"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Polisi ungkap rencana perang konten 7 pemuda Cirebon

Peristiwa Nyaris Bentrokan di Cirebon yang Terungkap Berkat Laporan Warga

Di depan pintu Mapolsek Pabuaran, tujuh pemuda berdiri membelakangi kamera. Mereka mengenakan pakaian santai, celana pendek, dan wajah yang tampak disamarkan. Tidak ada adegan film laga atau tindakan kekerasan yang terlihat. Namun, potret ini menjadi bukti nyata dari rencana yang nyaris berujung bentrokan di Cirebon.

Sebuah meja panjang berlapis kain putih dan hijau dipenuhi oleh berbagai senjata tajam. Celurit besar dengan gagang kayu tersusun rapi, diapit pedang panjang, parang, hingga busur panah lengkap dengan anak panahnya. Di sampingnya, sebuah sepeda motor kuning-hitam juga dipajang sebagai barang bukti. Ini adalah hasil dari penggeledahan yang dilakukan polisi setelah menerima laporan warga.

Pengawasan Awal dan Penangkapan

Menurut Kapolsek Pabuaran, AKP M Soleh, pengamanan bermula dari kecurigaan warga yang melihat salah satu pemuda membawa senjata tajam. “Kami dari Polsek Babakan, Alhamdulillah telah mengamankan tujuh orang yang diduga akan melakukan tawuran atau perang konten,” ujar Soleh saat konferensi pers di Mapolsek setempat, Sabtu (10/1/2026).

Warga kemudian meminta bantuan polisi. Petugas langsung menuju lokasi yang disebutkan, yakni Desa Jatiseeng Induk, Kecamatan Lemahabang. Di sana, kecurigaan warga terbukti. “Warga melihat ada yang membawa senjata tajam jenis celurit panjang. Akhirnya warga meminta bantuan kepada kami. Kami langsung menuju ke TKP di Desa Jatiseeng Induk. Kami ke sana dan benar, kami mengamankan tujuh orang yang sedang berkumpul dengan kendaraannya.”

Barang Bukti yang Ditemukan

Dari tangan para pemuda, polisi menemukan lebih dari sekadar satu atau dua bilah senjata. “Dari penangkapan tersebut, didapatkan barang bukti berupa empat alat senjata tajam beserta satu busur panah lengkap dengan anak panahnya,” jelas Soleh.

Hasil interogasi mengungkap bahwa motif dari aksi ini bukanlah tawuran konvensional, melainkan aksi yang direncanakan untuk diabadikan dalam bentuk konten media sosial. “Setelah diinterogasi, ketujuh pemuda tersebut mengaku bahwa mereka akan melakukan perang konten. Namun, lokasi perang kontennya belum terlaksana karena mereka sudah lebih dulu kami tangkap.”

Peran Warga dalam Mencegah Tragedi

Konferensi pers siang itu menjadi panggung peringatan tentang bahaya yang tersembunyi di balik istilah ‘konten’. Deretan senjata di atas meja dan wajah-wajah pemuda yang menunduk di belakangnya menunjukkan betapa tipis jarak antara ‘nongkrong’ dan bentrokan.

Berkat laporan warga dan respons cepat aparat, rencana itu terhenti sebelum berubah menjadi tragedi. Sebelumnya, dini hari di Jalan Buyut Roda, Desa Jatiseeng, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, tampak seperti malam biasa. Jalanan lengang, udara dingin, dan sekelompok pemuda terlihat berkumpul. Namun, di balik kesan ‘nongkrong’ itu, polisi menemukan sesuatu yang jauh dari kata biasa, yakni senjata tajam dan peralatan memanah.

Identitas Kelompok dan Motif Aksi

Soal identitas kelompok, polisi menepis anggapan bahwa mereka bagian dari geng motor tertentu. “Bukan geng motor. Nama grupnya tidak ada, mereka hanya mengaku sebagai anak motor saja. Jadi tidak ada grup resmi, hanya bersifat spontanitas,” ujar Soleh.

Peristiwa dini hari itu menjadi pengingat bahwa di balik aktivitas yang tampak sederhana, potensi gangguan keamanan bisa muncul kapan saja. Bukan sekadar nongkrong, tetapi nyaris berujung bentrokan.

Penangkapan dan Pemeriksaan

Tujuh pemuda tersebut berinisial DM (24), KA (18), RS (16), SH (19), IR (22), ZDA (18), dan MR (16), seluruhnya warga Kabupaten Cirebon. Polisi menyita satu set busur panah beserta anak panah, dua celurit, satu samurai, satu golok, serta empat unit sepeda motor.

Usai diamankan, ketujuh pemuda tersebut masih menjalani pemeriksaan intensif. Kapolresta Cirebon, Kombes Pol Imara Utama, mengatakan pengungkapan bermula dari laporan masyarakat. “Awalnya kami mendapatkan laporan mengenai keberadaan sekumpulan pemuda yang diduga membawa senjata tajam dan hendak tawuran. Kami langsung mendatangi lokasi dan melakukan penggeledahan.”

Dari hasil penggeledahan, polisi menemukan berbagai senjata tajam dan peralatan memanah. “Saat dilakukan penggeledahan, kami menemukan senjata tajam. Dari tangan para pelaku terdapat sejumlah senjata tajam dan peralatan memanah, sehingga langsung kami amankan.”

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *