Peristiwa Nelayan Tenggelam di Bangka Belitung: Sejumlah Tragedi yang Mengguncang Masyarakat
Perairan Bangka Belitung, yang dikenal sebagai sumber kehidupan bagi ribuan nelayan, juga menjadi tempat terjadinya berbagai tragedi kecelakaan laut dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai peristiwa tenggelamnya kapal nelayan, baik di sungai maupun laut lepas, mencatat data korban yang beragam, mulai dari meninggal dunia hingga berhasil diselamatkan melalui operasi SAR.
Tragedi di Sungai Lenggang, Maret 2025
Pada bulan Maret 2025, seorang nelayan bernama Asiran (51) dilaporkan tenggelam di Sungai Lenggang, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur. Kejadian ini terjadi pada Jumat (7/3/2025), sekitar pukul 14.35 WIB, saat Asiran sedang mencuci perahu di tepi sungai. Rekan korban sempat berupaya memberikan pertolongan, namun derasnya arus sungai membuat korban tidak dapat diselamatkan. Akhirnya, Asiran dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
KM Osela Tenggelam, Agustus 2025
Pada bulan Agustus 2025, sebuah peristiwa besar terjadi di perairan Karang Mardalena, utara Pulau Gelasa, Kabupaten Bangka Tengah. Kapal nelayan KM Osela tenggelam setelah dihantam gelombang tinggi sekitar pukul 04.00 WIB. Kapal tersebut dinakhodai Hamzah (45) dan membawa 8 anak buah kapal (ABK). Hamzah berhasil selamat setelah terombang-ambing di laut selama empat hari dan ditemukan di perairan Dusun Tuing, Desa Mapur, Kabupaten Bangka, Senin (18/8/2025).
Dari delapan ABK, tiga orang berhasil diselamatkan, yaitu Hamzah (45 tahun), Rizki (22), dan Niko (30). Dua ABK lainnya, Rizki (22) dan Niko (30), berhasil diselamatkan Kapal Tugboat TB PPKR9 pada Selasa (19/8/2025). Keduanya ditemukan terapung dengan bantuan gabus sejauh 7 mil laut dari lokasi ditemukannya Hamzah. Namun, enam ABK lainnya masih hilang, yakni Yogi (20), Taufik (27), Salim (32), Mances (30), Abi Mayu (18), dan Jordi (25).
Kapal Bagan Tenggelam di Pulau Penanas, September 2025

Pada bulan September 2025, kecelakaan laut kembali terjadi di perairan Pulau Penanas, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Sebuah kapal bagan mengalami pecah di bagian belakang akibat menabrak karang cabang, menyebabkan kapal miring dan hampir tenggelam. Berkat laporan cepat warga dan respons Tim SAR Gabungan, seluruh korban berhasil diselamatkan. Kelima nelayan yang selamat adalah Sabile (57), Gusman (34), Ardi (18), Saipul (28), dan Amik (22).
KM Rahma Jaya Tenggelam di Karang Antu, Desember 2025
Pada bulan Desember 2025, kapal nelayan KM Rahma Jaya tenggelam di Perairan Karang Antu, Kabupaten Belitung Timur, Senin (8/12/2025), akibat cuaca buruk. Satu nelayan bernama Randruk (65) berhasil diselamatkan setelah meminta pertolongan melalui radio. Tim SAR Gabungan menemukan korban pada Selasa (9/12/2025) dini hari di perairan Pulau Buku Limau dan segera mengevakuasinya ke Puskesmas Manggar.
Kapal Karam di Perairan Pantai Bembang, Desember 2025
Insiden terbaru terjadi di Perairan Pantai Bembang, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, Selasa (30/12/2025). Sebuah kapal nelayan karam diduga akibat gelombang tinggi dan cuaca ekstrem. Tiga nelayan yang berada di kapal tersebut hingga sore hari belum ditemukan, masing-masing Afan (48), Marhan (45), dan Agus (35). Salah satu korban sempat melakukan panggilan video kepada rekannya dan mengabarkan kapal mengalami kerusakan sebelum akhirnya hilang kontak.
Rekapitulasi Data Korban Nelayan 2025
Secara keseluruhan, data korban kecelakaan laut sepanjang tahun 2025 mencakup:
– Meninggal dunia: 1 orang
– Hilang: 11 orang
– Selamat: 7 orang
Total korban terdampak kecelakaan laut sepanjang rangkaian peristiwa ini mencapai 19 nelayan. Rentetan kejadian tersebut menegaskan tingginya risiko yang dihadapi nelayan, terutama saat cuaca ekstrem melanda perairan Bangka Belitung. Aparat SAR dan pemerintah daerah terus mengimbau nelayan agar memprioritaskan keselamatan, memantau informasi cuaca, serta memastikan kelayakan kapal sebelum melaut.
Tragedi-tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa keselamatan pelayaran nelayan masih menjadi persoalan serius. Cuaca ekstrem, keterbatasan alat keselamatan, serta kondisi kapal yang tidak selalu prima menjadi faktor utama tingginya risiko kecelakaan laut. Otoritas SAR dan pemerintah daerah terus mengimbau nelayan untuk memperhatikan prakiraan cuaca, memastikan alat komunikasi berfungsi, serta menggunakan pelampung saat melaut. Namun bagi keluarga korban yang kehilangan, angka-angka dalam statistik ini adalah luka yang belum tentu sembuh oleh waktu.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











