannya.

Komedi yang Hidup & Drama Pertaruhan Diri

Ketika langit Manado terlihat muram di awal tahun, ruang bioskop terasa begitu hangat oleh komedi yang terpelihara. Nyaris tak ada seorang pun yang tidak terbahak-bahak. Bocah 8 tahun di samping saya bahkan sampai berjingkrak-jingkrak di kursi duduknya. Komedi yang di-build-up bukan saja efektif dalam mengeksplorasi peristiwa harian, tetapi juga muatannya boleh melintasi batas usia dan maknawi.

Di sisi lain, seisi ruangan juga dibikin terdiam, hanyut oleh drama keluarga. Boris, anak perempuannya dan pernikahan yang berantakan; Bene dengan adik perempuan yang menunggak biaya kuliah; Oki, istri yang bunting besar dan biaya persalinan; Jegel dengan ibu yang bergantung pada kiriman bulannya.

Dan juga, kehidupan orang-orang sepuh di panti yang miskin. Kita mungkin melihat kebersamaan masa senja yang saling menguatkan dari wajah-wajah yang menua, tubuh sakit-sakitan, penantian yang tabah, dan ketakutan yang dikejar rasa bersalah. Kita bisa bilang, para warga negera senior ini bersatupadu mengurusi nasibnya, negara seringkali tidak ada di sana; mereka bukan bagian dari bonus demografi bukan?

Sedangkan dua empat sahabat itu adalah kompleksitas yang lain. Karir kepolisian mereka tengah berada di ujung tanduk, tergelincir sedikit saja akan terjatuh berserak. Di saat yang sama, mereka adalah tumpuan. Lantas, ketika dunia mereka sedang dalam pertaruhan ada misteri pembunuhan anak penguasa menjadi perbincangan publik.

Jadi, sependek penjelasan ini, persilangan komedi harian yang produktif dengan drama keluarga menyentuh, yang sukses dikelola Agak laen: Menyala Pantiku! adalah modalitas intrinsik yang kuat sehingga layak mendatangkan animo penonton.

Oh ya, jangan kesampingkan fakta jika di tanggal yang sama dengan penayangannya (27 November 2025), tayang pula Malin Kundang yang naskahnya ditulis oleh Joko Anwar. Di tiga hari pertaminya, Malin Kundang hanya ditonton 41.959 pasang mata sedang Agak Laen: Menyala Pantiku! sudah 28 kali lipatnya, 1.205.917 penonton.

Strategi Marketing yang Efektif

Saya mengagumi karya Joko Anwar, mengikuti kebanyakan film-film yang dibuatnya, namun saya baru tahu ada film baru dimana dia juga menjadi produsernya, selain penulis naskah. Mungkin karena itu, saya mendahulukan film yang naskahnya ditulis Muhadkly Acho, seorang kencur di tengah jagad industri ini.

Bagi saya sendiri, dengan rutinitas pekerja sepanjang tahun 2025 yang sangat menyita energi psikis, saya butuh menciptakan kondisi yang menyegarkan diri. Seperti tertawa terbahak-bahak dalam ruang ramai, menertawakan dunia sehari-hari. Saya sedang tidak ingin bersentuhan dengan film yang bekerja untuk “kritik kebudayaan kontemporer” (saya mengasumsikan ini ada di Malin Kundang), yang bikin tubuh diam namun pikiran kemana-mana.

Tampaknya, Malin Kundang memang bukan untuk mengisi liburan yang sejenak itu. Dengan kata lain, di samping modalitas komedi dan drama yang kuat, kesuksesan Agak Laen: Menyala Pantiku! sebagai film paling laris sepanjang masa di Indonesia memang ditopang oleh strategi marketing yang efektif. Sederhanya film yang kedua lebih memahami momen pasar ketimbang yang pertama.

Lantas, kembali pada bagian awal kagi, batas yang belum sepenuhnya dipahami itu, kini tampak sebagai apa?

Masih belum terang. Namun, satu konteks yang makin tegas adalah kemunculan komunitas komika dengan percabangan geliat mereka di industri hiburan tanah air adalah kompetitor yang sehat. Mereka mengayakan apa yang sudah ada, yang sebelumnya berakar pada sekolah akting atau sekolah model terhadap industri perfilman.

Tak sebatas aktor/aktris baru yang berkecambah dari produk standup comedy, karya-karya mereka turut mengayakan narasi, mutu, dan antusiasme pasar domestik terhadap perfilman nasional (sebelum tidur malam tadi saya melihat podcast Gita Wiryawan dan Menteri Purbaya, berkali-kali mereka sepakat jika dunia boleh gonjang-ganjing namun selama pasar domestik kita dalam kendali, Indonesia masih akan berjalan baik-baik saja).

Agensi Budaya dalam Kontestasi Industri

Jadi batas yang belum terpahami sepenuhnya adalah pembentukan ekosistem perfilman nasional yang makin meriah walau ada yang merasa dengan capaian hingga 10,6 juta itu adalah alarm bahaya. Apakah para komika ini seperti rombongan orang Galia di tengah imperium Romawi?

Sekarang ke bagian kedua dari batas yang pelum sepenuhnya dipahami itu. Kali ini, dengan kadar spekulasinya lebih kental lagi.

Walau saya jelas bukan seorang ahli Batak, pernah jatuh cinta saja sama boru Batak, namun tidak terlalu mengada-ada jika kita memahami dua produk Agak Laen ini sebagai sebuah eksperimen kerja kultural dalam media sinema yang sukses secara komersil. Kerja kultural itu berarti mengacu secara dominan pada kebudayaan Batak dan komedi-komedi harian sebagai produk turunannya.

Dalam kehadiran yang semacam ini, Batak bukanlah sebuah lokus yang eksotis, atau masa lalu yang tersembunyi di balik kemajuan pembangunan yang menggerus daya dukung ekologis dan basis kultural yang membentuk identitas sosialnya (: baca kritik sosio-ekologi politik engkong Felix Tani soal ini, misalnya dalam artikel tentang Kaldera Toba). Dengan kata lain, Batak yang menampakkan ekspresi sosialnya bukanlah yang di-romantisasi seperti dalam kerangka berpikir orientalisme lama.

Sebaliknya, Batak yang hadir di dalam Agak Laen adalah cermin dari dinamika dunia sosial kekinian di antara pasang surut identitas, mentalitas dan solidaritas akan nasib bersama anak manusia di perantauan. Jadi, sebagai kerangka kerja kebudayaan, maka Batak yang dimaksud adalah pergulatan dari nilai-nilai yang menopang bangunan etik sosial para pewarisnya.

Melalui penelusuran singkat yang dibantu mesin kecerdasan imitasi, secara umum, nilai-nilai tersebut meliputi Hasangapon (kehormatan dan martabat), Hagabeon (kelangsungan keturunan), Hamoraon (kesejahteraan material, bukan semata kekayaan), dan Marsiadapari (gotong royong dan saling menopang).

Saya tidak punya cukup kapasitas untuk menjelaskan bagaimana nilai-nilai ini membentuk sistem makna dan sistem sosial kebudayaan Batak secara antropologi budaya, misalnya. Yang ingin saya perlihatkan, dengan dukungan industri film, nilai-nilai itu telah diangkut-ditranlasi melampaui batas lokalitasnya.

Di dalam Agak Laen, keempat nilai utama ini terlihat menonjol melalui versi yang dikontekstualisasi dalam kehidupan urban kaum jelata, bukan pada dunia sehari-hari mereka yang berpangkat. Maka “secara praksis”, empat poros nilai yang terpantul melalui pertarungan hidup 4 orang sahabat: Bene, Boris, Oki dan Jegel di perantauan adalah jangkar etik yang menjauhkan mereka dari kejatuhan sebagai manusia. Mereka setia pada pilihan untuk berjuang demi hidup yang patut, terutama bagi keluarga mereka.

Maka, Agak Laen (pertama maupun kedua) adalah agensi yang secara efektif mempromosika budaya Batak di hari-harin sekarang ini melalui medium screen culture/sinema, meninggalkan batas-batas partilaristiknya sekaligus mengembalikan orang pada akar lokalitasnya. Klaim ini menurut keyakinan saya, tanpa dipengaruhi oleh pertunjukan Mens Rea.

Dalam nada yang sama, saya kira film ini telah mengingatkan kita untuk kembali pada Indonesia yang kaya akan keragaman filosofi kultural dan etik sosial itu.

Hasnah Najmatul

Penulis yang dikenal teliti dalam riset dan penyajian data. Ia menaruh minat pada dunia ekonomi, statistik ringan, dan analisis tren. Di waktu luang, ia menikmati sudoku, membaca artikel panjang, dan mendengarkan musik instrumental. Motto: “Akurasi adalah bentuk tanggung jawab.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *