Duka Kembali Menimpa Keluarga Pekerja Migran Indonesia
Duka kembali menyelimuti keluarga pekerja migran Indonesia (PMI) setelah dua orang pekerja migran asal Bali dikabarkan meninggal dunia di luar negeri. Kadek Agus Winarta (23), seorang PMI asal Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, ditemukan meninggal dunia di Jepang. Sementara itu, Ni Komang Dewantari (31), asal Dusun Beluhu Kangin, Desa Tulamben, Kabupaten Karangasem, juga meninggal dunia di Turki.
Kadek Agus Winarta: Meninggal Dunia di Gudang Perusahaan
Winarta ditemukan tergantung di gudang perusahaan yang berlokasi di Prefektur Chiba, Jepang. Ia adalah seorang PMI yang baru beberapa bulan bekerja di luar negeri. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Buleleng, Putu Arimbawa, membenarkan kabar duka ini.
Berdasarkan dokumen resmi yang diterima pemerintah Indonesia, Winarta dinyatakan meninggal dunia akibat kekurangan oksigen atau tercekik. Namun, penyebab pasti kematian masih dalam penyelidikan pihak kepolisian setempat. “Kepolisian Togane, Prefektur Chiba masih melakukan penyelidikan. Jadi belum bisa dipastikan penyebab kematian yang bersangkutan,” ujar Arimbawa.
Winarta awalnya berangkat ke Jepang sebagai peserta program magang di sektor perikanan selama tiga tahun. Masa magang tersebut berakhir sekitar September 2025. Setelah kontrak berakhir, biasanya peserta magang pulang ke Bali. Namun, Winarta memilih untuk langsung bekerja di Jepang pada perusahaan berbeda. Ia menandatangani kontrak kerja resmi pada Oktober 2025.
Nahasnya, belum genap tiga bulan bekerja, Winarta ditemukan meninggal di gudang milik perusahaan tempatnya bekerja. Peristiwa ini diketahui pada Minggu, 21 Desember 2025 lalu. Akibat libur panjang akhir tahun di Jepang, proses pemulangan jenazah baru bisa dilakukan pada Jumat (9/1).
“Proses pemulangan jenazah difasilitasi oleh KBRI Tokyo, bekerja sama dengan pihak perusahaan dan agen penyalur tenaga kerja,” imbuh Arimbawa. Jenazah Winarta tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sekitar pukul 17.30 wita. Disnaker Buleleng dan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Bali turut mendampingi pihak keluarga yang menjemput.
Setelah proses serah terima, jenazah dibawa pulang ke rumah duka. Tiba di Desa Gitgit sekitar pukul 22.00 wita.
Ni Komang Dewantari: Pesan Terakhir yang Mengiris Hati
Sementara itu, duka masih menyelimuti keluarga Ni Komang Dewantari. Di mata keluarga, ibu dua anak tersebut dikenal sosok pekerja keras hingga mengadu nasib kerja di luar negeri untuk memperbaiki ekonomi keluarga.
Paman dari Komang Dewantari, I Wayan Guntur, mengungkapkan bahwa keponakannya itu berangkat bekerja ke Turki sekitar 5 bulan lalu. “Dia itu bekerja mengadu nasib dengan bekerja di Turki untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Dia orangnya baik sekali,” ungkap Guntur.
Dewantari bekerja sebagai terapis di Turki sementara suaminya bekerja sebagai sopir yang sering mengangkut sayuran di Singaraja. Ia meninggalkan dua orang anak yang masih kecil, masing-masing kelas 5 SD dan kelas 2 SD.
Jenazah Dewantari sudah dimakamkan di Setra Tulamben kemarin (Sabtu 10/1). Pihak keluarga mengaku tidak mengetahui secara pasti apa penyebab meninggalnya Dewantari. Informasi yang diperoleh hanya menyebutkan jika jenazah ditemukan di pantai, Selasa (23/12/2025) lalu. Jenazah yang tiba, Kamis (8/1) sudah dalam keadaan bekas dilakukan autopsi.
“Hasil autopsinya belum keluar lengkap, hanya dijelaskan tidak ada tanda-tanda kekerasan,” ungkap dia. Dewantari sempat menelepon keluarganya di Tulamben. Dalam komunikasi tersebut, ia mengaku sangat merindukan kedua anaknya yang masih duduk di bangku SD. Ia juga mengungkapkan rasa tidak betah bekerja di Turki dan mengatakan ingin segera pulang ke Bali.
Setelah komunikasi terakhir tersebut, korban tidak lagi bisa dihubungi. Nomor telepon selulernya mendadak tidak aktif, hingga akhirnya pada 25 Desember 2025 keluarga menerima kabar dari pihak KBRI jika Dewantari ditemukan meninggal dunia di pesisir pantai di wilayah Turki.
Ungkapan rindu dan keinginan untuk kembali berkumpul bersama keluarga itu menjadi pesan terakhir yang diingat keluarganya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











